Thursday, January 31, 2013

Anak Senja

Sebenarnya, ke mana anak laki-laki yang berselimut cahaya senja itu?

Anak itu, yang waktu itu mendatangiku setelah aku selesai latihan. Waktu itu sudah sore, dan aku sendirian menunggu penjemputku. Aku masih ingat, saat itu aku duduk di depan kantin sambil memeluk kedua kakiku. Sore yang suram, mengingat aku sudah ditinggal sendirian oleh teman satu grupku.

Banyak orang berlalu lalang. Sungguh, aku kenal mereka semua. Tapi mereka tidak melihatku. Mereka cuma lewat, seaakan aku tidak terlihat. Aku menghela napas dan bersembunyi di balik kakiku, dan memeluknya lebih erat.

Saat itu, aku benar-benar merasa tidak terlihat.

"Eh, Amyra?"

Panggilan itu, panggilan yang sangat familiar. Suara itu, terasa hangat ketika berjalan melewati relung telingaku. Aku kenal siapa yang memanggilku, bahkan tanpa perlu mengangkat kepala. Aku tak akan lupa, satu-satunya orang yang keukeuh memanggilku dengan embel-embel huruf A didepannya. Kuangkat kepalaku menatapnya, bahagia akhirnya ada yang melihatku dan bisa menemaniku. Di sanalah ia, menatapku penasaran dengan cahaya jingga di sekitarnya.

"Kok ada lo di sini?"

Aku tergelak dalam diam, sungguh seperti dia untuk bertanya hal yang sudah jelas. Kutawarkan seulas senyum, yang ia balas dengan cengiran khasnya. Asimetris. Senyumnya memang begitu, selalu asimetris. "Abis latihan, tapi yang lain udah pulang." Makanya, temani aku, aku menambahkan dalam hati. Namun aku berharap ia mengerti.

"Ooh... Oke." Dia menjawab setengah hati. Gerak-geriknya seperti ingin mengatakan sesuatu. Mulutnya kembali terbuka, namun ia menutupnya kembali. Kami bertukar gumaman selamat tinggal dan sebagainya, sebelum ia melangkah pergi meninggalkanku.

Lagi-lagi sepi, lagi-lagi sendiri.

Aku kembali memeluk kaki, kali ini kepalaku beristirahat di puncak lutut. Matahari senja memancarkan warna jingga yang hangat ke setiap sudut sekolah yang sangat kucintai ini. Aku menghela napas dan mengeluarkan hanphone ku, berusaha menghibur diri sendiri.

"Masih di sini?"

Suara itu lagi. Sial, lebih baik kau duduk di sini bersamaku daripada berlalu lalang seperti bebek. Atau kau takut 'dia' melihatmu? Atau kau malu? Entahlah.

"Ya. Seperti yang kamu lihat." Aku menjawab tak acuh, memperhatikan layar kecil yang ada di tanganku. Hening kembali menyelimuti, dia masih di sana, dan aku masih terlalu keras kepala untuk mengajaknya duduk bersama.

"Eh? Kan nggak boleh bawa bb." Ia berusaha membuat topik pembicaraan. "Sini, aku sita."


"Bukan bb." Sungutku sambil menunjukkan benda di tanganku padanya. Usaha yang menyedihkan untuk memulai pembicaraan, dan terlihat begitu menyebalkan di mataku. Tidak bisa apa ia dengan gentle duduk menemaniku? Atau setidaknya pilihlah topik yang lebih baik daripada berusaha menyita handphoneku.

Ia terdiam lagi dan pergi menjauh, tanpa kembali lagi.

Sekarang entah ke mana anak itu pergi. Mungkin dia hilang dalam dirinya sendiri, atau mungkin dia sudah selesai berurusan denganku. Aku masih sering melihat raganya, namun dia seperti orang asing sekarang. Dia tidak pernah menyapaku lagi, apalagi bercanda atau mengobrol. Mungkin aku berbuat salah, entahlah. Mungkin juga dia sedang memainkan sebuah trik menyebalkan padaku. Yang manapun yang benar, aku cuma menginginkan satu hal,

Tuhan, tolong kembalikan anak laki-laki berselimut senja itu.

No comments:

Post a Comment