Aku beterima kasih untuk tahun 2012, karena
Aku mendapat seorang kakak. Sesama penulis, sesama manusia galau, sesama penyuka menulis.
Aku bertemu 35 teman baru di pulau lain, yang membuka mataku pada kehidupan di kota dengan awan paling indah.
Aku ikut dalam ACEX 2012, acara paling sempurna yang pernah kulihat.
Aku tertawa, menangis, tersenyum, dan bermimpi setinggi langit.
Aku menyadari betapa aku mencintai dan dicintai domika8Do.
Aku berteman dan jatuh padamu, seekor monyet sampis yang menyebalkan.
Aku mendapat sahabat yang mencintai bukunya seperti aku mencintai bukuku, seorang sahabat yang berselera humor segaring aku dan kuanggap kakak, dan satu lagi manusia penuh sarkasme yang polos.
Aku bertemu kelas baru bernama nev9Erland dan teman-teman di dalamnya.
Aku belajar melepaskan seorang kakak yang hobi cengengesan mengejar mimpinya.
Aku pergi ke sekolah impian kakak yang selalu tersenyum.
Aku melewati batas yang kukira tak akan bisa kulewati.
Aku belajar untuk percaya pada sebuah mitos yang tidak begitu membumi.
Aku memiliki penjagaku sendiri.
Terima kasih 2012, untuk semua tawa dan tangis, naik dan turun, dan segalanya. 2013, be good to me :)
Monday, December 31, 2012
Sunday, December 30, 2012
Menyayangimu adalah perang
Apakah ini sudah waktunya melihat kenyataan?
Sudah waktunya aku melihat kamu dan akalku berkata padaku sendiri,
"Kamu bukan siapa-siapa buat dia.
Kamu tidak pernah spesial, seperti dia buat kamu.
Kamu cuma segores tinta di satu halaman buku kehidupannya, tidak seperti dia yang mengisi banyak halaman di buku kehidupanmu.
kamu tidak pernah lebih dari angin yang berlalu.
Myr, dia tidak menginginkan kamu. Makanya, lepaskan dia."
Hati kecilku yang keras kepala menjawab,
"Kata siapa?
Siapa yang bilang aku tidak spesial baginya?
Siapa yang berani jamin halaman yang aku isi di buku kehidupannya tidak sebanyak yang ia isi?
Siapa yang berkata padamu, angin lalu yang ini meninggalkan kesan di hati?
Siapa bilang dia tidak menginginkanmu? Jangan Myr, jangan pernah lepaskan dia!"
Aku pun berkata, "Sialan kau hati, perlukah kau berteriak?"
Tapi tidak ada yang mendengarkanku, seperti biasa. Menyayangimu adalah perang antara akal sehatku dan hati kecilku. Sejauh ini hati masih bisa menang, tapi siapa yang berani menjamin akhirnya aku memihak akal? Toh dari awal aku tidak adil dengan akal, mungkin akhirnya aku akan memihaknya.
Akal kembali berargumen,
"Kamu bukan apa-apa! kamu hanya menyakiti dirimu sendiri kalau terus berharap!
Sadarlah, semua skenario bodoh di kepalamu tak pernah menjadi kenyataan! Dia masih manusia bodoh yang sama, dia menyayangi orang lain dan bukan kamu! Bangunlah dan buka mata, sadari mimpi indahmu bersamanya tak akan terwujud. Dia sama seperti Joy, tidak akan pernah bisa kau capai. Lihat kenyataan, apakah dia masih menyapamu? Tidak Myr tidak! Dia membuangmu, mengapa kau tidak membuangnya?"
"Tahu apa kamu tentang dia?! Tahu apa kamu tentang hatinya? Itu hanya yang kita lihat, mungkin hatinya memilih kamu. Dia memang manusia bodoh, tapi siapa bilang kamu tidak sama bodohnya? kamu sendiri yang bilang jatuh padanya itu hal terbodoh yang pernah kau lakukan. Kamu tidak perlu melakukan satu lagi hal bodoh dengan membuangnya. Ini berbeda dengan saat Joy, jauh berbeda. Dia nyata, dia dekat, dia ada di depanmu. Kamu tidak perlu menghafal tangga mana yang akan dilewatinya untuk melihatnya karena Myr, for once dia nyata. Kamu begitu dekat dengan apa yang kamu inginkan. Kamu ingat senja 1 Maret? itu buktinya. Jangan buang dia, kamu tinggal perlu berjuang sedikit lagi."
"Masa bodoh dengan senja 1 Maret! Hampir satu tahun sejak itu dan tidak terjadi apa-apa! Kamu tau yang kalian punya waktu itu hanya momen. Satu fase. Setelah kamu pergi dan kembali, ia sadar bukan kamu, tapi orang itu."
"Bagaimana jika ia hanya butuh waktu?"
"Berapa banyak yang ia butuhkan? dua tahun? apa dia buta dengan sinyal-sinyal ini?!"
"Diam! diam! diam!!" Aku berteriak frustasi. "Lalu kenapa kalau dia tidak merasakan hal yang sama?! Kita sudah melewati hal seperti ini kan? Belum ada orang yang membalas perasaan-perasaan bodohku dan siapa tahu dia salah satu dari orang-orang itu? Dia itu fase! Secarik kertas dari memoriku! Dia tidak membalas perasaan ini-- dulu, sekarang, tapi kita tidak tahu untuk nanti! Aku tidak akan melepaskannya, tidak lagi. Syukur kalau ia membalas tapi kalau tidak? kita akan menangis bersama seperti dulu-dulu, merutuki satu lagi manusia bodoh yang menambah luka di hatiku. Kalau ia membalas? Heh, kujamin kita bertiga akan bahagia dan akhirnya, akal dan hati akan berhenti bertengkar" aku berhenti dan menghela napas, "Masa bodoh kalau dia butuh waktu 2 tahun, tapi aku tidak akan menunggu selama itu. Waktunya akan tiba, dan aku janji kita akan bahagia. Dengan mendapatkannya, atau melupakannya."
Monday, December 10, 2012
Aku ingin
Aku ingin jatuh cinta padamu sekali lagi
Pada senyum asimetrismu
Pada sepasang mata coklat yang berbinar
Pada dering tawa ceria
Aku ingin jatuh cinta dengan benar
Seperti yang digambarkan di novel-novelku
Seperti setiap adegan sempurna di film-film itu
Seperti itu, jatuh cinta dengan normal
Aku ingin jatuh cinta dalam kepastian
Bukan dengan asa yang renta
Atau di tengah badai yang gelap
Aku ingin jatuh dan tahu, kau disana untuk menangkapku
Aku ingin cinta tanpa airmata
Aku ingin cinta penuh tawa
Aku ingin cinta denganmu yang nyata
Bukan hanya bayang bayang malam
Pada senyum asimetrismu
Pada sepasang mata coklat yang berbinar
Pada dering tawa ceria
Aku ingin jatuh cinta dengan benar
Seperti yang digambarkan di novel-novelku
Seperti setiap adegan sempurna di film-film itu
Seperti itu, jatuh cinta dengan normal
Aku ingin jatuh cinta dalam kepastian
Bukan dengan asa yang renta
Atau di tengah badai yang gelap
Aku ingin jatuh dan tahu, kau disana untuk menangkapku
Aku ingin cinta tanpa airmata
Aku ingin cinta penuh tawa
Aku ingin cinta denganmu yang nyata
Bukan hanya bayang bayang malam
Saturday, December 8, 2012
Namamu
Ini mengerikan. Namamu tak terasa sama lagi di mulutku.
Nama yang begitu familiar, yang dulu kupanggil setiap hari, yang selalu kuhiasi dengan nada sebal karena pemiliknya yang menyebalkan, sekarang terasa aneh ketika ia bergulir dari lidahku. Apa-apaan ini? Aku tahu sudah 2 bulan sejak terakhir kupanggil namamu. So what? Ini tidak terjadi dengan nama Riana, Aca atau Eta. Ini cuma dengan nama kamu. Apa yang terjadi?
Nama yang dulu kuteriakkan karena pemiliknya mengambil bangau kertasku, sekarang terasa kosong. Dulu, aku menyebut namamu dengan nada sebal, nada tak mau kalah, nada sarkastik, bahkan dengan nada penuh simpati. Sekarang, aku sering menyebut namamu ketika sedang mengobrol namun tak ada nada apapun.
Seakan nama yang kusebutkan adalah nama seorang pejuang yang kubaca dari buku sejarah. Penting namun kubiarkan berlalu. Seakan nama itu adalah nama latin bakteri penyebab gonorhea yang selalu kuingat bukan karena perannya, namun karena sering kudengar dan kubaca. Seakan kamu hanya selembar kertas dari sebuah novel yang kubiarkan berlalu. Atau lirik lagu lama yang begitu mengena di hati namun mulai dilupakan.
Aku nggak mau. Aku nggak mau lupain kamu dan nama kamu. Kamu bukan lembaran masa laluku. Kamu rencana masa depan yang berusaha kucapai. Kamu dan namamu, dengan alasan apapun, tak akan rela kupindahkan ke dalam kotak bertuliskan 'Masa Lalu Yang Membuatku Terluka'
Nama yang begitu familiar, yang dulu kupanggil setiap hari, yang selalu kuhiasi dengan nada sebal karena pemiliknya yang menyebalkan, sekarang terasa aneh ketika ia bergulir dari lidahku. Apa-apaan ini? Aku tahu sudah 2 bulan sejak terakhir kupanggil namamu. So what? Ini tidak terjadi dengan nama Riana, Aca atau Eta. Ini cuma dengan nama kamu. Apa yang terjadi?
Nama yang dulu kuteriakkan karena pemiliknya mengambil bangau kertasku, sekarang terasa kosong. Dulu, aku menyebut namamu dengan nada sebal, nada tak mau kalah, nada sarkastik, bahkan dengan nada penuh simpati. Sekarang, aku sering menyebut namamu ketika sedang mengobrol namun tak ada nada apapun.
Seakan nama yang kusebutkan adalah nama seorang pejuang yang kubaca dari buku sejarah. Penting namun kubiarkan berlalu. Seakan nama itu adalah nama latin bakteri penyebab gonorhea yang selalu kuingat bukan karena perannya, namun karena sering kudengar dan kubaca. Seakan kamu hanya selembar kertas dari sebuah novel yang kubiarkan berlalu. Atau lirik lagu lama yang begitu mengena di hati namun mulai dilupakan.
Aku nggak mau. Aku nggak mau lupain kamu dan nama kamu. Kamu bukan lembaran masa laluku. Kamu rencana masa depan yang berusaha kucapai. Kamu dan namamu, dengan alasan apapun, tak akan rela kupindahkan ke dalam kotak bertuliskan 'Masa Lalu Yang Membuatku Terluka'
Cuma kumpulan pikiran...
Jadi gue abis minta temen gue baca cerpen di sini yg judulnya 'Imagine', dan ternyata di situ typonya banyak banget. Sebenernya gue maklum karena gak ada yg nge-proof read (dan gue gak berusaha proof read sendiri), tapi gue gak nyangka kalo ternyata typonya parah banget. Masa gue ketuker antara Raka sama Widi? Gila gak sih.
Jadi kayaknya gue butuh proof reader sebelum cerpen-cerpen ini gue publish ke blog. Oke mungkin cerpen gue gak bagus dan gak pantes punya proof reader, tapi bukan berarti tambah dijelekin dengan typo-typo yang bertebaran kan?
Selai tentang proofread, gue juga mau ngomongin ujian. Angkatan gue sekarang lagi diterjang ujian yang banyak banget, dan menurut gue kata 'diterjang' cukup pas dengan konteks ini secara ujiannya 2 minggu full dan ampun-ampunan soalnya. Dari tes paket, ujian RSBI, ulangan akhir semester, semuanya yg bikin soal beda dan tingkat kesulitannya juga beda. Jujur ya, otak gue udah mau meledak. Mungkin udah meledak kalo kemaren gue gak nonton Rise Of The Guardians (yang ada Jack Frostnya yang ganteng banget dan suaranya bikin melting. Gue 2 jam disitu cuman melting & nangis & fangirlingan)
Selain 2 hal di atas, ada satu lagi yg mau gue tulis di sini. Anak seangkatan gue ada yg nulis fanfiction dan fanfictnya itu..... Menarik. Atau mungkin 'unik' lebih cocok di pake di kalimat ini. Abis gue baca dan ngeliat ke tulisan gue sendiri, gue kayak kena sudden clarity: jangan-jangan tulisan gue juga begini. Soalnya, apa sih bedanya gue sama mereka? Sama-sama writer wanna be kan? Apa yang menjamin tulisan gue berbeda dengan mereka?
With this thought bringing me down, the only mood booster that can cure me is a 318 years old teen with white hair and electric blue eyes. Or that white monkey. I prefer the first one tho.
Jadi kayaknya gue butuh proof reader sebelum cerpen-cerpen ini gue publish ke blog. Oke mungkin cerpen gue gak bagus dan gak pantes punya proof reader, tapi bukan berarti tambah dijelekin dengan typo-typo yang bertebaran kan?
Selai tentang proofread, gue juga mau ngomongin ujian. Angkatan gue sekarang lagi diterjang ujian yang banyak banget, dan menurut gue kata 'diterjang' cukup pas dengan konteks ini secara ujiannya 2 minggu full dan ampun-ampunan soalnya. Dari tes paket, ujian RSBI, ulangan akhir semester, semuanya yg bikin soal beda dan tingkat kesulitannya juga beda. Jujur ya, otak gue udah mau meledak. Mungkin udah meledak kalo kemaren gue gak nonton Rise Of The Guardians (yang ada Jack Frostnya yang ganteng banget dan suaranya bikin melting. Gue 2 jam disitu cuman melting & nangis & fangirlingan)
Selain 2 hal di atas, ada satu lagi yg mau gue tulis di sini. Anak seangkatan gue ada yg nulis fanfiction dan fanfictnya itu..... Menarik. Atau mungkin 'unik' lebih cocok di pake di kalimat ini. Abis gue baca dan ngeliat ke tulisan gue sendiri, gue kayak kena sudden clarity: jangan-jangan tulisan gue juga begini. Soalnya, apa sih bedanya gue sama mereka? Sama-sama writer wanna be kan? Apa yang menjamin tulisan gue berbeda dengan mereka?
With this thought bringing me down, the only mood booster that can cure me is a 318 years old teen with white hair and electric blue eyes. Or that white monkey. I prefer the first one tho.
Subscribe to:
Posts (Atom)