Sunday, May 5, 2013

Kamu, lagi-lagi kamu

Aku bertemu denganmu, namun tidak menyapa. Semua kata yang sudah kukarang bagai menguap ketika mencapai lidah. Kata-kata sesimpel "Hai, apa kabar?" terasa begitu sulit untuk diucapkan. Aku berpikir untuk melambai, tapi sayang, aku tahu kamu pasti tidak akan melihatnya. Sebagaimana kamu tidak melihatku. Aku hanya angin untukmu, dan memang tidak sepantasnya angin bicara. Dan sekali lagi, pertemuan kita hanya diisi tatapan-tatapan sendu dariku.

Aku bertemu denganmu, kau tahu apa efeknya bagiku? Kata sahabatku, aku gemetar. Kakiku seakan akan menolak perintah otak untuk tetap tegak, ia siap menjatuhkanku ke lantai yang dingin. Mataku selalu mencuri-curi kesempatan untuk menatapmu, walau hanya untuk sepersekian detik. Dan kalau kamu menatapku balik, aku akan membuang muka. Itu bukan untuk mengacuhkan kamu, sungguh. Aku akan berbalik ke arah sahabatku, menarik tangannya, dan berbisik, "dia melihatku." Tidakkah kamu lihat, hanya butuh satu lirikan untuk mengirimku ke jurang kasmaran seperti sapi yang sedang jatuh cinta.

Kamu membalas pesanku. Tahukah kamu berapa lama aku menjerit bahagia? Aku menjerit selama 7 menit. Jeritanku diredam oleh bantal, sekaligus untuk menyembunyikan wajahku. Aku menatap layar handphoneku lagi dan kembali merasa bahagia. Satu baris kata, bisa langsung membuatku gila. Aku tersenyum lebar, begitu lebar. Kau tahu apa yang kujeritkan?

"Dia tidak menganggapku tiada!"

"Dia menyadariku!"

"Dia peduli, walau hanya beberapa detik!"

No comments:

Post a Comment