Ada seorang gadis kecil meringkuk di sebuah relung rindu. Badannya mengigil dan matanya tak henti menderaikan tangis. badannya yg kurus terus bergetar, isakannya membuat melodi yang menyayat hati. Entah bagaimana ia bisa sampai ke sini. tidak ada yang pantas berada di relung rindu. tempat ini terlalu menyakitkan untuk siapapun. Sayangnya, terlalu sulit untuk keluar.
Yang menyebabkannya begini jelas seorang laki-laki. Seseorang yang berhasil meruntuhkan tembok di sekitar hatinya dan memanggilnya keluar. seseorang yang melihat dirinya di dalam. seseorang yang tak peduli bagaimana ia tak seperti gadis kebanyakan. bagaimana ia memilih nike bukannya a little thing she needs, gramedia bukan colorbox, internet bukan mall. Bahkan, menurutnya menarik bagaimana gadis ini kecanduan pada website yang sama dengannya, bagaimana anak laki-laki ini tak peduli dengan kata-kata kotor yang melompat dari mulut gadis ini karena dia sendiri menyumpah sebanyak lelaki manapun. Anak laki-laki itu butuh gadis ini, kata semua orang. Gadis itu tak percaya dan hanya tertawa. tapi satu hari mengubah segalanya.
Setelah hari itu ia terus berharap dan berharap. sayangnya dia mengecewakan gadis itu. gadis itu menangis. lama sekali. samapi ia tiba di depan relung rindu. tanpa ragu ia berkata,
"Aku ingin masuk ke relung rindu!"
suaranya begitu yakin dan percaya diri. seakan dia tahu apa yang ada di balik pintu didepannya, tetapi tetap ingin masuk.
"Apa kau yakin? relung ini hanya untuk orang-orang yang cukup merindu seseorang hingga ia --"
Kata-kataku dipotong dengan cepat oleh gadis itu.
"-- melupakan dunia dan menyakiti diri sendiri. Aku tahu itu. Aku tahu semua tentang relung rindu dan aku ingin masuk!"
"kau terlalu muda untuk merasakan rindu yang terlalu dalam" aku menjawab, tak tega.
"umur bukan segalanya"
"tapi kau sangat kecil"
"rinduku jauh lebih besar!"
teriakannya menggema di telingaku. tak ada yang begitu ingin memasuki relung hingga seperti gadis ini. kebanyakan hanya menangis dan menyebut sebuah nama berulang-ulang. tak ada yang seperti ini. umurnya kutaksir baru 14 tahun. siapa yang begitu tega menyakiti hati serapuh ini? Akhirnya aku menyerah. dan membuka pintu.
"kau tahu apa yang harus kau lakukan?" aku bertanya
"menyebutkan namaku dan nama orang yang kurindu kan?"
"Ya. kau tahu apa yang akan terjadi berikutnya?"
"Semua perasaan lain selain rindu dan sakit akan terserap keluar dariku hingga orang itu datang dan membalas rinduku?"
"benar. kau siap"
gadis itu tampak bimbang sedikit lalu mengangkat kepalanya.
"ya"
"baiklah, silakan mulai"
gadis itu menarik napas dan berkata,
"Namaku Feirina. Cuma itu yang perlu kamu tahu"
Dengan sekali sentak aku mengambil semua perasaanya dan berkata
"Lanjutkan"
"Lanjutkan"
mata gadis itu sekarang kosong tetapi ia berkata dengan pasti.
"Agra Syahreza Rahman"
Bahkan setelah semua emosi dalam jiwanya kuambil, keyakinannya tak berkurang. Penderitaan apa yang telah dia lalui? Aku menahan diri untuk bertanya. Toh, aku bisa melihat ke dalam emosinya nanti. Kukembalikan rindu dan sedihnya, Seketika pertahanannya runtuh dan dia menangis. Dia terisak begitu hebat hingga tubuhnya berguncang. Mulutnya terus menyebutkan satu nama
"Agra.."
***
Sudah 5 bulan Feirina berada di Relung Rindu. Ia terus mengigil walaupun sudah tak menangis. Bisikannya berubah dari 1 kata menjadi 1 kalimat. Kalimat yang seperti mantra. Yang terus diulang-ulang
"Agra aku kangen"
Sungguh Agra ini benar-benar kejam. Apa dia tidak sadar dia telah menjebloskan Feirina ke relung rindu? Jahat sekali! Tidakkah ia pernah berpikir, satu kali saja tentang seseorang selain dirinya? Kapan ia berpikir dan memutuskan untuk tidak menjadi egois dan menjemput Feirina?
Agra memang lelaki bodoh
Baru kusadari ada ketukan di pintu. Ah, aku terlalu tenggelam dalam pikiranku hingga aku tak menyadari keadaan di sekitarku. Aku beranjak dari kursi yang sedari tadi kududuki sambil memperhatikan Feirina dan pergi untuk mengintip siapa yang mengetuk pintu. Ternyata seorang anak laki-laki. Ia berambut gelap dan wajahnya yang berkulit putih agak menyiratkan keraguan. Dari memori-memori dan emosi Feirina aku mengenalinya.
"Apa kau Penjaga Rindu?" kata anak itu.
"Ya"
Akhirnya dia datang
"Namaku Agra, aku datang untuk Erin"
Aku tahu kau laki-laki menyebalkan yang melukai Feirina dasar bodoh. Akhirnya kau sadar Feirina menyayangimu ya? Lama sekali
"Erin?" kataku pura-pura tak tahu. Sekaligus berharap dia salah tempat. Aku benar-benar sedang tak ingin bertemu manusia egois yang berani menjebloskan seorang gadis tak bersalah ke Relung Rindu.
"Feirina"
Ah ternyata benar kau lelaki bodoh itu.
Sikapnya yang telah berubah santai sangat menyebalkan di mataku. Memang Erin mainannya yang hilang dan bisa diambil dengan mudah? Tanpa sadar, aku berteriak, "Segitu mudahnya kau mengambil kembali Erin?! Apakah kau sadar bagaimana rasa sakit yang ia tanggung karena kamu?! Bahkan tanpa perlu ke sini pun ia sudah cukup menderita!" Bahkan setelah semua teriakanku Agra masih terlihat tenang. Menjijikan. Aku mengambil satu langkah untuk berdiri tepat di sebelah kanannya dan berbisik dengan suara yang bergetar,
"Kau benar-benar jahat, Agra Syahreza. Sungguh, kau benar-benar jahat."
Diluar dugaan, dia menangis,
"Ya, aku tahu aku memang jahat! Aku bodoh dan terus mengejar seseorang tanpa menyadari aku menyakiti Erin! Bagaimana bisa aku tak sadar padahal Erin selalu berada disampingku! Hanya saja ia selalu tertawa dan tersenyum menutupi sakit hatinya. Demi tuhan, aku telah membuang cinta seseorang yang berharga demi orang lain yang sama sekali tak sebanding!"
Isakannya membahana di ruangan remang ini. Seharusnya, jika Erin berada pada kondisi normal ia bisa mendengar teriakan Agra.
"Aku akui aku sayang Erin. Sejak dulu, sekarang dan selamanya. Kumohon, izinkan aku menjemputnya. Aku tidak tahan tanpa Erin. Aku ingin Erin yang dulu. Kumohon..." Isaknya hingga habis ditelan sunyi.
Aku berpikir sejenak dan membuka pintu Relung. Kedua mata Agra langsung menyorotkan keterkejutan dan kebahagiaan. Seperti yang kulihat dalam emosi dan memori Erin. Aku menghela napas dan berkata "Jangan sia-siakan dia Agra, sulit menemukan hati yang begitu tulus menerima seseorang."
Agra berlari ke dalam Relung dan memanggil Erin. Tiba-tiba isakan Erin berhenti dan matanya kembali bercahaya.
"Ah? Agra?" ia berkata bingung.
Agra tertawa kecil diantara air matanya, "Hai Erin"
"Kenapa ada lo?"
"Gue udah sadar, Rin. Gue tau siapa yang gue pilih antara Nerine atau elo"
"Terus?"
"Gue pilih Feirina! temen gue yang selalu ada untuk gue! temen gue yang bisa tertawa biar gue bahagia walau dia hancur! Elo Rin, gue pilih lo!" Agra menjawab dengan sikap ceria dan terus terangnya yang biasa.
"Rin, aku kangen"
Dan dengan 3 kata itu, kedua sosok itu menghilang dari Relung Rindu. Selamat jalan Erin dan Agra, kalian sudah bebas dari sini. Aku pun kembali ke kursiku, menunggu penghuni berikutnya yang akan datang padaku.
Sungguh Agra ini benar-benar kejam. Apa dia tidak sadar dia telah menjebloskan Feirina ke relung rindu? Jahat sekali! Tidakkah ia pernah berpikir, satu kali saja tentang seseorang selain dirinya? Kapan ia berpikir dan memutuskan untuk tidak menjadi egois dan menjemput Feirina?
Agra memang lelaki bodoh
Baru kusadari ada ketukan di pintu. Ah, aku terlalu tenggelam dalam pikiranku hingga aku tak menyadari keadaan di sekitarku. Aku beranjak dari kursi yang sedari tadi kududuki sambil memperhatikan Feirina dan pergi untuk mengintip siapa yang mengetuk pintu. Ternyata seorang anak laki-laki. Ia berambut gelap dan wajahnya yang berkulit putih agak menyiratkan keraguan. Dari memori-memori dan emosi Feirina aku mengenalinya.
"Apa kau Penjaga Rindu?" kata anak itu.
"Ya"
Akhirnya dia datang
"Namaku Agra, aku datang untuk Erin"
Aku tahu kau laki-laki menyebalkan yang melukai Feirina dasar bodoh. Akhirnya kau sadar Feirina menyayangimu ya? Lama sekali
"Erin?" kataku pura-pura tak tahu. Sekaligus berharap dia salah tempat. Aku benar-benar sedang tak ingin bertemu manusia egois yang berani menjebloskan seorang gadis tak bersalah ke Relung Rindu.
"Feirina"
Ah ternyata benar kau lelaki bodoh itu.
Sikapnya yang telah berubah santai sangat menyebalkan di mataku. Memang Erin mainannya yang hilang dan bisa diambil dengan mudah? Tanpa sadar, aku berteriak, "Segitu mudahnya kau mengambil kembali Erin?! Apakah kau sadar bagaimana rasa sakit yang ia tanggung karena kamu?! Bahkan tanpa perlu ke sini pun ia sudah cukup menderita!" Bahkan setelah semua teriakanku Agra masih terlihat tenang. Menjijikan. Aku mengambil satu langkah untuk berdiri tepat di sebelah kanannya dan berbisik dengan suara yang bergetar,
"Kau benar-benar jahat, Agra Syahreza. Sungguh, kau benar-benar jahat."
Diluar dugaan, dia menangis,
"Ya, aku tahu aku memang jahat! Aku bodoh dan terus mengejar seseorang tanpa menyadari aku menyakiti Erin! Bagaimana bisa aku tak sadar padahal Erin selalu berada disampingku! Hanya saja ia selalu tertawa dan tersenyum menutupi sakit hatinya. Demi tuhan, aku telah membuang cinta seseorang yang berharga demi orang lain yang sama sekali tak sebanding!"
Isakannya membahana di ruangan remang ini. Seharusnya, jika Erin berada pada kondisi normal ia bisa mendengar teriakan Agra.
"Aku akui aku sayang Erin. Sejak dulu, sekarang dan selamanya. Kumohon, izinkan aku menjemputnya. Aku tidak tahan tanpa Erin. Aku ingin Erin yang dulu. Kumohon..." Isaknya hingga habis ditelan sunyi.
Aku berpikir sejenak dan membuka pintu Relung. Kedua mata Agra langsung menyorotkan keterkejutan dan kebahagiaan. Seperti yang kulihat dalam emosi dan memori Erin. Aku menghela napas dan berkata "Jangan sia-siakan dia Agra, sulit menemukan hati yang begitu tulus menerima seseorang."
Agra berlari ke dalam Relung dan memanggil Erin. Tiba-tiba isakan Erin berhenti dan matanya kembali bercahaya.
"Ah? Agra?" ia berkata bingung.
Agra tertawa kecil diantara air matanya, "Hai Erin"
"Kenapa ada lo?"
"Gue udah sadar, Rin. Gue tau siapa yang gue pilih antara Nerine atau elo"
"Terus?"
"Gue pilih Feirina! temen gue yang selalu ada untuk gue! temen gue yang bisa tertawa biar gue bahagia walau dia hancur! Elo Rin, gue pilih lo!" Agra menjawab dengan sikap ceria dan terus terangnya yang biasa.
"Rin, aku kangen"
Dan dengan 3 kata itu, kedua sosok itu menghilang dari Relung Rindu. Selamat jalan Erin dan Agra, kalian sudah bebas dari sini. Aku pun kembali ke kursiku, menunggu penghuni berikutnya yang akan datang padaku.