Sunday, October 13, 2013

Kembali

Suatu ketika di siang menjelang sore, aku mengunjungi rumahku tiga tahun lalu. Rumah bernama ruang seni rupa itu masih terasa sama, dan manusia di dalamnya masih terasa seperti keluarga. Dan aku bahagia bisa pulang pada mereka.

Suatu masa itu, aku menyusuri lorong rumahku tiga tahun lalu. Rumah bernama SMP itu masih terasa sama. Cahaya matahari yang menyusup di antara terali pagar masih terasa hangat di kulitku. Aku bahagia bisa pulang.

Suatu hari itu aku mengintip ke dalam rumahku satu tahun lalu. Rumah bernama ruang PKn itu tetap sama, walau tanpa jiwa-jiwa ceria yang mengisi bangkunya. Walau tanpa celoteh riang kita, rumah tetap rumah. Dan aku bahagia bisa pulang. 

Namun kepulanganku terasa kurang. Seakan ada satu detil yang hilang dari kunjunganku. Seakan ada yang berubah, namun aku tak tahu apa. Aku terus berpaling, namun tak kutemukan apa yang hilang. Hingga lelah ku menengok, aku sadar apa yang kurang. Aku sadar, rumah keempatku yang tidak bisa kukunjungi.

Rumah itu adalah jiwa. Jiwa angkatan kesepuluh. Jiwa rexasta pravoira. Rumah itu adalah tawa 212 anak, jeritan riang, teriakan ramai, dan rinai celoteh kita. Rumah itu adalah kebersamaan kita. Rumah itu, adalah kita. Dan jelas aku tidak bisa pulang ke rumah yang ini. Rumah ini hancur. Rusak. Terbengkalai. Sehingga tak terasa rumah lagi. Rumah terpenting, namun paling rapuh. Paling mudah hancur. Karena hanya butuh waktu dan melupakan untuk menghancurkannya. Seperti sekarang.

Sunday, September 8, 2013

Surat lagi

Haloh

Tau nggak? Di sini ada seseorang yang begitu mirip denganmu. Dia berkacamata juga, suka tertawa juga, dan kalau panas wajahnya berubah merah. Persis kamu kan? Dia juga penuh inisiatif, ngotot, dan penuh canda. Dia membuatku selalu ingat kamu, walaupun kamu di sana dan aku di sini. Kamu tahu? Hari ini ia mengenakan jas, sebagaimana kamu dua tahun lalu. Kalian sama-sama terlihat bahagia. Namun sayangnya, dia bukan kamu. Dan hanya dengan kamu aku bisa bahagia sepenuhnya.

Kamu tahu? Aku setiap hari berusaha menepis figurmu dari hidupku. Aku berusaha kembali menjadi aku sebelum bertemu kamu. Ternyata sulit ya, untuk melupakan? Kamu tertanam begitu dalam, hingga sulit melepaskan. Menyayangimu seperti menggenggam sebuah kawat berduri. Semakin kugenggam, semakin banyak darah yang mengalir. Dan kala aku berusaha melepas, terasa amat perih, saat dan sesudahnya. Aku muak dengan kawat berduri. Aku ingin menggenggam kain sutera saja. Namun, Allah tidak menganugerahiku kemampuan untuk mencintai seorang 'kain sutera'. Ia hanya memberiku cinta yang begitu besar untuk seorang 'kawat berduri'.

Kadang aku berpikir, apakah kamu ingat padaku? Apakah pernah, kamu mengobrol tentang SMP tercinta ini dan ketikanya teringat padaku? Pernahkah kau menceritakan diriku pada orang lain? Karena aku begitu sering menyebut namamu, mendeskripsikan kamu, dan berusaha begitu keras terlihat membencimu. Because if you lie long enough, it'll become the truth. I hope if i pretend to hate you long enough, it'll come true.

Tapi, ternyata terlalu sulit untuk membencimu. Kamu terlalu berpengaruh, dan aku terlalu mencintaimu untuk bisa melepaskanmu. Kalimat tadi terdengar begitu gombal dan murah. Namun tak apa, sekali saja aku terdengar aneh untukmu. Mungkin, ini terakhir kalinya aku menulis untukmu. Mungkin, inilah saatnya untuk melupakan kamu. Mungkin, inilah waktuku untuk mencari cinta yang baru, yang seperti kain sutera. Karena aku muak dengan kawat berduri sepertimu

Tuesday, July 23, 2013

Perjalanan Kami di Nev9Erland

Why do I post this? Because I missed you guys too damn much. Because I hate growing apart from this class. Because I feel like everyone starts to forget about us. This is my writing, of a class who will never grow up.
-------

9E, kelas yang tersembunyi di balik pepohonan taman kecil. Kelas yang ceria, yang tawanya berdering hingga kejauhan walaupun selalu saja ada tawa yang terlambat. Kelas yang ramai, dengan segala celotehan 39 anak yang tiada ujungnya. Kelas ini, bernama Nev9Erland, yang diambil dari nama pulau terkenal tempat tinggal Peter Pan. Dalam kisah itu, siapapun yang menginjakkan kaki di Neverland tidak akan tumbuh dewasa. Namun, kelas ini memiliki kisah yang berbeda. Kisah yang akan kuceritakan padamu sekarang.

Kelas ini pertama bertemu, pada pagi hari menjelang siang di suatu masa yang tidak begitu kuingat. Masih kuingat jelas, bagaimana ramainya obrolan kita pada hari itu. Beberapa terlihat kaget, melihat teman sekelas mereka untuk satu tahun ke depan. Namun, ada juga yang bahagia. Mungkin ada yang sedih, namun itu jelas tidak tampak. Peristiwa yang terdengar begitu remeh seperti ini, mengawali perjalanan 39 anak di Nev9Erland.

Hari-hari setelahnya pun terasa bagaikan kisah yang indah. Belajar bersama setiap harinya, bersama 38 sahabat di sisi kita. Tiap hari kita bertukar tawa dan canda, walau kadang juga tangis pilu kala kita teringat, perpisahan besar itu begitu dekat. Namun, bukankah tidak ada yang akan tumbuh dewasa di neverland? Pikiran itu kutepis jauh-jauh, memberi ruang lebih banyak untuk kebahagiaan dan kebersamaan kita yang begitu hangat. Entah ketika jam sekolah, paket, atau apapun. Ketika kita bersama, rasanya tak ada yang lebih sempurna. Bayangkan, 39 orang. 39 kepribadian yang berbeda, suara yang berbeda, pendapat yang berbeda, melebur menyatu menjadi sebuah kelas yang penuh kenangan. Mulai dari tawa Abdur yang selalu terlambat, tawa Radhia yang lebih unik dibanding yang lain. Virza dan Dhio yang ceplas-ceplos, Seno dan Naufal yang pendiam. Aza yang bersuara lantang, maupun Abby (ebi) yang suaranya lembut. Kita semua berbeda, kita tak ada yang sama. Namun satu yang mengikat kita, kehangatan Nev9Erland setiap harinya ketika kita bersama.

Kenangan yang membekas di hati kami begitu banyak. Jika kucoba untuk menuliskan semua, tentu kertas ini tak akan cukup. Satu tahun bersama telah memberikan kami semua begitu banyak kenangan. Salah satunya tentu adalah ketika foto buku kenangan. 9E, ingat betapa hebohnya kita? Ingat kostum-kostum kita? Ada 2 Peter Pan, 2 Wendy yang cantik, Lost Boys, Fairies, dan masih banyak lagi. Kita beramai-ramai berfoto di Kebun Raya Bogor. Ingat betapa rusuhnya kita? Di siang yang terang itu kita bersama-sama menangkap kenangan yang akan selamanya tersimpan sebagai kenangan masa-masa bahagia bersama 9E. Di kali lain, seluruh siswi 9E memasak nasi goreng bersama-sama. Mereka bekerja bersama, berusaha membuat makanan yang enak. Betapa rusuhnya mereka kala itu, mengingat sedikitnya nasi namun perlu memberi jatah setiap anak di kelas. Akhirnya mereka berhasil membuat nasi goring yang enak, walau dengan jatah tiap orang yang begitu sedikit.

Satu hal lain yang membuat kelas ini berbeda, adalah figur misterius bernama Mimin. Orang ini bersembunyi di balik akun twitter kelas dan berhasil menyatukan kami untuk keputrian hari itu. Sejak itu, banyak yang mempertanyakan identitasnya. Tiga anak perempuan membuat program untuk menangkap wajah di balik topeng bernama 'Mimin'. Mereka bertekad akan menangkap Mimin sebelum refleksi. Walaupun gagal, namun mereka puas. Mimin membuka jati dirinya ketika refleksi, kerja keras mereka tidak sia-sia. Lagi pula, seluruh program aneh ini telah berhasil membawa kelas menjadi semakin dekat dengan cara yang menyenangkan.

Kelas ini memiliki figur ibu yang sangat hebat. Ia dengan cekatan mengurus kelas ini sendirian, mengingatkan belajar, mewarnai PA dan WS kita sehingga tak pernah muram. Selain itu, ia juga berperan sebagai teman, bahkan menyisakan waktu untuk berusaha mengenali kita secara personal. Terima kasih Ibu Ruslina, ibu kami yang baik, yang cantik dan selalu berpakaian warna-warni, secerah hari-hari kami yang diwarnai beliau. Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih. Karena sesungguhnya hanya itu yang dapat kami berikan, sebagai balasan jasa ibu yang begitu besar. Jangan lupakan kami, 39 anak ibu di tahun 2012-2013, karena kami tidak akan melupakan ibu. Sampai jumpa lagi, Bu Rusli, kami sayaaaang sekali sama ibu.

9E, kisah kita akan segera mencapai kalimat terakhirnya. Artinya kita, para karakternya harus segera pergi meninggalkan Nev9Erland. Tahu kah kamu, bahwa satu-satunya cara meninggalkan pulau ini adalah terbang? Maka terbanglah, teman-temanku. Raih cita-cita yang tergantung di antara bintang, pergilah lebih tinggi dari langit. Namun, walau betapa jauh kau sudah terbang, jangan pernah lupakan kelas kita. Jangan pernah lupakan satu tahun penuh keajaiban kita. Karena mungkin, benang-benang takdir 39 anak ini akan kembali terpintal menjadi satu. Ketika itu, kita kan kembali bertemu dan mengulang masa kejayaan kita sebagai satu kelas yang hebat.

Tapi jika boleh memilih, bisakah kita tetap bersama selamanya? Sebagaimana di cerita itu, dimana kita tak akan tumbuh dewasa dan tetap bersama-sama.

See you next time, Nev9Erland. Don't forget us, and never, ever grow up.

Wednesday, July 10, 2013

Seribu Kali

Kisah kita abadi selamanya, dalam sebuah buku bersampul merah.

***

Sayang sayang
Seribu kali sayang
Untuk kalian yang mewarnai
Halaman buku bersampul merah

Untuk kalian 
yang menemani tawaku
Sekaligus tangis pilu
Selama tiga tahun ini

Untuk wajah-wajah familiar
Pemilik-pemilik tanda tangan
Yang menghiasi buku ini
Aku hanya ingin berkata

Sayang, sayang, seribu kali kuucapkan sayangku untuk kalian

Terima kasih Terima kasih
Beribu terima kasihku
Untuk seluruh kisah dan memori
Yang telah kalian berikan padaku

Untuk dia yang menyusuri jalan
Yang sama denganku setiap hari
Terima kasih, sepuluh ribu terima kasih
Untuk kebahagian dan canda yang kau bagi denganku

Untuk dua manusia
Yang menggandengku selama satu tahun
Dan berusaha untuk tidak melepasnya
Satu tahun kemudian
Terima kasih, sepuluh ribu terima kasih
Untuk tidak melepaskan tanganku

Untuk satu orang paling absurd
Hanya ia yang bisa mencampur aduk hatiku
Terima kasih, sepuluh ribu terima kasih
Untuk telah memberiku kesempatan mengecap cinta

Pada 211 manusia
Yang takdirnya terpintal bersama
selama tiga tahun tak terpisah
Aku ingin berkata

Terima kasih, sepuluh juta terima kasihku untuk kalian, yang telah membuat kehidupanku lebih berharga

Maaf, maaf, berpuluh juta maaf
Kepada mereka yang kulukai
Yang tak sengaja kuingkari janjinya
Atau kulupakan perannya

Kepada hati-hati yang tetap sabar
Menghadapi kerasnya arus perubahan
Menatap perpisahan dengan berani
Walaupun dalam hati ketakutan

Takutkah kalian pada perpisahan ini?
Pada sesuatu yang mereka sebut 'akhir'?
Apa kalian pernah merasa ragu
untuk melepaskan pegangan tangan kita
yang telah terjalin tiga tahun?

Aku begitu takut. Sebab buku ini seperti gerbang yang mengunci kepergian kita. Buku kenangan. Pertanda bahwa para pemegangnya hanya bisa mengenang sekarang, karena takdir mencabik kebersamaan mereka dan waktu mencabut ingatan tentangnya, menjadikan 212 anak saling melupakan.

Sayang sayang seribu kali sayang
Terima kasih terima kasih sepuluh ribu terima kasih
Maaf maaf berpuluh ribu maaf
Karena kisah kita hanya sampai di sini
Dan aku tidak bisa mengucapkan puluhan ribu kata lagi
Karena waktuku hanya cukup
Untuk satu lagi kata untuk kalian

Sampai jumpa, sampai jumpa, walau hanya satu sampai jumpa, kuyakin kita akan kembali berjumpa. 

Saturday, June 1, 2013

Friday, May 31, 2013

A letter to you


To that little dork

Who is not so little anymore

With thorns all around him
Just like the stem of a rose

Boy, I don’t think I’m capable

Of continuing my days that lacks of you

Seriously, I clearly think it’s unbearable

To think of living without you

You’re like that drop of sun

That brighten up my life

You gave me all those fun

Also warmth for my soul

Little dork

You taught me how to make friends

You taught me how to keep them

And you taught me about love

That it is the stupidest element of all

I can’t disagree with that

Since I’m bound to get stupid too
Because of loving you

Days became weeks, it was so fast
Weeks going on months, woah too fast
Finally, months becomes a year

Why can’t anybody slow it down?
I hate going fast

My fella
You have told me everything

About friendship and its antics

But you haven’t tell me one thing

How do friends say good bye

When they’re gonna part forever?

Now I’m lying here on my bed

I can feel that my pillow is soaked
Because maybe, just maybe

We’re close to the last day

That we will ever see each other

They say fate were like threads

Where one can tangle with another

Our threads are already tangled so close
Who have a heart to bring it off?

My one year partner in crime

I only need to say one sentence

I hope you already know what it is

But I’m still gonna say it anyway

‘I love you, be happy.’

Au revoir, friend. Remember, end is another way for a beginning. For now, we’re sailing the different sea, that is of course, until we meet again in some kind of harbor in life. When that day comes, I’ll still love you.

See you later, it's never good bye. It's see you later. So I'll see you later then.

Sunday, May 5, 2013

Kamu, lagi-lagi kamu

Aku bertemu denganmu, namun tidak menyapa. Semua kata yang sudah kukarang bagai menguap ketika mencapai lidah. Kata-kata sesimpel "Hai, apa kabar?" terasa begitu sulit untuk diucapkan. Aku berpikir untuk melambai, tapi sayang, aku tahu kamu pasti tidak akan melihatnya. Sebagaimana kamu tidak melihatku. Aku hanya angin untukmu, dan memang tidak sepantasnya angin bicara. Dan sekali lagi, pertemuan kita hanya diisi tatapan-tatapan sendu dariku.

Aku bertemu denganmu, kau tahu apa efeknya bagiku? Kata sahabatku, aku gemetar. Kakiku seakan akan menolak perintah otak untuk tetap tegak, ia siap menjatuhkanku ke lantai yang dingin. Mataku selalu mencuri-curi kesempatan untuk menatapmu, walau hanya untuk sepersekian detik. Dan kalau kamu menatapku balik, aku akan membuang muka. Itu bukan untuk mengacuhkan kamu, sungguh. Aku akan berbalik ke arah sahabatku, menarik tangannya, dan berbisik, "dia melihatku." Tidakkah kamu lihat, hanya butuh satu lirikan untuk mengirimku ke jurang kasmaran seperti sapi yang sedang jatuh cinta.

Kamu membalas pesanku. Tahukah kamu berapa lama aku menjerit bahagia? Aku menjerit selama 7 menit. Jeritanku diredam oleh bantal, sekaligus untuk menyembunyikan wajahku. Aku menatap layar handphoneku lagi dan kembali merasa bahagia. Satu baris kata, bisa langsung membuatku gila. Aku tersenyum lebar, begitu lebar. Kau tahu apa yang kujeritkan?

"Dia tidak menganggapku tiada!"

"Dia menyadariku!"

"Dia peduli, walau hanya beberapa detik!"

Sunday, April 7, 2013

Tanda tanya

Segitu tidak pentingnya kah aku untukmu? Hingga merelakan beberapa bytes memori handphonemu untuk menyimpan nomorku saja kamu tidak rela.

Padahal, nomormu bertengger manis di contact list ku. Di bagian atasnya, sebagaimana seharusnya.

Segitu tidak pedulinya kah kamu? Sampai tidak berpikir sedikitpun untuk membalas surat-surat dan kartu posku.

Padahal, kartu pos itu kubuat sampai larut, berusaha keras mencari kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku di atas kertas. Padahal, 5 surat berbentuk ajaib itu kubuat hingga pukul 12 malam. Karena aku ingin memberikan hadiah paling unik untukmu.

Segitu anehnya kah aku? Sampai-sampai menyorotkan dua manik cokelatmu padaku saja terasa begitu repot bagimu.

Padahal, dua mataku yang tak secokelat milikmu selalu setia mengikuti gerakanmu.

Kenapa sih? Kenapa kamu begitu jahat? Padahal aku sudah jatuh cinta padamu. Padahal aku sudah berusaha begitu keras, sangat keras untuk mendapatkanmu. Padahal kamu sudah menahan kakiku, agar tidak meninggalkanmu. Untuk apa? Untuk apa susah-susah menyakitiku, membuatku makin jatuh, memberi harapan, kalau kamu tidak berniat melihatku?

Saturday, April 6, 2013

Wallpaper

Kamu tahu apa wallpaper handphone ku?

Foto kita berdua, dengan tulisan yang serupa dengan doaku yang kubisikkan tiap sujud.

"I'm gonna get you, before we drift further apart. We'll be together, happy, free, and loved."

Mengapa? Karena aku akan mengaminkan tiap membacanya. Karena aku menatap layar handphone jauh lebih lama daripada menatap hal lain. Karena salah satu cara mewujudkan mimpi adalah menuliskannya. Karena mungkin hanya foto itu saja yang memuat kita berdua bersama. Karena aku sering kangen sama kamu, jadi tiap kangen tinggal kubuka handphone ku. Karena aku serius menginginkan bisa bersamamu. Karena aku tidak ingin melupakan hari itu. Karena aku tidak mau kamu melupakanku.

Dan karena aku menyayangimu.

Tuesday, March 26, 2013

It's always been you

It was when I said your name, I realize that this lump in my chest is your doing. It was when I saw you smile, I realize what had gotten me to like you. It was always your crummy jokes and sarcasm that I love, never your calm and looks. It was always the conversations we share, the laughter and sneers we do. All the games and yelling, and tears with crying, I shared so much with you. I wish I can share this feelings as well, maybe then you'll stop being so sad.

I miss us. How we share all the jokes, the sarcasm, the bad comments. I hate how time flies, taking you away from me or taking me from you. I miss talking with you. I miss our long sass battle that ends with apologises and guilt. I miss switching glasses, and how I whine about yours is too thick for me. I know you'll ask me to shut it, but maybe I want you to ask me to shut it. I miss being done with the exam and lay my head on the table, knowing that I will see you mirroring my action. We will throw knowing glances and smiles, sometimes meaningless small talks or little games that I'll probably won. I always wanted to win, because then I will see your pouting face.

I miss all of that, all of the warm conversations. And above all, I miss you, you stupid aipom.

Monday, March 25, 2013

Surat untuk aipom

MONGKIII!

Kangen bangeet! Sebenernya tadi baru ketemu tapi ya gitu lah hehehe. Aku gatau nih mau nulis apa, cuma mau bacot aja soalnya bosen terus lagi pengen banget ngomong sama kamu.

Btw tau gak kenapa nama surat ini "Surat Untuk Aipom"? Soalnya.... Aku kan suka panggil kamu monyet albino, terus waktu itu aku sama Dhiya lagi ngomongin pokemonnya orang-orang. Terus karena Aipom itu unyu dan monyet jadi aku putusin pokemon kamu aipom HAHAHA gapenting dadah-_- tadinya mau infernape tapi terlalu badass buat makhluk lemah kayak kamu.

Oiyaa, kan di surat sebelumnya aku bilang takut move on kan? Gajadi kok, masih setia sama aipom albino ini hehe. Abis dia jahat, lebih jahat dari kamu dulu haa gakuaaat. Jangan sedih dong, aku gajadi move on. Iyasih pasti kamu gamau disukain orang gajelas kayak aku. Udah jelek, bodoh, freak lagi. Maaf deh gajadi move on, tapi kan ginian gabisa diatur :(. Mending kamu yg move on aja ke aku gimana? *plakk*

Hujan

Hujan, hari ini hujan
Menghalangi cahaya jingga
Yang biasanya menelusup ke kamar
Dan menjadikannya terang

Diam, hanya itu yang kulakukan
Menatap langit kelabu
Mengharap bisa mengintip oranye
Yang ada dibaliknya

Aku suka hujan, sungguh
Namun kali ini waktu yang ia pilih
Teramat sangat salah
Tidak boleh ada hujan dikala senja

Aku sangat amat suka senja
Senja adalah waktu yang ajaib
Ketika siang dan gelap bertemu
Dan menjadikan jingga

Dan lagi, tidak kah kamu ingat? Kamu memberiku harapan dikala senja.
Tidak kah kamu tahu? Ketika itu aku menyadari betapa kamu adalah seorang yang berharga bagiku.
Kamu masih tidak mengerti?
Sejak senja satu maret, aku sadar bahwa sudah lama aku jatuh padamu.

Friday, March 15, 2013

Bilah Merah - Cosmical

Bilah Merah

Memang apa yang kamu dapat
Dengan terus menoreh luka untukku?
Mungkin kamu merasa lebih baik
Setelah melihatku menderita

Apa yang kamu rasakan
Ketika tangisku jatuh dan luka menganga
Apakah kamu merasa lega?
Atau malah, bahagia yang tak terhingga

Jika memang merahnya darahku
Yang bisa membuatmu bahagia
Maka terus mainkan bilahmu
Setidaknya aku bisa berkata jujur

"Aku sudah membahagiakanmu sebelum pergi bersama kematian."

Cosmical

Rasanya aku ingin masuk ke lubang hitam
Tentu dengan membawa kamu seorang
Karena satu detik di dalamnya
Terasa bagai selamanya

Rasanya ingin kuajak kau menaiki komet
Melewati Jupiter, Saturnus, Mars
Hanya bersamamu dan mungkin buku
Di atas sebuah bintang berekor

Aku merasa seperti meteor yang bodoh
Sudah jatuh begitu lama dan jauh
Bergesekan dengan atmosfirmu dan terluka
Namun tak kunjung mencapai permukaan

Aku takut, ketika aku tiba nanti
Sudah tidak ada yang tersisa dariku
Lantaran sudah habis karena atmosfirmu
Meteor yang tak menjadi meteorit

Monday, March 11, 2013

Surat untuk monyet albino

11 Maret 2013

Untuk mongki,

Hai mongkii!! Kangen banget niih udah lama gak nulis ginian. Setres bgt kan dibantai ujian terus kayak gini T_T masa gak abis-abis sih huu jiwa aku lelah.

Btw, how's kartul? Aku gak nonton kamu presentasi sih hehe. Semoga bagus ya, keliatannya sih punya kamu bagus. Eh masa pas aku presentasi LCDnya mati! Apa banget kan, baru juga sampe tujuan penelitian. Miris nih emang kalo orang sial disuruh presentasi. Akhirnya aku presentasi gak pake slide. Two weeks of struggling with powerpoint, comes off unused *badluck myra*. Tapi bagusnya pertanyaannya gampang yeayy!

Mong, aku takut nih. Takut move on dari kamu. Aku gak mau, aku maunya kamu. Aku maunya monyet odong super ngeselin yang dingin, bukan orang ini. Kalo sama orang ini aku pasti jauh lebih terluka dari suka sama kamu, soalnya dia udah punya. Kamu kan kayak aku, pathetic lovesick dorks. Makanya, jadian aja yuk, so we can be dorks together :)

Ngarep ya? Hahaha nggak kok. Semua bisa terjadi kalau kita berusaha. Aku lagi berusaha, lagi mencoba biar kamu liat aku lagi. Berhasil gak? Haha nggak ya? Ngapain juga kamu liat cewek jelek kayak aku. Maaf, aku emang harusnya optimis tapi kayaknya kenyataan tuh.... Sedih banget. Ya nggak mong?

Dari,
A. S. A

Friday, March 1, 2013

Selamat 1 Maret

Jatuh cinta padamu begitu sakit, begitu pedih. Seperti luka-luka itu, yang perih ketika diobati. Jatuh untukmu laksana jatuh dalam arti sebenarnya. Sakit, keras, dan sepertinya ada yang patah. Mungkin hatiku, aku tak tahu.

Kuharap kita tidak perlu bertemu. Supaya aku tidak jatuh cinta dan menginginkanmu. Supaya aku tidak terluka begini. Jika begitu, mungkin satu tahun yang menyakitkan ini tidak perlu ada.

Selamat satu tahun melukaiku, semoga kamu puas. Semoga kamu sadar aku terluka. Semoga akhirnya kamu melihatku lagi. Begitu lama waktu yang sudah terlewat sejak itu, namun aku masih merasa sama. Kamu pun belum berubah pikiran, masih mengejarnya dan membuatku terluka.

Selamat satu tahun menyakiti satu-satunya perempuan yang mencintaimu dengan tulus. Mungkin akan ada lagi yang mencintaimu, namun tidak akan ada lagi aku yang lain. Kamu sempurna bagiku, dengan segala kekuranganmu. Dan aku cukup yakin tidak ada lagi yang berpikir begitu. Aku sayang kamu, hari ini, satu tahun lalu, mungkin untuk kedepannya juga. Tolong lihat aku, walaupun aku sama sekali tidak cantik atau manis, namun aku tulus memberikan hatiku.

Saturday, February 23, 2013

Hujan

Hujan jatuh di depan rumahku
Menetes satu demi satu
Mendinginkan luka di hatiku
Yang jelas ditoreh olehmu

Airmata bergulir turun bersama hujan
Melewati pipiku dan menets ke tanganku
Dan akhirnya pergi lewat telunjuk dan
Bergabung dengan genangan air di kakiku

Aku harus mengatakan kata-kata itu padamu
Kata-kata yang mengerikan
Yang aku tepis keberadaannya dan kenyataannya
Yang selalu ku jauhi dan kuhindari

Tapi nyatanya tak ada yang berubah
Aku masih menunggu dan terluka
Kau masih bahagia dan buta
Dan itu artinya aku harus berkata padamu

Sampai jumpa, cinta pertama
Bukan, bukan selamat tinggal
Cintaku masih ada, tak semudah itu sirna
Walaupun kau terus menolak keberadaannya

Sampai nanti, wahai yang terkasih
Sampai takdir mempertemukan kita lagi
Semoga waktu itu tak akan lama
dan cintaku masih tersisa

Au revoir, mon ami
Berbahagialah di tempatmu sana
Di sana tidak akan ada seorang 'aku'
Yang mengganggumu dengan cinta yang menyebalkan

Apa katamu? 'semoga kau juga bahagia?'
Bodoh, aku? Bahagia?
Tanpa kamu aku tidak bisa tersenyum
Tanpa kamu bahagia itu hanya ada di dongeng sebelum tidur

Hei, jangan cemberut begitu
Yang penting kamu bahagia kan?
Aku sangat ingin membuat kamu bahagia
Walau itu artinya membuat mata ini meneteskan airnya

Tidak, aku tidak apa-apa
Ini pilihanku, melukai diriku demi kamu
Aku rela menjadi hunian ribuan luka
Jika itu artinya kamu bahagia

Aku hanya minta satu hal padamu
Yaitu sedikit tempat di relung memorimu
Tempatku bisa bergelung dengan damai
Agar kamu selalu ingat padaku

Hujan masih mengguyur rumahku
Beriringan dengan langit yang bergemuruh
Guntur menyambar, aku menjerit
"Aku tak ingin berpisah dengamu!!"

Friday, February 22, 2013

HAI maaf bgt tulisan 'Untuk 10' gagal bgt! gue aja gak nangis nulisnya hehe-_- maaf samasekali gasedih soalnya susah bgt nulis tentang kenangan 212 orang hehe :)

sebenernya sih guenya aja yg bodoh........

Untuk 10

3 tahun Rexasta bersama-sama, tapi rasanya tidak selama itu
Banyak hal yang sudah kita lakukan, dan kita harap bisa lakukan bersama
Banyak tawa dan senyum yang kita bagi bersama
Juga tangis yang kita deraikan
Banyak kenangan indah kita bersama 
yang kalau kita bahas akan membuat airmata jatuh.
Kita akan menangisi waktu, bagaimana ia begitu cepat berjalan
Kita akan menangisi kesempatan yang terbuang
Janji-janji yang tidak bisa ditepati,
Dan teman-teman yang mungkin hanya sampai di sini.

Inget waktu pertama kali kita masuk?
Inget gimana kita merasa labschool begitu keras?
Dulu kupikir 3 tahun di sini seperti dipenjara
Sekarang, aku berharap punya 3 tahun lagi bersama-sama
Inget hari-hari kelam MOS, tanpa teman yang kita kenal?
Pertama kali kita bersalaman, berkata "Halo, nama lo siapa?"
Tanpa tahu, orang itu mungkin akan menjadi sahabat kita
Untuk selamanya.

Kelas 7, langkah pertama di Labschool.
Teman yang sama sekali baru, lingkungan yang berbeda
Tugas, tugas, dan ulangan.
Sedikit-sedikit ada acara, sedikit-sedikit buat nametag
Tapi, masa-masa itu yang akan kita ingat selamanya.
Ingat pemilihan nama kelas? waktu itu temanya band
Cobra S7Arship, Pi7Bull, Ow7 City, Co7Dplay, dan Rolling s7onEs
Ingat kaos kelas kita? Dan betapa bangganya kita memakainya?
Ingat betapa bahagianya kita menerima kaos angkatan?
Ingat ACEX dan Labspart 2011?
Stand pertama kita, kebanggaan kelas kita.
Satu kelas berkerja sama untuk menyusun stand dan menang.
Ingat bagaimana bangganya kita dulu, merasakan kelas kita menyatu
demi satu stand yang berdiri dengan bangga, walau hanya sehari.

Satu tahun kita berakhir, perpisahan pertama kita.
"Pengen ulang MOS, Kalam, SSN, dan semuanya."
Begitu kita tulis di twitter masing-masing.
PA terakhir, ucapkan terima kasih pada wali kelas
Teman saling memeluk, berkata
"Gue gak mau pisah."
Ingat bagaimana kita berharap sekelas dengan si A, atau tidak mau dengan si B
Refleksi kita, semua bahagia.
Kita masih terlalu muda, terlalu naif, terlalu buta dengan perihnya berpisah.

Kelas 8, dimana kita jatuh cinta dengan kelas masing-masing.
Dimana kelas 8A sampai E merasakan ikatan dekat dengan sekelas.
Tahun kedua, masa-masa bahagia.
OSIS MPK pada puncak jabatannya, panitia angkatan dipilih, lomba ini dan itu.
Dan puncak dari segalanya, ACEX 2012, Wonderland.
Semuanya, panitia atau tidak berjuang mewujudkan ACEX yang sempurna.
Dan benar, ACEX kita adalah ACEX terindah yang pernah kulihat.
Rasanya semua begitu sempurna. Rasanya segalanya untuk selamanya
Sayangnya, waktu berkata lain.

Hari-hari terakhir kelas 8, saat aku mengerti arti berpisah
Tahu lagu 'Sahabat Kecil'?
Dulu aku merasa itu lagu yang manis dan bahagia.
Tapi, kelas 8 ku mengubahnya, aku yakin kelas 8 kalian juga,
Kelas kita begitu solid, dekat, dan  bahagia, sayang untuk berpisah.
Segala begitu pas, begitu absolut.
Hingga datanglah minggu terakhir pembelajaran.
Aku masih ingat bagaimana kita bernyanyi terima kasih bapak atau ibu untuk hampir tiap guru.
Aku masih ingat, rasa sedih ketika silat untuk terakhir kali.
Dulu sering sekali aku merasa malas untuk silat, benci memakai seragamnya.
Tapi ketika aku menyimpannya, mungkin tak akan kupakai lagi, aku menangis.
Dan aku mengerti, apa yang dimaksud Ipang ketika ia menulis,
Rasanya semua, begitu sempurna. Sayang untuk mengakhirinya.

Lalu, PA terakhir, dan refleksi
Semuanya berusaha terlihat bahagia dan tersenyum
Semuanya menyembunyikan tangis-tangisnya.
Semuanya merasa sayang untuk menodai hari bahagia terakhir dengan airmata
Walau akhirnya segalanya terbuka juga.
Banyak yang menangis dan terisak, berpelukan dan bersalaman,
"Nggak mau. gue nggak mau pisah!"
"Maaf ya, gue selama ini nggak bener."
Dan penyesalan-penyesalan lainnya berderai dari mulut kita.
Kenangan satu tahun kembali terputar.
Anak yang paling nakal, menangis paling keras
Anak yang pendiam, terisak di pundak temannya
Dan kita menyadari, betapa perihnya rasa berpisah.

Akhirnya di sinilah kita, langkah terakhir kita di SMP ini.
Derap-derap kita yang selalu bergema di Jum'at pagi akan sirna
karena ini lari pagi terakhir kita.
Lucu, lari pagi terakhir ini mengawali 'terakhir'-'terakhir' yang lain.
Belajar terakhir, Ulum terakhir, Ujian terakhir,
Pertemuan terakhir.

Hei, tapi kita masih punya waktu kan?
Masih 60 hari lebih menjelang Ujian Nasional, kita masih bersama.
Aku masih di sini, kamu masih di sini.
Rexasta Pravoira belum berakhir.
Mungkin banyak yang sudah tahu SMA mana yang mereka masuki
Mungkin ada yang sudah tahu mereka berpisah dengan sahabatnya
Dan pasti sudah banyak yang sadar,
Perpisahan besar itu begitu dekat.

Ini berbeda dengan naik kelas.
Pemisah kita bukan hanya sebatas tembok
Mungkin jalanan, bahkan kota, atau negara.
Kita nggak akan 'masih bisa ngobrol pas solat'
Tahun depan masjid kita bukan ini, solawat kita bukan ini.
Kita terpisah. Kita berakhir.
Dulu, aku begitu ingin cepat mendengar bel pulang.
Sekarang, aku harap ada di dunia dimana bel pulang tidak pernah berbunyi
dan Rexasta tidak akan berpisah.
Dongeng Rexasta di SMP Labschool Kebayoran sudah akan berakhir
Aku tahu, kisah manis kita tak berujung
Tapi mengucapkan selamat tinggal tetap sakit.
Aku tahu kita masih bisa berhubungan
Tapi apa artinya kalau tidak bertemu tiap hari?
Rasa reuni dengan sekolah bersama itu berbeda.
Kita nggak akan cuma kebagi 6 kelas

Rex, kalian takut nggak?
Kalian takut nggak sama perpisahan?
Sama takdir, dan waktu yang akan merobek kita?
Karena gue begitu takut. Sangat takut.
Karena bersama 'perpisahan' datang 'melupakan'

Kalian nggak akan lupa kan?
Kalian nggak akan lupa sama Rexasta kan?
Sama ACEX kita, sama Dasakasatriya?
Sama 212 orang yang rusuh dan nggak jelas?
Kenangan tentang Rexasta akan selalu hidup di hati kita
Maka, ketika hari itu tiba, hari dimana kita tidak bisa tetap bersama
Dan hanya kenanganlah jalan kita untuk berjumpa
Berjanjilah untuk menyimpan Rexasta di hati kalian,
di mana kita bisa selalu bersama
Karena di sanalah, dongeng kita tetap berjalan.
Kau hanya perlu menutup mata,
dan melukiskan kebahagiaan kita.

10, dongeng kita sudah mau berakhir.
Goresan terakhir akan ditoreh
Kata-kata 'mereka hidup bahagia untuk selamanya' tinggal sedikit lagi.
Pastikan apa yang kamu tinggalkan di dongeng ini memang pantas ada di sini.
Lihat buku kita untuk terakhir kalinya,
sebelum akhirnya ia tertutup
dan kita para tokoh sekaligus penulisnya terhapus.
Lihat bagaimana kisah 212 orang menyatu
Menjadi satu dongeng luar biasa
dongeng yang indah
dongeng yang berbeda
dongeng kita
dongeng ini ada judulnya
judulnya bagus lho
judul kisah kita di Labschool
Kisah yang sempurna
Kisah yang penuh kenangan
dari Rian, ke Pandu, Djati, Nadhif, Dzi sampai Aquila sampai balik ke Rian lagi
Semuanya berbeda, semuanya menulis bersama
Kisah kita, Angkatan kita, Keluarga kita

Rexasta Pravoira
2010 - 

Saturday, February 16, 2013

Kita dan Semesta

Seandainya semesta mau hari ini kita bertemu, maka kita pasti bertemu.

Tapi sepertinya semesta masih sibuk dengan urusan lain. Ia masih belum memiliki waktu untuk mengurusi dua remaja bodoh semacam kita. Mungkin, semesta sedang mempertemukan seorang ayah dengan anaknya. Mungkin karena itu aku di rumah dan melukis sementara kamu di sana berjalan-jalan.

Bila semesta mau, saat ini juga kamu bisa mengetuk pintu rumahku.

Tapi sepertinya semesta punya hal lain untuk diatur, karena nyatanya aku tidak mendengar ketukan atau 'assalamualaikum' dari kamu. Mungkin hal itu sangat darurat, jadi semesta menahan dulu untuk mempertemukan kita. Bila memang benar begitu, tidak apa-apa kita tidak bertemu sekarang. Siapa tahu semesta sedang merencanakan senja yang indah dimana kita akan bersama di bawah siraman cahaya jingganya.

Aku tahu semesta akan menarik kita bersatu, tapi persisnya kapan hanya dia yang tahu.

Aku tidak keberatan menunggu kamu. Walaupun sudah cukup lama, tapi aku masih merasakan hangat yang sama ketika melihatmu. Aku masih menemukan senyum di bibirku ketika kita bertemu. Dan kupu-kupu masih setia bermain dalam perutku setiap kau berbicara padaku. Hei, dulu kau pernah mengatakan bahwa bertemu orang yang dicintai itu geli kan? Kamu benar ternyata, aku selalu merasa begitu ketika melihat kamu.

Aku tahu kita akan bertemu. Sungguh, aku yakin tentang itu. Tapi, sampai saat itu tiba, sampai ketika semesta memutuskan, maukah kamu membalas pesanku?

Thursday, January 31, 2013

Mongki?

Mongki,

Ajari aku untuk membencimu. Ajari aku untuk tidak jatuh makin dalam untuk senyum bodohmu. Ajari aku untuk bisa melupakan kamu.

Karena apapun yang kulakukan, kamu mustahil untuk dibenci. Aku belum berhasil melupakan kamu. Dan setiap hari aku menyadari bahwa aku makin terjebak dalam senyum nggak jelasmu.

Mongki, aku capek.

Kamu cuek sama aku, kayak aku itu cuma udara. Kamu lupain aku, apa itu benar? Karena aku, nggak bisa lupa sama kamu. Aku lelah rindu padamu, bila kamu tidak akan membalasnya. Aku terjebak dalam kabut bodoh ini, dan aku tak yakin aku ingin keluar. Segalanya terasa tidak pasti. Absurd. Aku tahu hal-hal eksak bukan bidangku tapi untuk saat ini saja, aku berharap ada semacam rumus untuk mengetahui isi hatimu.

Mari sama-sama berharap rumus itu tidak melibatkan angka 3,14.

Mongki,

Aku salah apa sama kamu sampai kamu nggak mau lihat aku lagi?

Anak Senja

Sebenarnya, ke mana anak laki-laki yang berselimut cahaya senja itu?

Anak itu, yang waktu itu mendatangiku setelah aku selesai latihan. Waktu itu sudah sore, dan aku sendirian menunggu penjemputku. Aku masih ingat, saat itu aku duduk di depan kantin sambil memeluk kedua kakiku. Sore yang suram, mengingat aku sudah ditinggal sendirian oleh teman satu grupku.

Banyak orang berlalu lalang. Sungguh, aku kenal mereka semua. Tapi mereka tidak melihatku. Mereka cuma lewat, seaakan aku tidak terlihat. Aku menghela napas dan bersembunyi di balik kakiku, dan memeluknya lebih erat.

Saat itu, aku benar-benar merasa tidak terlihat.

"Eh, Amyra?"

Panggilan itu, panggilan yang sangat familiar. Suara itu, terasa hangat ketika berjalan melewati relung telingaku. Aku kenal siapa yang memanggilku, bahkan tanpa perlu mengangkat kepala. Aku tak akan lupa, satu-satunya orang yang keukeuh memanggilku dengan embel-embel huruf A didepannya. Kuangkat kepalaku menatapnya, bahagia akhirnya ada yang melihatku dan bisa menemaniku. Di sanalah ia, menatapku penasaran dengan cahaya jingga di sekitarnya.

"Kok ada lo di sini?"

Aku tergelak dalam diam, sungguh seperti dia untuk bertanya hal yang sudah jelas. Kutawarkan seulas senyum, yang ia balas dengan cengiran khasnya. Asimetris. Senyumnya memang begitu, selalu asimetris. "Abis latihan, tapi yang lain udah pulang." Makanya, temani aku, aku menambahkan dalam hati. Namun aku berharap ia mengerti.

"Ooh... Oke." Dia menjawab setengah hati. Gerak-geriknya seperti ingin mengatakan sesuatu. Mulutnya kembali terbuka, namun ia menutupnya kembali. Kami bertukar gumaman selamat tinggal dan sebagainya, sebelum ia melangkah pergi meninggalkanku.

Lagi-lagi sepi, lagi-lagi sendiri.

Aku kembali memeluk kaki, kali ini kepalaku beristirahat di puncak lutut. Matahari senja memancarkan warna jingga yang hangat ke setiap sudut sekolah yang sangat kucintai ini. Aku menghela napas dan mengeluarkan hanphone ku, berusaha menghibur diri sendiri.

"Masih di sini?"

Suara itu lagi. Sial, lebih baik kau duduk di sini bersamaku daripada berlalu lalang seperti bebek. Atau kau takut 'dia' melihatmu? Atau kau malu? Entahlah.

"Ya. Seperti yang kamu lihat." Aku menjawab tak acuh, memperhatikan layar kecil yang ada di tanganku. Hening kembali menyelimuti, dia masih di sana, dan aku masih terlalu keras kepala untuk mengajaknya duduk bersama.

"Eh? Kan nggak boleh bawa bb." Ia berusaha membuat topik pembicaraan. "Sini, aku sita."


"Bukan bb." Sungutku sambil menunjukkan benda di tanganku padanya. Usaha yang menyedihkan untuk memulai pembicaraan, dan terlihat begitu menyebalkan di mataku. Tidak bisa apa ia dengan gentle duduk menemaniku? Atau setidaknya pilihlah topik yang lebih baik daripada berusaha menyita handphoneku.

Ia terdiam lagi dan pergi menjauh, tanpa kembali lagi.

Sekarang entah ke mana anak itu pergi. Mungkin dia hilang dalam dirinya sendiri, atau mungkin dia sudah selesai berurusan denganku. Aku masih sering melihat raganya, namun dia seperti orang asing sekarang. Dia tidak pernah menyapaku lagi, apalagi bercanda atau mengobrol. Mungkin aku berbuat salah, entahlah. Mungkin juga dia sedang memainkan sebuah trik menyebalkan padaku. Yang manapun yang benar, aku cuma menginginkan satu hal,

Tuhan, tolong kembalikan anak laki-laki berselimut senja itu.

Thursday, January 24, 2013

Things that I can't say but they can sing

"Alam sadarku, alam mimpiku, semua milikmu andai kau tahu, rahasia hatiku." -Rahasia hati

"I never thought, we were two peas in a pod, 'till you suddenly bloom then I knew, that I always loved you." -Honey and the Bee

"To be with you is all that I need." -I Will Fly

"No baby don't hang up, so I can tell you what you need to know." -Payphone

" 'cause I remember every sunset, I remember every word you said, we will never gonna say goodbye, singing laladadada." -Summer Paradise

"Kimi ga suki de, aishittekurete." (I'm in love with you, you gave me love) -Ai Kotoba

"I'll let go, as soon as you do. See, I know we're not through." -Miss You

"But darling where 're you going? It's so cold outside. I know that I can't be concerned, but you're still in my life." -I'll be Your Sunset

"And it's been a while but, I still feel the same." -Kiss Me

"I know that god made another one of me to love you better than I ever will." "Everything's great but everything's short." "So am I close to you anymore (It's over) and is there chance that we'll work this out?" -U N I

"Why can't you see, you belong with me." -You Belong With Me

"Well you drive me crazy half the time, the other half I'm only trying to let you know of what I feel is true." -I'm only me when I'm with you

" 'cause I love you from the very first day." -Superman

"I wanna save your heart tonight." -Save You

"I'd send a postcard to you dear, 'cause I wish you were here." "When I think of you, I don't feel so alone." "As many times as I blink I'll think of you." "And I'll forget the world that I knew, but I swear I won't forget you. Oh if my voice could reach back to the past, I'd whisper in your ear, oh darling I wish you were here." -Vanilla Twilight

"My heart is yours" -Ours

"If you're broken I'll mend you." "And out of all these things I've done, I think I love you better now." "I think my braces are breaking, and it's more than I can take" -Lego House

"I'm in love with you, and all your little things." -Little Things

"I'm not perfect, but I swear I'm perfect for you." "It's not a miracle you need, believe me. Yeah, I'm no angel I'm just me, but I will love you endlessly." -Endlessly

"Oh how I missed you. I missed you, and I wish you'd stay." "And you are miles away, but yesterday you were here with me." -Autumn Leaves

"Moments in time, I'll find the words to say, before you leave me today." -Moments

"Lihat sekarang siapa yang tetap tepati janji, hanya aku." - lagu unknown di globe am-_-v

"Izinkanlah aku 'tuk s'lalu pulang lagi, jika rindu telah tak terobati." -Jogjakarta

"If love is what you need, a soldier I will be." -Angel With A Shotgun

"I'd rather live with broken bones than lay here all on my own like a lovesick fool." -Lovesick Fool

"If I'm louder, would you see me?" "You saved me, but when you leave it's gone again." -More Than This

"I will always be yours, forever and more, through the push and the pull." "I found more than it's hard to desert it."
"I will write you this song to get back what's ours." -Ever Enough

"Should've gave you all my hours, when I had the chance." -When I Was Your Man

"I hope that you see right through my walls, I hope that you'd catch me 'cause I'm already falling, I've never let a love get so close." -Arms

"We eclisped in a conversation, as the words they passed us by. With you, we can be the only ones here." -Intoxicated

"If our love is tragedy, why are you my remedy? If our love is insanity why are you my clarity?" -Clarity

"Your love, it's the strongest thing I know." -Diary

"I fell in love, I'm most stupid of all." "Through all this stuff, he has a heart." "Love doesn't last forever, some would've said." -Learn to Say Goodbye

"It seems like it was just yesterday, we were in love. Why is it falling apart?I'm never one to walk away, but I had enough and it's breaking my heart.  " -Bad

"What would you do if I told you that I la-la-la-la-love you, do if I said it tonight?" -Lala

"They say 'just grow up!' but they don't know us." -Here's to Never Growing Up

"If I could change the world overnight, there'll be no such thing as goodbye." "We'll get the chance we deserve." -Almost Is Never Enough

"I found you, and you're my only truth." -I Found You

"I keep my friends close, we couldn't be sold." -Grow Up and Be Kids