Menetes satu demi satu
Mendinginkan luka di hatiku
Yang jelas ditoreh olehmu
Airmata bergulir turun bersama hujan
Melewati pipiku dan menets ke tanganku
Dan akhirnya pergi lewat telunjuk dan
Bergabung dengan genangan air di kakiku
Aku harus mengatakan kata-kata itu padamu
Kata-kata yang mengerikan
Yang aku tepis keberadaannya dan kenyataannya
Yang selalu ku jauhi dan kuhindari
Tapi nyatanya tak ada yang berubah
Aku masih menunggu dan terluka
Kau masih bahagia dan buta
Dan itu artinya aku harus berkata padamu
Sampai jumpa, cinta pertama
Bukan, bukan selamat tinggal
Cintaku masih ada, tak semudah itu sirna
Walaupun kau terus menolak keberadaannya
Sampai nanti, wahai yang terkasih
Sampai takdir mempertemukan kita lagi
Semoga waktu itu tak akan lama
dan cintaku masih tersisa
Au revoir, mon ami
Berbahagialah di tempatmu sana
Di sana tidak akan ada seorang 'aku'
Yang mengganggumu dengan cinta yang menyebalkan
Apa katamu? 'semoga kau juga bahagia?'
Bodoh, aku? Bahagia?
Tanpa kamu aku tidak bisa tersenyum
Tanpa kamu bahagia itu hanya ada di dongeng sebelum tidur
Hei, jangan cemberut begitu
Yang penting kamu bahagia kan?
Aku sangat ingin membuat kamu bahagia
Walau itu artinya membuat mata ini meneteskan airnya
Tidak, aku tidak apa-apa
Ini pilihanku, melukai diriku demi kamu
Aku rela menjadi hunian ribuan luka
Jika itu artinya kamu bahagia
Aku hanya minta satu hal padamu
Yaitu sedikit tempat di relung memorimu
Tempatku bisa bergelung dengan damai
Agar kamu selalu ingat padaku
Hujan masih mengguyur rumahku
Beriringan dengan langit yang bergemuruh
Guntur menyambar, aku menjerit
"Aku tak ingin berpisah dengamu!!"
No comments:
Post a Comment