Monday, December 31, 2012

2012's gift

Aku beterima kasih untuk tahun 2012, karena

Aku mendapat seorang kakak. Sesama penulis, sesama manusia galau, sesama penyuka menulis.

Aku bertemu 35 teman baru di pulau lain, yang membuka mataku pada kehidupan di kota dengan awan paling indah.

Aku ikut dalam ACEX 2012, acara paling sempurna yang pernah kulihat.

Aku tertawa, menangis, tersenyum, dan bermimpi setinggi langit.

Aku menyadari betapa aku mencintai dan dicintai domika8Do.

Aku berteman dan jatuh padamu, seekor monyet sampis yang menyebalkan.

Aku mendapat sahabat yang mencintai bukunya seperti aku mencintai bukuku, seorang sahabat yang berselera humor segaring aku dan kuanggap kakak, dan satu lagi manusia penuh sarkasme yang polos.

Aku bertemu kelas baru bernama nev9Erland dan teman-teman di dalamnya.

Aku belajar melepaskan seorang kakak yang hobi cengengesan mengejar mimpinya.

Aku pergi ke sekolah impian kakak yang selalu tersenyum.

Aku melewati batas yang kukira tak akan bisa kulewati.

Aku belajar untuk percaya pada sebuah mitos yang tidak begitu membumi.

Aku memiliki penjagaku sendiri.

Terima kasih 2012, untuk semua tawa dan tangis, naik dan turun, dan segalanya. 2013, be good to me :)

Sunday, December 30, 2012

Menyayangimu adalah perang

Apakah ini sudah waktunya melihat kenyataan?

Sudah waktunya aku melihat kamu dan akalku berkata padaku sendiri,

"Kamu bukan siapa-siapa buat dia.
Kamu tidak pernah spesial, seperti dia buat kamu.
Kamu cuma segores tinta di satu halaman buku kehidupannya, tidak seperti dia yang mengisi banyak halaman di buku kehidupanmu.
kamu tidak pernah lebih dari angin yang berlalu.
Myr, dia tidak menginginkan kamu. Makanya, lepaskan dia."

Hati kecilku yang keras kepala menjawab,

"Kata siapa?
Siapa yang bilang aku tidak spesial baginya?
Siapa yang berani jamin halaman yang aku isi di buku kehidupannya tidak sebanyak yang ia isi?
Siapa yang berkata padamu, angin lalu yang ini meninggalkan kesan di hati?
Siapa bilang dia tidak menginginkanmu? Jangan Myr, jangan pernah lepaskan dia!"

Aku  pun berkata, "Sialan kau hati, perlukah kau berteriak?"

Tapi tidak ada yang mendengarkanku, seperti biasa. Menyayangimu adalah perang antara akal sehatku dan hati kecilku. Sejauh ini hati masih bisa menang, tapi siapa yang berani menjamin akhirnya aku memihak akal? Toh dari awal aku tidak adil dengan akal, mungkin akhirnya aku akan memihaknya.

Akal kembali berargumen,

"Kamu bukan apa-apa! kamu hanya menyakiti dirimu sendiri kalau terus berharap!
Sadarlah, semua skenario bodoh di kepalamu tak pernah menjadi kenyataan! Dia masih manusia bodoh yang sama, dia menyayangi orang lain dan bukan kamu! Bangunlah dan buka mata, sadari mimpi indahmu bersamanya tak akan terwujud. Dia sama seperti Joy, tidak akan pernah bisa kau capai. Lihat kenyataan, apakah dia masih menyapamu? Tidak Myr tidak! Dia membuangmu, mengapa kau tidak membuangnya?"


"Tahu apa kamu tentang dia?! Tahu apa kamu tentang hatinya? Itu hanya yang kita lihat, mungkin hatinya memilih kamu. Dia memang manusia bodoh, tapi siapa bilang kamu tidak sama bodohnya? kamu sendiri yang bilang jatuh padanya itu hal terbodoh yang pernah kau lakukan. Kamu tidak perlu melakukan satu lagi hal bodoh dengan membuangnya. Ini berbeda dengan saat Joy, jauh berbeda. Dia nyata, dia dekat, dia ada di depanmu. Kamu tidak perlu menghafal tangga mana yang akan dilewatinya untuk melihatnya karena Myr, for once dia nyata. Kamu begitu dekat dengan apa yang kamu inginkan. Kamu ingat senja 1 Maret? itu buktinya. Jangan buang dia, kamu tinggal perlu berjuang sedikit lagi."

"Masa bodoh dengan senja 1 Maret! Hampir satu tahun sejak itu dan tidak terjadi apa-apa! Kamu tau yang kalian punya waktu itu hanya momen. Satu fase. Setelah kamu pergi dan kembali, ia sadar bukan kamu, tapi orang itu."

"Bagaimana jika ia hanya butuh waktu?"

"Berapa banyak yang ia butuhkan? dua tahun? apa dia buta dengan sinyal-sinyal ini?!"

"Diam! diam! diam!!" Aku berteriak frustasi. "Lalu kenapa kalau dia tidak merasakan hal yang sama?! Kita sudah melewati hal seperti ini kan? Belum ada orang yang membalas perasaan-perasaan bodohku dan siapa tahu dia salah satu dari orang-orang itu? Dia itu fase! Secarik kertas dari memoriku! Dia tidak membalas perasaan ini-- dulu, sekarang, tapi kita tidak tahu untuk nanti! Aku tidak akan melepaskannya, tidak lagi. Syukur kalau ia membalas tapi kalau tidak? kita akan menangis bersama seperti dulu-dulu, merutuki satu lagi manusia bodoh yang menambah luka di hatiku. Kalau ia membalas? Heh, kujamin kita bertiga akan bahagia dan akhirnya, akal dan hati akan berhenti bertengkar" aku berhenti dan menghela napas, "Masa bodoh kalau dia butuh waktu 2 tahun, tapi aku tidak akan menunggu selama itu. Waktunya akan tiba, dan aku janji kita akan bahagia. Dengan mendapatkannya, atau melupakannya."

Monday, December 10, 2012

Aku ingin

Aku ingin jatuh cinta padamu sekali lagi
Pada senyum asimetrismu
Pada sepasang mata coklat yang berbinar
Pada dering tawa ceria

Aku ingin jatuh cinta dengan benar
Seperti yang digambarkan di novel-novelku
Seperti setiap adegan sempurna di film-film itu
Seperti itu, jatuh cinta dengan normal

Aku ingin jatuh cinta dalam kepastian
Bukan dengan asa yang renta
Atau di tengah badai yang gelap
Aku ingin jatuh dan tahu, kau disana untuk menangkapku

Aku ingin cinta tanpa airmata
Aku ingin cinta penuh tawa
Aku ingin cinta denganmu yang nyata
Bukan hanya bayang bayang malam

Saturday, December 8, 2012

Namamu

Ini mengerikan. Namamu tak terasa sama lagi di mulutku.

Nama yang begitu familiar, yang dulu kupanggil setiap hari, yang selalu kuhiasi dengan nada sebal karena pemiliknya yang menyebalkan, sekarang terasa aneh ketika ia bergulir dari lidahku. Apa-apaan ini? Aku tahu sudah 2 bulan sejak terakhir kupanggil namamu. So what? Ini tidak terjadi dengan nama Riana, Aca atau Eta. Ini cuma dengan nama kamu. Apa yang terjadi?

Nama yang dulu kuteriakkan karena pemiliknya mengambil bangau kertasku, sekarang terasa kosong. Dulu, aku menyebut namamu dengan nada sebal, nada tak mau kalah, nada sarkastik, bahkan dengan nada penuh simpati. Sekarang, aku sering menyebut namamu ketika sedang mengobrol namun tak ada nada apapun.

Seakan nama yang kusebutkan adalah nama seorang pejuang yang kubaca dari buku sejarah. Penting namun kubiarkan berlalu. Seakan nama itu adalah nama latin bakteri penyebab gonorhea yang selalu kuingat bukan karena perannya, namun karena sering kudengar dan kubaca. Seakan kamu hanya selembar kertas dari sebuah novel yang kubiarkan berlalu. Atau lirik lagu lama yang begitu mengena di hati namun mulai dilupakan.

Aku nggak mau. Aku nggak mau lupain kamu dan nama kamu. Kamu bukan lembaran masa laluku. Kamu rencana masa depan yang berusaha kucapai. Kamu dan namamu, dengan alasan apapun, tak akan rela kupindahkan ke dalam kotak bertuliskan 'Masa Lalu Yang Membuatku Terluka'

Cuma kumpulan pikiran...

Jadi gue abis minta temen gue baca cerpen di sini yg judulnya 'Imagine', dan ternyata di situ typonya banyak banget. Sebenernya gue maklum karena gak ada yg nge-proof read (dan gue gak berusaha proof read sendiri), tapi gue gak nyangka kalo ternyata typonya parah banget. Masa gue ketuker antara Raka sama Widi? Gila gak sih.

Jadi kayaknya gue butuh proof reader sebelum cerpen-cerpen ini gue publish ke blog. Oke mungkin cerpen gue gak bagus dan gak pantes punya proof reader, tapi bukan berarti tambah dijelekin dengan typo-typo yang bertebaran kan?

Selai tentang proofread, gue juga mau ngomongin ujian. Angkatan gue sekarang lagi diterjang ujian yang banyak banget, dan menurut gue kata 'diterjang' cukup pas dengan konteks ini secara ujiannya 2 minggu full dan ampun-ampunan soalnya. Dari tes paket, ujian RSBI, ulangan akhir semester, semuanya yg bikin soal beda dan tingkat kesulitannya juga beda. Jujur ya, otak gue udah mau meledak. Mungkin udah meledak kalo kemaren gue gak nonton Rise Of The Guardians (yang ada Jack Frostnya yang ganteng banget dan suaranya bikin melting. Gue 2 jam disitu cuman melting & nangis & fangirlingan)

Selain 2 hal di atas, ada satu lagi yg mau gue tulis di sini. Anak seangkatan gue ada yg nulis fanfiction dan fanfictnya itu..... Menarik. Atau mungkin 'unik' lebih cocok di pake di kalimat ini. Abis gue baca dan ngeliat ke tulisan gue sendiri, gue kayak kena sudden clarity: jangan-jangan tulisan gue juga begini. Soalnya, apa sih bedanya gue sama mereka? Sama-sama writer wanna be kan? Apa yang menjamin tulisan gue berbeda dengan mereka?

With this thought bringing me down, the only mood booster that can cure me is a 318 years old teen with white hair and electric blue eyes. Or that white monkey. I prefer the first one tho.

Sunday, November 25, 2012

Imagination




 “Nerine, mau makan kue nggak? Enak lho!” seorang gadis berumur 12 tahun berkata sambil mengacungkan kue di tangannya. “Oh, udah punya? Yaudah, yang ini buat aku aja ya!”lanjutnya sambil menggigit kue di tangannya. Mungkin pembicaraan tadi terdengar normal bagi orang yang tidak melihat Alana secara langsung. Tetapi, orang-orang yang melihat apa yang baru saja dilakukan Alana pasti akan mengerutkan kening. Tentu mereka bingung, siapa yang diajak bicara Alana padahal di depannya hanyalah sebuah kursi kosong. Tapi Alana tak pernah mengindahkan tatapan-tatapan aneh yang ditujukan padanya. Dia terlalu sibuk bercanda dengan Nerine.
Alana adalah anak yang istimewa. Selain manis, ia juga sangat mahir memainkan kuas diatas kanvas. Kemampuan mereka ceritanya juga sangat baik. Mama Alana pernah berkata padanya bahwa daya imajinasinya sangat besar, karena itu Alana kecil sudah bisa membuat lukisan yang tidak terpikirkan teman-temannya. Ketika teman-teman kelas satunya masih mencontoh gambar mickey mouse atau tweety, Alana menggambarkan seorang anak perempuan yang belum pernah dilihat siapapun. Anak perempuan itu berambut cokelat ikal yang jatuh hingga ke pinggangnya. Ia memakai mahkota bunga dan sedang tersenyum. Walau gambar itu masih sangat sederhana karena Alana masih kelas satu, teman-temannya memuji Alana dan bertanya-tanya. “Gambar kamu bagus deh Alana! Tapi itu siapa?” Alana hanya tersenyum dan menjawab “Ini Nerine.”
Tidak ada yang tahu, bahwa sejak kelas 3 SD Alana memiliki seorang  teman khayalan bernama Nerine. Awalnya, Alana yang selalu sendirian menggambar dirinya sendir dan seorang teman. Lama-lama ia membayangkan teman itu ada di sekitarnya hingga suatu hari, Nerine Nampak benar-benar nyata. Alana  sangat senang saat itu. Di tengah pelajaran IPS yang membosankan, ia hanya perlu membayangkan Nerine dan muncullah dia, menemani Alana hingga pelajaran usai.
Atau, selama yang Alana mau.
Lama-lama, Alana merasa ia membutuhkan teman dekat yang selalu ada di sekitarnya. Maka, sejak kelas 6 SD ia tidak pernah menghilangkan Nerine. Ia mulai berbicara secara terbuka pada Nerine seakan ia nyata dan berhenti bersosialisasi dengan manusia nyata. Mama Alana bilang ia butuh bantuan dan pikirannya terganggu. Tapi Alana tidak peduli. Yang penting, sekarang ia tak akan pernah sendiri lagi. Ia akan selalu punya Nerine.
***

Raka tertawa riang di dalam mobil. Bocah 12 tahun itu terlihat seperti ia sedang bercanda dengan sesuatu yang tak kasat mata. Mamanya hanya menggeleng maklum. Ini kedua kalinya Raka ke rumah sakit untuk menyembuhkan penyakit mentalnya. Raka merasa Ia memiliki seorang teman bernama Widi. Mama Raka tidak tahu persisnya kapan dan bagaimana Widi muncul. Yang dia ingat waktu itu Raka pulang sambil menangis dan berkata “Aku jatuh dari sepeda dan Widi tidak membantuku berdiri!” Mama yang bingung bertanya, siapakah Widi? Raka bukan tipe anak yang mudah mendapat teman dan lagi, di sekitar sini tak ada anak yang bernama Widi. Ketika mama bertanya, Raka hanya nyengir dan berkata, “Ini ma, ini Widi.” Sambil menunjuk tempat di sebelahnya. Mamanya kaget dan segera membawa Raka ke seorang psikiater. Kata psikiater, Raka hanya sedang memiliki teman khayalan dan mamanya tak perlu khawatir.
Suara tawa Raka membuyarkan lamunan mamanya. Ia menghela napas dan berpikir, “Tak perlu khawatir? Teman-teman Raka berhenti memiliki teman khayalan 4 tahun yang lalu! Sementara Raka masih terus-terusan ‘berteman’ dengan Widi. Semoga saja dokter yang ini cukup bagus untuk menghilangkan Widi. Tidak sehat bagi Raka untuk memiliki teman yang tidak nyata.”

***
Lorong rumah sakit ternama itu sepi kecuali dari suara langkah kaki seorang anak perempuan mungil. Ia memeluk sebuah boneka beruang dan menangis sambil terus berjalan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari sesuatu. Pundaknya naik turun sesuai dengan irama isak tangisnya yang pilu. Bibir mungilnya terus menggumamkan hal yang sama berkali-kali sejak ia meninggalkan kamar terapinya. “Nerine, sini Nerine. Nerine, muncullah.” Isak Alana tak henti-henti. Ia tak mengerti apa yang dilakukan dokter itu hingga ia tak bisa lagi memunculkan Nerine. Jam menunjukkan pukul 9 malam, tapi Alana tidak berniat tidur sebelum bertemu Nerine.
Langkah kakinya membawa Alana ke suatu lorong yang belum pernah ia datangi. Beberapa suster menatapnya dengan raut wajah kasihan. Melihat dari boneka-boneka yang bergelantungan di atas kepalanya, mungkin ia berada di dekat bagian dokter anak. “Berarti aku sudah berputar untuk ketiga kalinya. Apa yang harus aku lakukan untuk bertemu Nerine?” pikirnya. Bukannya Alana belum pernah kehilangan Nerine sebelumnya. Waktu di kelas 4, ia pernah begitu tenggelam dalam melukis hingga Nerine menghilang. Tapi, tidak sampai esoknya Alana sudah bisa memunculkan Nerine lagi. “Dokter itu jahat sekali. Mengapa ia menghilangkan temanku? Pasti ia tak pernah merasakan kehilangan sesuatu yang begitu dekat dengannya. Yah, kehilangan Nerine terasa sakit!” Akhirnya Alana menyerah dan kembali ke kamarnya. Mungkin esok Nerine akan kembali muncul di hadapannya.
***
Nafas Raka tersenggal-senggal. Ia sudah berlari cukup lama di sekitar rumah sakit ini. “Widi!” teriaknya lantang. ‘Widi!! Kamu kemana?!” Sejak ia bertemu dokter tadi pagi, Widi menghilang. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan dokter itu, tapi pokoknya dokter menghilangkan Widi! Ini benar-benar tidak adil, Raka sudah bersama Widi selama yang dia ingat, mengapa tiba-tiba seseorang mengambil Widi darinya? Raka terus berlari dan berteriak. Tanpa ia sadari, di depannya ada seorang anak perempuan.  Tidak sempat mengerem, Raka menabrakrnya dan mereka berdua terjatuh.
Raka menatap heran ke arah perempuan di depannya. Wajahnya mungil dan rambut hitamnya yang ikal diikat ke belakang. Wajahnya sembab karena menangis. Untuk sesaat Raka mengira ia menemukan Widi. Tapi yang di depannya bukan Widi, melainkan seorang anak perempuan yang begitu mirip dengannya. Anak itu mengangkat salah satu alisnya heran, persis seperti Widi! “Nama kamu siapa?” Raka memberanikan diri bertanya. “Tolong bilang kalau kamu Widi. Widi yang nyata.” Batin Raka sementara menunggu anak di depannya menjawab. “Aku Alana.”
***
Alana menatap anak di depannya bingung, mengapa ia tampak kecewa? Memangnya ada apa dengan nama Alana? Anak di depannya langsung membeku ketika Alana menyebutkan namanya. “Kalo kamu, namamu siapa?” kata Alana menyadarkan anak laki-laki di depannya. “Hah? Eh, aku Raka.” Kata anak itu terkejut. “Alana, kamu lagi ngapain malem-malem jalan keliling rumah sakit?” Tanya Raka, memecah hening yang mulai merasuk di antara mereka. “Aku mencari temanku, namanya Nerine.” Alana menjawab. “Kalo kamu? Ngapain teriak-teriak malem-malem?”.
“Aku lagi nyari Widi.”
“Widi itu temen kamu?”
“Iya, deket banget sama aku.”
“Widi hilang gara-gara ketemu dokter ya?”
“Kok kamu tau?” Raka terdengar agak kaget.
“Soalnya Nerine juga begitu.” Tandas Alana sambil menunduk, menahan tangis. “Kalau begitu, yuk kita cari sama-sama!” kata Raka riang. “Berdua lebih seru kan?” . Alana tertegun. Perlahan, bibirnya membuat senyuman ragu. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh lengan Raka. “Nyata. Raka beneran manusia.” Pikirnya. “Nerine, gimana nih? Aku udah lama nggak temenan sama manusia. Aku takut. Nerine, bantuin dong.” Pikir Alana sambil menatap Raka yang juga tertegun di depannya. AKhirnya anak laki-laki itu berdiri dan mengulurkan tangan pada Alana.
***
“Aneh, tangan Alana terasa berbeda dengan tangan Widi. Tangan Widi terasa seperti angin sementara Alana.... Alana terasa seperti mama dan papa. Aneh, mengapa bisa berbeda ya?” Pikiran Widi berkecamuk di kepalanya. Akhirnya ia menggeleng dan mengenyahkan pikiran tadi dan mengulurkan tangannya pada Alana. “Aku temenin kamu balik ke kamar. Besok kita cari Nerine sama Widi lagi ya, sekarang udah malem.” Alana menyambut tangan itu dan mereka bersama-sama menuju kamar masing-masing.
Hari-hari berikutnya dihabiskan Alana dan Raka dengan bersama-sama menngelilingi rumah sakit mencari Widi dan Nerine. Kadang, mereka juga bermain bersama di taman dekat rumah sakit. Raka merasa sangat nyaman dengan Alana. Seakan, ia tak butuh Widi lagi. Ia punya teman baru yang baik dan cantik. Ia punya teman yang bisa membuat hatinya berdesir aneh. Raka tidak tahu nama perasaan ini, tapi Raka tidak mau kehilangan Alana. Ia tidak mau mata bulat Alana berhenti menatapnya, tangannya yang hangat melepaskan gandengannya, dan bibirnya berhenti berceloteh padanya. Ia tidak mau Alana pergi. Maka, suatu hari ia memutuskan untuk mengatakannya,
“Alana, bagaimana kalau kita berhenti mencari?” Tanya Raka di suatu hari yang cerah. Mereka sedang duduk di taman bersama. “Aku lelah, dan,” Raka menelan ludah. “Mengapa sulit sekali mengatakan hal ini?” Raka menghela napas dan melanjutkan, “dan aku udah nggak butuh Widi. Aku mau sama Alana aja. Mau nggak, kamu sama aku aja?” akhirnya Raka menyelesaikan kata-katanya. Ia bisa merasakan Alana menegang dan menggeliat tidak nyaman di sebelahnya. Ia bisa mendengar Alana berpikir, entah apa. “Raka,” Akhirnya telinga Raka menangkap suara lembut Alana. “Tapi aku nggak mau sama kamu, aku mau sama Nerine. Maaf Raka, mending kamu juga lanjutin cari Widi.” Alana menjawab sambil bangkit dari posisi duduk dan berjalan ke arah rumah sakit lagi. Meninggalkan Raka sendirian di bangku taman.
Angin berdesir menyentuh tangan Raka. “Dingin, nggak kayak Alana.” Pikirnya. “Sepi sekali tanpa Alana, tidak ada yang berbicara, tidak ada rambut lembutnya yang tertiup angin dan mengelus pipiku. Tidak ada senyuman manis, tidak ada tawa, tidak ada Alana. Aku sendirian.” Raka menghela napas. Pipinya terasa basah dan matanya panas. Ia tertawa mengejek dirinya sendiri. “Aku sendirian.”  Tiba-tiba raka berdiri dan berlari. “Sendirian! Ha, aku memang ditakdirkan sendirian!” Ia terus berlari, tanpa disadarinya ia berlari ke arah rumah sakit di seberang jalan. “Aku tidak dibutuhkan. Aku tidak penting! Karena ini aku cuma punya Widi!” Tiba-tiba terdengar suara decitan ban. Tubuh Raka terlempar karena hantaman benda keras dan mendarat dengan kasar di atas aspal. “Sendirian. Aku memang harus sendirian.” Pikirnya sebelum ia menutup mata dan kehilangan kesadaran.
***
Sudah tiga hari Alana tidak melihat Raka. Ini benar-benar membingungkan. Biasanya jam 8 pagi Raka sudah muncul di kamarnya. Apa Raka marah padanya? Apa ia agak jahat padanya tiga hari yang lalu? Padahal hari ini tanggal 13 Maret, hari ulangtahun Raka. Ketika Alana tiba di dekat kamarnya, ia mendengar mamanya dan dokter berbicara.
“Bu, maaf sekali tapi terapi untuk Alana gagal.”
“Jadi, Nerine akan muncul lagi dan menjadi teman khayalan Alana lagi?”
Nerine akan muncul? Baguslah, akhirnya ada berita bagus di antara kesuraman hidup tanpa Raka.
“Mungkin, tapi kita belum tahu.”
Alana sudah tidak mendengarkan pembicaraan itu lagi, ia berlari ke taman di dekat rumah sakit. Ia akan bertemu Nerine lagi! Ini menyenangkan sekali. Ketika ia tiba di taman itu, Alana duduk di kursi panjangnya dan berusaha membayangkan Nerine. Aneh, tapi sekarang rasanya sulit sekali membayangkan Nerine. Padahal dulu rasanya begitu mudah. Ketika ia membuka mata, ia melihat sosok yang familiar berdiri di depannya. “Raka?” Alana tak percaya. “Halo Alana, udah ketemu Nerine?” Raka bertanya ramah sambil tersenyum manis. “Belum, katanya aku akan ketemu dia lagi. Tapi kapan?”. Raka tertawa kecil dan mengulurkan tangannya pada Alana. “Ya sudah ayo kita cari bareng-bareng lagi yuk.”
***
Mama Alana masih berbicara dengan dokter di kamar Alana.
“Jadi, teman khayalan Alana akan berbeda dari Nerine?”
“Ya bu, kemungkinan beberapa hari ini Alana sudah bisa menghilangkan Nerine, jadi mungkin dia sudah lupa detil-detil Nerine. Maka teman khayalannya akan berubah. Apa ibu mau saya melanjutkan terapi?
Mama Alana menghela napas dan tersenyum, “Tak usah lah dok, asalkan Alana bahagia tidak apa-apa. Yang penting ia sehat.” Tandas mama Alana, tak menyadari anaknya sedang berjalan di koridor bersama teman khayalan barunya yang serupa dengan Raka.

Sunday, November 18, 2012

pilihan

Kalau bisa memilih, aku nggak ingin memilih jatuh cinta padamu.

Kalau bisa memilih, aku ingin seperti perempuan lain, jatuh cinta pada laki-laki yang tampan, pintar, baik, dan sebagainya. Kalau bisa memilihi, jelas jatuh cinta pada mereka terdengar jauh lebih normal daripada jatuh cinta padamu. Jika aku jatuh cinta pada mereka, tiap aku bercerita teman-temanku akan berkata "Iya, dia emang ganteng" dan bukannya "Kenapa harus dia?". Sungguh, aku nggak mau jatuh cinta denganmu. Kamu nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Kamu nggak ganteng, adik kelas kita aja yang agak buta bilang kamu ganteng. Iya sih kamu pintar, tapi sombongnya setinggi langit. Kamu baik kalau ada maunya atau kalaupun bantuin, pasti sambil ngedumel. Alim? kamu jauh dari alim. Kamu juga nggak populer atau menonjol. Pantas saja orang tertawa waktu aku bercerita tentangmu pada mereka.

Lalu kenapa akhirnya aku jatuh padamu? Aku sendiri juga nggak tahu sih. Mungkin nanti aku akan tahu kalau perasaanku berbalas dan kita bersama (Ha ha ha, berapa ribu tahun lagi untuk hal ini terjadi?). Kuberi tahu ya, cinta tidak butuh alasan. Jika memiliki alasan, ketika alasan itu hilang apakah cinta juga ikut hilang? Cinta itu aneh kan? Absurd tapi absolut. Nyata namun semu. Banyak hal dalam kehidupan kita yang tak perlu penjelasan, cinta salah satunya.

jadi, kalau di tanya mengapa aku jatuh cinta padamu, mengapa harus kamu, dan apa bagusnya kamu, aku jawab dengan "Karena dia adalah dia. And nobody can be 'him' better than himself." 

Friday, November 16, 2012

Stupid Souls

These stupid souls is familiar yet strange. So real yet surreal. As if we touch them they feel true but all they are is a beautiful lie. They say sweet words as sweet as honey but all it is are sakharine. It is sweet but there's no good comes from it. Some of these stupid souls have a doofus grin while the other with a graceful smile. Their eyes are either deep or glitter with happiness. Some has light skin, some has dark ones. Half smiles a lot half stays quiet and misterious. Either way, there is always someone who find them attractive. These stupid souls do stupid stuff they claim by the name of love. They are also oblivious and well, stupid. They chase what they want and only stops when they hit concrete wall or suceeds. The stupid souls are damn stupid yet we still fall for them. The stupid souls are annoying but we can't bring ourselves to hate them. These stupid souls have a name we all know well. We call them as boys.

Friday, October 26, 2012

suatu pagi menjelang siang

Di suatu pagi menjelang siang, kita bertemu
Kita duduk bersama di kelas yang sudah kita kenal
Kita berkenalan, kita bercanda, kita tertawa
Kita baru bertemu, namun segalanya terasa pas

Sejak itu kita terus bersama
Belajar dan meniti tali kehidupan
Dengan penuh senyum dan tawa
Seakan kitalah orang-orang terbahagia

Nyatanya, memang kitalah orang-orang terbahagia
Bahagia karena bertemu 38 orang yang tepat
Bahagia karena diberi kesempatan bersama
Meskipun hanya sesaat

Hari demi hari berlalu
Diselingi kejahilan dan ejekan khas kita
Kita tumbuh bersama dan sebelum kita sadar
Kita semua saling jatuh cinta

Jatuh cinta kepada kelas yang sempurna
Kelas yang begitu ramai dan rusuh
Kelas yang tawanya terus berdering
Kelas yang selalu bahagia, kelas kita

Kita menjadi tak terpisahkan
Walau banyak masalah dan perasaan
Tapi itu tidak mematahkan kita
Malah, makin mengikat 39 hati kita

Ketika kita akan berpisah
Kita baru sadar betapa kelas ini penting
Betapa kelas ini akan dirindukan
Dan betapa kita tak mau saling berpisah

Lalu datanglah hari itu
Hari terakhir kita sebagai satu
Hari yang sedih namun ditutupi dengan tawa
Walau tangis akhirnya pecah juga

Di suatu pagi yang berawan
Kita duduk bersama di kelas yang sudah kita kenal
Bukan, bukan kelas
Ini rumah kita

Di pagi yang berawan itu
Tak ada tawa yang terlontar
Hanya ada tangisan dan ratapan
yang berbunyi "aku tak mau berpisah"

Kita berpelukan dan menangis
Bersalaman dan melontar senyum
senyum yang berarti "Maafkan aku,
setelah ini mungkin kita tak kan bersama"

Tangisan yang deras mengiringi memori kita
Tentang bagaimana kita berteman dan bersahabat
Tentang mimpi-mimpi kita yang menjadi nyata
Tentang kita, keluarga yang akan pecah

Begitu banyak persahabatan yang dirajut disini
Begitu banyak cinta yang diberi
Begitu banyak kenangan kita bersama
Walau hanya setahun kita berjumpa

Sekarang kita berjalan sendiri-sendiri
Walau tak melupakan keluarga lama kita
Keluarga yang selalu bahagia
Dan terbentuk di suatu pagi menjelang siang

Betapa besar rindu yang tercurah untuk keluarga ini
Betapa kita ingin kembali saling memiliki
Betapa kita ingin waktu berputar
Dan kita bisa kembali saling jatuh cinta

Tiap hari tanpa kalian terasa tak nyata
Seakan ini mimpi yang mengerikan
Kita semua ingin bangun
Dan kembali pada masa saat kita bersama

Namun inilah kenyataan
Dan nyatanya disinilah aku
Kembali menulis dan menangis
Di tempat yang sama dengan dulu
dengan saat pertama kali ku menulis
Untuk kelas yang luar biasa
Untuk keluarga yang tak akan pernah pecah
Untuk ku, untukmu, untuk kita
Untuk kelas yang dimulai dari ale
dan diakhiri oleh virza
Untuk kelas pertama dhono di labsky
Untuk kelas dengan seorang siswi latah
untuk kelas yang penuh kenangan dari ale sampai virza dan balik lagi ke ale
Untuk kelas pelangi
yang beberapa warnanya sudah memudar

untuk kamu

domika8Do
still 2011 - Eternity

Friday, October 19, 2012

Tiang yang berdiri terakhir

Pasti ada kalanya hal-hal yang direncanakan hancur. Aku tidak mau kamu merasakan hal itu. Aku tidak mau merasakan mimpimu luluh lantah.

Aku ingin kamu terus bermimpi meski mungkin aku harus berhenti mengejar mimpiku sendiri.

Aku ingin menjadi tiang yang berdiri terakhir. Yang saat semuanya menjadi salah, masih ada aku sebagai tempat bersandar. Ketika semua orang yang kupedulikan kehilangan tempat berlindung, masih ada aku.

In short, I want to be everyone's superhuman.

Tapi, bagaimana jika tiang terakhir butuh tempat bersandarnya juga?

Semoga orang-orang yang dilindungi dan bersandar padaku mau melindungiku dan kusandari.

Monday, October 15, 2012

Nggak Tahu

Nggak tahu ya, aku cuma ingin menangisi hal-hal yang belum kita lakukan dan memori yang terlupa.

Aku cuma ingin keluar dari pekatnya rindu tapi nyatanya aku tak bisa. Aku ingin berhenti mengucurkan air mata tapi nyatanya mataku tetap basah. Aku ingin kita bersama seperti dulu lagi tapi sepertinya itu sulit.

Nggak tahu lagi. Pokoknya kamu menyebalkan.

Kamu nggak menganggapku ada lagi padahal dulu selalu datang padaku. Kamu nggak menatapku lagi. Kamu nggak ngomong sama aku lagi. Kamu nggak pernah lagi duduk secara random di depanku, menumpangkan kepala ke tangan, dan berkata "gue bosen nih.", lalu mengeluarkan kata-kata random dan kita akan berargumen.

Memang kamu tidak kangen saat-saat seperti itu?

Nggak ya? Maaf deh kalau aku kangen.

Wednesday, October 10, 2012

Kacamata hati

Cinta bukan tentang apa yang kau lihat dengan mata terbuka. Tapi tentang yang tetap terlihat bahkan ketika matamu tertutup.

Hey kau memakai kacamata kan? Bagaimana jika kacamatamu ku ambil? Mungkinkah aku akan melihat gadis berwajah dua itu sempurna? Mungkin dunia lebih bahagia di matamu. Mungkin di matamu segalanya bercahaya dan berwarna pelangi. Bagaimana kau melihatku? Ah, mungkin aku tidak kasat mata bagimu.

Cinta yang kau lihat memang indah, karena cinta memang indah. Cinta juga tidak salah. Tidak juga benar. Makanya aku tidak bisa mengecam bahwa cintamu padanya salah.

Setelah kau merasakan cinta, perlahan ia akan membutakanmu dengan keindahannya. Ketika cinta pergi, air matamu lah yang akan membuat matamu buram.

Pakailah kacamata hatimu. Tutuplah matamu. Tanyakan pada hatimu. Apa benar dia yang aku mau?

Tuesday, October 9, 2012

Anak Panah Bintang

Aku tahu kamu tidak pernah menembak satupun anak panah yang tepat sasaran. Tapi sadarkah panahmu yang meleset itu dipungut seseorang? 

Anak panahmu indah seperti bintang. Bercahaya dan berkerlip di ujungnya. Anak panahmu yang jika ditembakkan meninggalkan jalur cahaya sangatlah indah. Sayang, tak semua bisa melihatnya. Mungkin, orang yang bisa melihatnya cuma aku. Mungkin, orang lain melihatnya cuma sebagai panah usang. Mungkin, cuma mungkin lho, panah bintangmu memang ditujukan untukku.

Memang sih tembakanmu meleset. Tapi hei, bukankah rencana hidup memang sering meleset? Daripada meratapi panahmu yang meleset, lebih baik cari tahu kemana jatuhnya, siapa tahu kau bertemu harta karun. Siapa tahu, yang kau temukan lebih bagus dari yang kau bidik. Siapa tahu, panahmu yang meleset menunjukkan takdirmu. Siapa tahu, panah yang kupungut ini adalah yang kau cari.

Dan siapa tahu, aku akan bertemu denganmu

Jika begitu, aku bersyukur memungut panahmu! Kita bisa tertawa seperti dulu. Kita bisa bermain-main lagi! Aku punya cat baru, yuk bermain cat di tembok rumahku! Warnai terbok rumahku dengan pelangi sebagaimana kau mewarnai hatiku. Kita bisa bersama terus. Kita bisa ngobrol sampai bintang bertaburan di atas kita. Dan aku akhirnya bisa bahagia lagi.

Dan mungkin kau akhirnya bisa berhenti meratapi 2 panah lainnya yang kau hilangkan. Mungkin kau bisa tertawa lagi seperti sedia kala. Mungkin akhirnya kau mau berdebat konyol denganku lagi. Mungkin akhirnya matamu kembali bercahaya. Mungkin kau bisa bahagia lagi, seperti sebelum 3 panah bintangmu meleset,

dan satunya dipatahkan sebelum kau gunakan.

Makanya, ayo cari aku. Ayo hampiri panah bintangmu. Aku akan mencoba membuatmu bahagia seperti dulu. Karena aku peduli padamu, dan aku kangen kamu yang dulu!

Monday, October 8, 2012

Jangan lagi

Kamu kenapa lagi? nangis?
Dia gak pantes ditangisin. Dia gak pantes buat kamu. Dia jahat sama kamu. Dia gak peduli sama hati kamu.
Jangan nangis lagi!
Dari awal emang dia buat kamu? Dari awal peduli apa dia sama kamu? Kamu dimanfaatin! Kamu dijahatin! "Atas nama cinta" itu katamu. Tuh kan, lagi-lagi kamu mengeluarkan kata-kata kosong. Kamu bahkan gabisa tepatin kata-kata kamu sendiri. Kamu kayak anak kecil yang asal ngomong. Anak kecil arogan yang sok mengerti hidup.

Sudahlah, hentikan isakanmu.
Menurut kamu, dia begitu berharga? kenapa gak peluk erat-erat? Menurut kamu, dia sempurna? Kalau ya, yang kamu rasakan bukan cinta.

Cinta bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang melihat ketidak sempurnaan seseorang dan tetap jatuh cinta padanya.

Sudah, masih ada aku.
Mungkin untuk kamu aku nggak penting. Nggak apa-apa sih, memang kenyataannya begitu. Aku ini apa? cuma temen kamu doang. Deket aja nggak. Tapi aku peduli sama kamu, seperti aku peduli sama semua temanku. Aku gak mau orang yang aku peduliin hancur. Tapi aku lebih gak mau melihat mereka hancur tanpa bertindak apa-apa. Aku masih disini.

pertanyaanku, apakah kamu mau aku peduliin? kamu mau gak aku perbaiki? kalau kamu mau, kamu boleh menangis padaku setiap hari. Kamu boleh curhat sebanyak yang kamu mau dan kamu tahu aku pasti dengerin.

Gimana kalo aku kasih kamu 7 permintaan, mau gak?

biar gak galau-galau lagii :D

Saturday, October 6, 2012

Aku, Kamu, Kita

Aku bisa apa tanpamu
Tersenyum sulit
Tertawa pun enggan
Kamu merusakku!

Aku sering merenung
Apakah kamu juga begini
Sulit tersenyum sepertiku
Karena kau disitu tanpaku

Kamu bisa apa tanpaku
Sebenarnya, kau tak berubah
Masih tertawa seperti dulu
Hanya aku yg rusak tanpamu

Aku seperti boneka tanpa tali
Terlihat utuh namun kurang
Aku bagai hati tanpa asa
Cukup 'tuk hidup, kurang 'tuk bahagia

Kamu tali untuk ku
Menggerakkan bibirku
Membentuk seulas senyum
Menderaikan tawa ceria

Kamu asa untuk hatiku
Memberi harapan
Untuk ku disayangimu
Sepertiku mencintaimu

Kuminta kamu percaya
Pada aku si boneka usang
Cintanya tak kan berkurang
Walau ia tak lagi tertawa

Kuminta kamu mengerti
Pada hati kecil ini
Ia tak pernah berhenti percaya
Bahwa aku dan kamu bisa bersama

Bahwa suatu hari nanti
Bukan lagi aku dan kamu
Tapi kita
Sebagai satu

Thursday, September 6, 2012

Relung

Ada seorang gadis kecil meringkuk di sebuah relung rindu. Badannya mengigil dan matanya tak henti menderaikan tangis. badannya yg kurus terus bergetar, isakannya membuat melodi yang menyayat hati. Entah bagaimana ia bisa sampai ke sini. tidak ada yang pantas berada di relung rindu. tempat ini terlalu menyakitkan untuk siapapun. Sayangnya, terlalu sulit untuk keluar.

Yang menyebabkannya begini jelas seorang laki-laki. Seseorang yang berhasil meruntuhkan tembok di sekitar hatinya dan memanggilnya keluar. seseorang yang melihat dirinya di dalam. seseorang yang tak peduli bagaimana ia tak seperti gadis kebanyakan. bagaimana ia memilih nike bukannya a little thing she needs, gramedia bukan colorbox, internet bukan mall. Bahkan, menurutnya menarik bagaimana gadis ini kecanduan pada website yang sama dengannya, bagaimana anak laki-laki ini tak peduli dengan kata-kata kotor yang melompat dari mulut gadis ini karena dia sendiri menyumpah sebanyak lelaki manapun. Anak laki-laki itu butuh gadis ini, kata semua orang. Gadis itu tak percaya dan hanya tertawa. tapi satu hari mengubah segalanya.

Setelah hari itu ia terus berharap dan berharap. sayangnya dia mengecewakan gadis itu. gadis itu menangis. lama sekali. samapi ia tiba di depan relung rindu. tanpa ragu ia berkata,

"Aku ingin masuk ke relung rindu!"

suaranya begitu yakin dan percaya diri. seakan dia tahu apa yang ada di balik pintu didepannya, tetapi tetap ingin masuk.

"Apa kau yakin? relung ini hanya untuk orang-orang yang cukup merindu seseorang hingga ia --"

Kata-kataku dipotong dengan cepat oleh gadis itu.
"-- melupakan dunia dan menyakiti diri sendiri. Aku tahu itu. Aku tahu semua tentang relung rindu dan aku ingin masuk!"

"kau terlalu muda untuk merasakan rindu yang terlalu dalam" aku menjawab, tak tega.

"umur bukan segalanya"

"tapi kau sangat kecil"

"rinduku jauh lebih besar!"

teriakannya menggema di telingaku. tak ada yang begitu ingin memasuki relung hingga seperti gadis ini. kebanyakan hanya menangis dan menyebut sebuah nama berulang-ulang. tak ada yang seperti ini. umurnya kutaksir baru 14 tahun. siapa yang begitu tega menyakiti hati serapuh ini? Akhirnya aku menyerah. dan membuka pintu.

"kau tahu apa yang harus kau lakukan?" aku bertanya

"menyebutkan namaku dan nama orang yang kurindu kan?"

"Ya. kau tahu apa yang akan terjadi berikutnya?"

"Semua perasaan lain selain rindu dan sakit akan terserap keluar dariku hingga orang itu datang dan membalas rinduku?"

"benar. kau siap"

gadis itu tampak bimbang sedikit lalu mengangkat kepalanya.

"ya"

"baiklah, silakan mulai"

gadis itu menarik napas dan berkata,

"Namaku Feirina. Cuma itu yang perlu kamu tahu"

Dengan sekali sentak aku mengambil semua perasaanya dan berkata
"Lanjutkan"
mata gadis itu sekarang kosong tetapi ia berkata dengan pasti.

"Agra Syahreza Rahman"

Bahkan setelah semua emosi dalam jiwanya kuambil, keyakinannya tak berkurang. Penderitaan apa yang telah dia lalui? Aku menahan diri untuk bertanya. Toh, aku bisa melihat ke dalam emosinya nanti. Kukembalikan rindu dan sedihnya, Seketika pertahanannya runtuh dan dia menangis. Dia terisak begitu hebat hingga tubuhnya berguncang. Mulutnya terus menyebutkan satu nama

"Agra.."
***
Sudah 5 bulan Feirina berada di Relung Rindu. Ia terus mengigil walaupun sudah tak menangis. Bisikannya berubah dari 1 kata menjadi 1 kalimat. Kalimat yang seperti mantra. Yang terus diulang-ulang

"Agra aku kangen"

Sungguh Agra ini benar-benar kejam. Apa dia tidak sadar dia telah menjebloskan Feirina ke relung rindu? Jahat sekali! Tidakkah ia pernah berpikir, satu kali saja tentang seseorang selain dirinya? Kapan ia berpikir dan memutuskan untuk tidak menjadi egois dan menjemput Feirina?

Agra memang lelaki bodoh

Baru kusadari ada ketukan di pintu. Ah, aku terlalu tenggelam dalam pikiranku hingga aku tak menyadari keadaan di sekitarku. Aku beranjak dari kursi yang sedari tadi kududuki sambil memperhatikan Feirina dan pergi untuk mengintip siapa yang mengetuk pintu. Ternyata seorang anak laki-laki. Ia berambut gelap dan wajahnya yang berkulit putih agak menyiratkan keraguan. Dari memori-memori dan emosi Feirina aku mengenalinya.

"Apa kau Penjaga Rindu?" kata anak itu.
"Ya"
Akhirnya dia datang
"Namaku Agra, aku datang untuk Erin"
Aku tahu kau laki-laki menyebalkan yang melukai Feirina dasar bodoh. Akhirnya kau sadar Feirina menyayangimu ya? Lama sekali
"Erin?" kataku pura-pura tak tahu. Sekaligus berharap dia salah tempat. Aku benar-benar sedang tak ingin bertemu manusia egois yang berani menjebloskan seorang gadis tak bersalah ke Relung Rindu.
"Feirina"
Ah ternyata benar kau lelaki bodoh itu.

Sikapnya yang telah berubah santai sangat menyebalkan di mataku. Memang Erin mainannya yang hilang dan bisa diambil dengan mudah? Tanpa sadar, aku berteriak, "Segitu mudahnya kau mengambil kembali Erin?! Apakah kau sadar bagaimana rasa sakit yang ia tanggung karena kamu?! Bahkan tanpa perlu ke sini pun ia sudah cukup menderita!" Bahkan setelah semua teriakanku Agra masih terlihat tenang. Menjijikan. Aku mengambil satu langkah untuk berdiri tepat di sebelah kanannya dan berbisik dengan suara yang bergetar,

"Kau benar-benar jahat, Agra Syahreza. Sungguh, kau benar-benar jahat."

Diluar dugaan, dia menangis,

"Ya, aku tahu aku memang jahat! Aku bodoh dan terus mengejar seseorang tanpa menyadari aku menyakiti Erin! Bagaimana bisa aku tak sadar padahal Erin selalu berada disampingku! Hanya saja ia selalu tertawa dan tersenyum menutupi sakit hatinya. Demi tuhan, aku telah membuang cinta seseorang yang berharga demi orang lain yang sama sekali tak sebanding!"

Isakannya membahana di ruangan remang ini. Seharusnya, jika Erin berada pada kondisi normal ia bisa mendengar teriakan Agra.

"Aku akui aku sayang Erin. Sejak dulu, sekarang dan selamanya. Kumohon, izinkan aku menjemputnya. Aku tidak tahan tanpa Erin. Aku ingin Erin yang dulu. Kumohon..." Isaknya hingga habis ditelan sunyi.

Aku berpikir sejenak dan membuka pintu Relung. Kedua mata Agra langsung menyorotkan keterkejutan dan kebahagiaan. Seperti yang kulihat dalam emosi dan memori Erin. Aku menghela napas dan berkata "Jangan sia-siakan dia Agra, sulit menemukan hati yang begitu tulus menerima seseorang."

Agra berlari ke dalam Relung dan memanggil Erin. Tiba-tiba isakan Erin berhenti dan matanya kembali bercahaya.
"Ah? Agra?" ia berkata bingung.
Agra tertawa kecil diantara air matanya, "Hai Erin"
"Kenapa ada lo?"
"Gue udah sadar, Rin. Gue tau siapa yang gue pilih antara Nerine atau elo"
"Terus?"
"Gue pilih Feirina! temen gue yang selalu ada untuk gue! temen gue yang bisa tertawa biar gue bahagia walau dia hancur! Elo Rin, gue pilih lo!" Agra menjawab dengan sikap ceria dan terus terangnya yang biasa.
"Rin, aku kangen"

Dan dengan 3 kata itu, kedua sosok itu menghilang dari Relung Rindu. Selamat jalan Erin dan Agra, kalian sudah bebas dari sini. Aku pun kembali ke kursiku, menunggu penghuni berikutnya yang akan datang padaku.

Saturday, September 1, 2012

AFA Indonesia!

Sebelum yg galau-galau gue mau nyeritain event hari ini.

Hari ini ada acara AFA. itu kayak festival jepang gitu, di PRJ. masuknya bayar 50rb kalo VIP 125rb. acaranya super rame, ada lomba cosplay juga namanya RCC gue lupa R-nya apa tapi CC-nya Cosplay competition. indonesia regional preliminary. gue gangerti sih tapi kedengeran keren.

Gue ke sana sama Dhiya dan Achii. abis tiket di tangan gue sama dhiya masuk. achii sama rara unggu di luar. di dalemnya baru agak rame, jadi gue cari makan karena belom sarapan. gue beli oden dan itu lumayan. abis itu achii sama rara gabung terus kita nyari merchandise. gue beli pin aokise dan gambar phone box inggris buat dila. sama gantungan kunci kuroko. abis itu ketemu viga. terus ketemu caca yg lagi ngantri masuk butler cafe.

Butler cafe itu yaa cafe biasa sih sebenernya, cuma pelayannya berupa orang2 ganteng banget berkostum ala butler. Disini gue bawa kanti, gue jadiin kucing peliharaan (?). setelah denger harga minimalnya 110rb. kita pergi. caca dan temennya dan kanti kita tinggal. PISLOP KANTI AKU MENELANTARKANMU HEHE.

viga mulai kelaperan dan semua mulai emosi dengan animo pengunjung yang banyak. akhirnya viga sama rara nyari temennya dan gue, dhiya, dan achii ngantri makanan. pas di antrian kita dikasih tau tara udah deket. Jadi gue keluar antrian dan nyari tara. setelah ketemu, achii juga keluar dan kita ngobrol bareng.

disini mulai jadi creepy.

entah kenapa gue+tara+achii=magnet temen-temen (?). rara sama viga balik. kita ketemu alia. dinda sama ara lewat dan gue sapa. runa dateng sama temennya dan kak farah. ada kak hime juga. dhiya selesai ngantri. suasana makin rusuh pas tara ngeluarin doujin. akhirnya kita keluar dan gue bantuin viga ganti baju karena panas dan dia kayaknya gakuat pake gaun belarus + wig terus. abis itu kita makan. dan abis itu gaada hal penting yang perlu gue ceritakan.

kecuali fakta bahwa segitu bombastisnya (?) kostumnya seseorang tiap 100m ada yg ngajak foto. dan pas ketemu cosplayer kise dan gue sama tara literally lost control. kita mulai fangirling dan bertebaranlah kata-kata "mama","kisecchi","ganteng" dan sebagainya. kita juga ketemu cosplayer BRS pas bareng caca dan selayaknya tante-tante kita mulai ngegosip. "ih gak malu apa?" "jaketnya gadipake lagi" "badannya bagus sih" "masa? agak gendut ah". hahaha gitu deh...

abis itu pulang deh. yaah duit gue abis.... :(

Saturday, July 28, 2012

diantara rinai tawa



well? the picture says it all
But i wouldn't say this is love
who am i to say that right?
it's just that, we talk a lot, we joke around
we have little arguments
and before i know it, it happens

diantara banyak teriakan dan argumen
terselip di sebelah rinai tawa
ada perasaan ini
apakah kau juga merasakannya?
semoga iya
kelihatannya kau merasakannya

but even if you feel it
there's still someone else
she has a special place in your heart
she's making you oblivious
oblivious with my signals

tahukah kamu?
di sore itu kau selipkan sesuatu di tanganku
sesuatu yang hangat dan menyenangkan
tapi juga tajam dan menyakitkan
sesuatu itu ditakuti oleh mereka
mereka yang takut jatuh cinta
itu adalah harapan

I don't know why
but you've bring my hopes up
my hopes of having something
in return of what i feel
but then you drop my hopes
shatter it apart

aku tak mengerti apa nama rasa ini
rasa ini berbeda
bukan seperti rasa pada kebahagiaan
bukan rasa pada kesedihan
apa ini? apa nama rasa ini?

I call it, hope
how about you?

Thursday, July 12, 2012

Senja

Di ujung senja aku berada
 Menggengam segelas teh dengan wajahmu terlukis di atasnya 
Pelan, aku menyesapnya 
Membiarkan memori tentangmu meresap


Wajahmu terlukis jelas di mataku 
Saat kita pertama bertemu
 Sebelumnya aku sudah mengenalmu 
Tapi siang itu 
Aku benar-benar jatuh untukmu 


 Kuhirup kembali teh di tanganku 
Mengingat kekasihmu 
Perempuan yang cantik dan cerdas 
Sempurna 
Kau tampak bahagia dengannya
Selalu tersenyum dengan tulus 
Ah, kapan teh ini menjadi pahit? 


 Aku menghela nafas 
Jika mengingatnya, aku jadi ingat 
Saat kalian berpisah 
Kau sedih, hancur, patah hati 
Ia yang kau anggap milikmu 
Lepas dari genggaman 
Aku pun merasakan kesedihanmu 
Hidup memang kejam ya?

Tuesday, June 26, 2012

refleksi domika8Do!


Kemaren tanggal 25 Juni 2012 gue sama domika8Do ikut refleksi di rumah dhono
seru deh pokoknya! rame bgt! yg cewek pake baju stripes, yg cowok kotak-kotak.

abis sambutan dan lalala orang ngomong yang gak gue perhatiin *hahaha-_- kita ngisi polling. pollingnya banyak banget deh sampe gue golput banyak hehehe jangan ditiru ya.. abis itu bikin lingkaran dan ngomong kesan pesan. gue duduk diantara runa sama ale hahaha guenya ganggu bgt tapi tetep gamau disuruh pindah soalnya takut dicekek runa, alenya sih apaan dijorokin juga jatoh. setelah itu kita sholat zuhur terus makan terus ganti baju buat berenang!

tapi sebelum berenang games dulu, gamesnya ngedandanin cowok tapi sambil tutup mata. gue kena dan gue ngedandanin irfan. ngedandaninnya dalam arti nyoret-nyoret mukanya irfan pake lipstick. tapi menang lho! abis itu games belut. jadi berpasangan lagi, cewek cowok. ceweknya ngambil belut terus kasih ke cowoknya. nah, si cowoknya megang belut sambil berusaha masukin pensil ke botol. gue kena lagi dan main bareng bagas tapi gak menang soalnya belutnya lepas-lepas hahaha. daripada tissa, belutnya lepas malah ditinggal dan ambil baru. abis urusan belut selesai, kita BERENANG YAAY!!

yah, karena gue gak bisa berenang gue cuman di yg dalemnya cuma 1m dan kalo ke yg 2m gue nemplok di pinggir. iya, literally nemplok. tapi ada lagi kok yang gabisa berenang tapi gak ngaku. terus ada games ngumpulin bola gitu. abis games ya.. masih berenang lah, seru tau meski gue ngambang aja gabisa. terus gue, tissa sama runa bikin eksperimen alay dengan teori "ketika kita menahan napas, kita lebih mudah mengapung" haha alay bgt deh emang. tapi bener lho berhasil.

setelah itu ada pembacaan polling. gue mah gadapet apa apa udah. setelah semuanya dibacain dan dikasih pin, kita foto-foto terus pulang. gue pulang bareng adji sama aca yang nebeng dan ternyata rumahnya adji gue lewatin tiap hari hahaha. setelah ngedrop aca gue pulang terus langsung tidur sampe besoknya bangun jam 11 setelah beberapa kali sleep paralysis.

domika8DO refleksinya kece banget! gue bakal kangen kalian semua! walaupun nanti somehow gue masuk kelas yg disebut 8D lagi, gabakal ada yang nandingin domika8Do deh. love ya!

ps: jersey gue mana...

Sunday, June 24, 2012

Black eyes, His voice and a creep

as long as I remembered my eyes are always locked to him

I like every feature on him, wavy hair, wide smile from ear to ear, black eyes, tanned skin, skinny hands and everything, he never change.
not even now, when he graduated.
I always know this day is coming. when he's leaving and not coming back. what i don't know is, it didn't hurt as bad as I imagined.

maybe because I'm starting to forget him.
I've already forget his voice.
at first it scared me.
'how can i forget something so precious?'
but the truth hits hard
and his voice is never coming back to my mind
not even now

I'm scared that I'm gonna forget everything about him.
scared if one day I'll forget how he smile
how he plays his guitar
how he clicked the shutter of his camera
how he looks at her
what will I do?
without him, who am I?
I'm fading?

well, no
someone creeps to my thought
he's not as cool, nice, or mysterious
he's outgoing, loud, and his words are not the best
he's not nice to me and whenever we talk...
world war III.
slapping, cursing, mocking, and never ending arguments
he's a total opposite of what I call perfect. straight hair, never smiled to me except when marking his victory, brown eyes, not even close to tanned, and annoying.
well, i don't really want this. but, those brown eyes sometimes glitter with eagerness to win, to get what he want, and somehow only I realize that. what is happening

Wednesday, May 30, 2012

Tulisan untuk pelangi

Inget kan puisi gue yg kemaren?
 Yang untuk 8D?
 Abis baca puisi itu orang-orang nangis
"gue gamau ninggalin 8D..."
Semua bilang gitu.
Gue tau itu semua bohong
Oke bukan bohong..
'Cuman sementara'
mungkin lebih tepat
Kalian semua juga tau kan?
Kita bakal naik kelas

Pertamanya kita nangis
Tapi lama-lama kita biasa aja
And domika8Do will be full of stangers again
Ya kan?
Kita bakal move on.
Gue gamau
Gue gamau kita saling melupakan
Kita berpisah terus move on
Melupakan kenangan sempurna kita
Melupakan tawon, bedah cicak, menyimpan jersey kita, dan saling melupakan.
Kita bakal hidup sendiri-sendiri lagi
We're strangers again

 Nggak
Gamau
Gak bakal kan?
8D, inget kan kakak-kakak ex fall ou7 Boys?
Mereka solid sampe akhir
Kita bisa gitu ga?
Can we be the unfainted rainbow forever?
Gue salah waktu nulis kita bakal pudar
Kita gabakal pudar kan?
Selalu bersama kan?
 Remember 2011-eternity? 
Eternity is a long time.
But for me it's enough 
To be with 38 awesome people 
So 8D, let's be a rainbow 
A rainbow that'll never dissappear 
The greatest rainbow ever 
A rainbow that contains 39 colours

8D
Boleh gak kalian janji sama gue
Sama kelas ini
Atas nama domika8Do
Kalau kita gak bakal pernah berubah
Karena kita yang sekarang
Adalah kepingan puzzle yang sempurna
Dan seperti puzzle lain yg sudah disusun
Kita gak akan lepas begitu aja
Karena kita keren

 Heh, lucu
Di tulisan sebelumnya gue bilang kita pelangi
Sekarang gue bilang kita puzzle
Dasar gue hiperbola
Jadi 8D 2011,
Kita itu apa?
 Kalau bisa, mari menjadi puzzle
Yang enggan berpisah
That fit each other perfectly
Kesempurnaan
Keajaiban
39 orang asing bertemu
39 sifat bertemu
39 perasaan bertemu
Dan hebatnya mereka cocok satu sama lain

Thursday, May 24, 2012

Untuk 8D

"rasanya semua, begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya" 
- Ipank (Sahabat Kecil)
***

ketemu 8D itu 1 tahun yang lalu.
Tapi rasanya cuma 1 bulan kita bareng.
Banyak cerita dan banyak kenangan yang gak akan habis dibahas.
yang kalau kita ceritakan akan membuat mata memanas
dan membasahi pipi
kita akan menangis, betapa waktu cepat berlalu
betapa banyak yang kita lakukan bersama
dan yang belum kita lakukan.


lucu, gue jadi inget pertama kali TIK di 8D
pertama kali gue melihat urutan kita dengan jelas.
pertama kali gue merasa absen gue jelek banget.
pertama kali gue sadar
gue udah kelas 8
ini beneran terjadi


kalau mengingat-ingat, dulu kita ga tau nama kelasnya bertema apa
dulu kita namanya 8anDeng presto
jelek
gue bersyukur kita jadi domika8Do
gue bersyukur kita semua bertemu
gue berterima kasih ke kalian semua
karena sudah menjadi bagian dari sepotong cerita
yang akan menjadi bagian hidup gue


gue inget sesuatu yang lucu lagi
kenangan teralay 8D
waktu itu pelajaran BK dan ada tawon
kita semua panik
kalo tawonnya gerak yang tadinya berdiri di belakang
jadi teleportasi
tiba-tiba di depan
yang lucu adalah di pelajaran BK terakhir.
kita nangkep tawon
mungkin bukan tawon yang sama
tapi rasanya menyenangkan kan?
menangkap sesuatu yang membuat 39 orang gempar
dan lari ke plaza


Inget kan kita punya 2 kaos kelas?
inget kan pas jersey pertama kali dibagiin?
kita langsung pake sama-sama
waktu itu pelajaran sejarah
kita bahagia sama-sama kan waktu itu?
sekarang saatnya jersey kebanggaan kita harus pensiun
tapi kenangannya gak akan pensiun dari hati kalian kan?


Yang gue tau kelas kita sangat rusuh.
sangat sangat rusuh.
semua orang bisa di bully
dari nge bully dhono yang jadi rutinitas harian
atau ngagetin ibtisani yang jadi hiburan
atau manggil putri dengan MP
sekarang malah jadi nama panggilan beneran
8D emang keren


Gue masih inget pas kita acex
acex kebanggaan gue sampe sekarang
stand jepang
dekor super keren
makasih ifal udah nyumbangin benda-benda
makasih yang jaga stand yang gue gak afal
makasih tim dekor
makasih abby dan dila yang fashion show
makash makasih makasih


8D bukan cuma luarnya yang keren
dalemnya juga
ada jago silat macem MP
ada anak kembar azura dan aca
eh tapi aca juga mirip aria
gitu deh
ada yang kagetan
ada yang pendiem
BANYAK yang homo.. serius. kalian kenapa sih
ada yang cuma muncul di saat tertentu
misalnya savira
yang eksis, yang nggak, yang baik, yang ngeselin..
penampilan dan bakat kita beda-beda
tapi satu yang pasti
kita gak bakal jadi kita yang sekarang kalo 8D gak bertemu


kita udah 2 kali lari yang heboh
yang pertama kali kehidupan sehari-hari
kita semua rusuh
beneran rusuh banget
aji sampe goyang gayun di jalan
semuanya keren
yang kedua bareng givetra
lari terakhir sama nakra
kita temanya country
hari ini savira lahir
atau muncul.. gue gak ngerti
tapi hari ini kalian menutupi kesedihan gue
lagi, terima kasih.
pas gue nulis ini kita mau lari heboh yang ketiga kali
yang terakhir.
temanya black and white
kita harus rusuh ya 8D
karena bukan 8D kalo gak rusuh


Inget kan gamesnya bu dita?
inget kan kita nyerang dhono?
atau tita atau tissa?
inget berapa tahun baru yang kita buat?
seinget gue, kita sekarang udah tahun 2020
kita 8D
kelas yang bisa melakukan perjalanan ke masa depan
kalo ada games


tahun ini wali kelas kita nikah
kita bikin video sama photoshoot gitu kan?
inget waktu kita merusuh buat nyanyi marry you bareng-bareng?
inget kan betapa kita memancing perhatian orang lain?
menurut gue suara kita waktu itu lebih indah dari apapun
lebih indah dari one direction, adele, atau siapapun
sebut aja gue hiperbola. tapi gue jujur
karena gak semua 39 orang lain
mau nyanyi bersama buat satu guru
yang sering bikin kita remed
hahaha peace pak cep.
suara kita bergema sampai jauh
karena kita tulus?
bukan
karena kita rusuh



kita mungkin gila, tapi kita gila bareng-bareng
gue gabisa berenti nangis waktu nulis ini
gue bahkan gamau repot ngapus air mata
biarkan semua orang lihat
gue sedih harus pisah
gue mau ngasih segalanya buat setahun lagi sama kalian
walaupun ada yang ngeselin
ada yang bacot
yang bacot itu ale. iya le, lo bacot banget
yang ngeselin silakan kalian tunjuk sendiri
pasti virza mau bilang dhono kan?
tipikal 8D banget
gue bakal kangen ini
pasti


kalian tau lagunya Ipank?
yang judulnya sahabat kecil
itu bercerita tentang sahabat yang setia
selalu menunggu hujan berakhir untuk menatap pelangi
8D
pelangi kita udah redup
pelangi kita akan menghilang
ayo semuanya lihat pelangi indah ini
sekali lagi
untuk terakhir kalinya
lihat pancaran warnanya
semua berbeda kan?
ada yang tebal dan tipis, tua dan muda
seperti kita kan?
39 orang yang sama sekali berbeda
bersama-sama
membuat hal yang indah
yang tak terlupakan
8D
pelangi ini beda
pelangi ini punya kita
pelangi ini luar biasa
pelangi ini punya nama
namanya keren lho
nama yang kita semua tau dan ingat
nama kita
pelangi kita
kenangan kita
dari ale sampai virza sampe balik lagi ke ale
semuanya bersama membuat pelangi yang indah ini
mau tau namanya?
nama pelangi ini


Domika8Do

from 2011 to eternity



Sunday, May 6, 2012

Please don't think i didn't try to stop caring for you. I tried. So hard it hurts myself. But I just can't seem to stop. So i tried to hate you. But this is harder. Because every mistake you made only completes you. And every part of you deserved to be cared and held gently. because the last girl didn't hold your heart gently. So i just can't bring myself to hate you.

..and here's the end

Today i sent a letter for you. But i doubt you'll reply. I stand corrected, you didn't. but it's okay. Several days later, it's the last official learning day for you. We all wear costumes and stuff to celebrate. You look funny. I want to take a picture with you but can't. I'm too scared. Today i see you many many times. God is giving me the best opportunity to see you because it'll be the last time. I remembered i feel scared. I'm scared i will never see you again. So, i write another letter. But I never give them to you.

... right to the bittersweet...

It's your third year. I don't see you as much as last year. Especially after you're out of the student council. It's hard to find you. and it gets harder when your girlfriend left you. Yeah, i expect this from dat girl but you didn't. I know you're broken. Shattered. Teared to million pieces. Since then, i can't find you in your class, nor everywhere. You seemed to vanish. It took so long for you to recover. But i know you will find a better girl.

.. To the middle...

Day by day, I've grown to like you. But i tried to stop it because I know, you'll be leaving this place first. I know i can't stop you. At this moment, you look so happy with your girl. I prayed you two would breakup because i always see you give all your love while she only give half. But i realized, it's not important. The important thing is you should be happy. She can have you, but i'll always be on your side if anything happen. Even if you don't know me. Well, your second year is over and so is my first year. Next time I see you, you'll be different. I'm sure.

from the beginning...

I know you as a senior in the student council. Who tells us to move faster, eat faster, stick with our group, and stuff. At first i don't know your name. I only know that you are very bossy. At the end of the event, i overheard my friends saying that someone called joy is quite cute. Later, i figure it out it was you by looking at your nametag. I couldn't help but laugh. I think my friends has a weird taste and stuff like that. When you walk by, i had to look away or else I'll burst in laughter. I think you're not what they say. I think they're wrong. As days pass, I began to think that you're okay. You're not that bad, and you were bossy for a reason. I also figured out your girlfriend. She's beautiful. At that time, i didn't know you'd be an important part of my life.

Tuesday, April 10, 2012

kumpulan seandainya


kumpulan seandainya yang makin menjadi random
  1. seandainya joy tau..
  2. seandainya dia peduli
  3. seandainya dia gak perlu pergi
  4. seandainya perjalanan dia masih jauh
  5. seandainya gue gak terlalu berharap
  6. seandainya hari ini gue masuk
  7. seandainya gue bisa minum coca-cola
  8. seandainya satu hari lebih dari 24 jam
  9. seandainya gue gak kangen lo selama di padang
  10. seandainya gue gak berharap lo kangen balik
  11. seandainya kita masih kayak dulu
  12. seandainya kata-kata lo gak gue pikirin
  13. seandainya ini cuma momen
  14. seandainya lo gak ditolak, apakah kita akan begini
  15. seandainya gue pinteran dikit
  16. seandainya pakcep gak ngeselin
  17. seandainya kemaren gue jadi remed
  18. seandainya gue gak salah mengartikan
  19. seandainya gue gak pernah mikirin lo
  20. seandainya gue gak perlu ngelepas joy
  21. seandainya nakra naik lagi
  22. seandainya semua kembali seperti dulu
  23. seandainya labsky jadi 8-9-10 lagi
  24. seandainya scavoreight gak pergi
  25. seandainya givetra gaakan ninggalin xepuluh
  26. seandainya sebelas gak dateng
  27. seandainya gue masuk SMA 28 (amin)
  28. seandainya segalanya jadi lebih mudah
  29. seandainya ekspektasi ortu gue gak setinggi ini
  30. seandainya suara gue didengar
  31. seandainya gue kesenian 2
  32. seandainya gue dekor
  33. seandainya gue bisa ngulang tanggal 1 maret
  34. seandainya gue gak jadi menye-menye gara2 post ini
  35. seandainya bisa mikir banyak 'seandainya..' biar bisa 100
  36. seandainya lo gak deket2 cewek twoface kayak gitu
  37. seandainya gue jadi dokum pabuken (amin)
  38. seandainya gue masuk panitia buku kenangan (AMIN!!!)
  39. seandainya gue punya SLR
  40. seandainya gue punya pacar
  41. seandainya gue gak KO di nomer 50
  42. seandainya nama gue bukan gini
  43. seandainya seandainya
  44. seandainya ada makanan dirumah
  45. seandainya 9gag itu gak berujung
  46. seandainya gue gak males buka tumblr
  47. seandainya gue gak ansos
  48. seandainya ketua panitia gak nepotisme
  49. seandainya pak ucok gak nepotisme
  50. seandainya gue mau bilang alhamdulillah karena udah 50
  51. seandainya gue gak di anak tirikan sama anak eksis
  52. seandainya gaada pilih kasih
  53. seandainya afika emang nemu yang baru
  54. seandainya kalo gue bangun pagi didatengin popmie
  55. seandainya gue jadi tinggi dikit lagi
  56. seandainya gak pada males baca beginian
  57. seandainya diluar gak hujan
  58. sandainya kalian sadar kata pertama nomer 58 salah nulis
  59. seandainya gue gausah bilang kata-kata diatas
  60. seandainya gue gak grammar nazi
  61. seandainya gue tau gue grammar nazi atau bukang
  62. seandainya 9gag gak nyuci otak gue
  63. seandainya gue bisa kembali innocent
  64. seandainya gue gak pilek
  65. seandainya gue bisa ke singapur lagi
  66. seandainya gue dapet beasiswa ke jepang
  67. seandainya gue tau gue mau jadi apa
  68. seandainya gue ngerti perasaan gue sendiri
  69. seandainya shinichi gak berubah jadi conan
  70. seandainya oragnisasi baju hitam kena serangan jantung semua terus mati
  71. seandainya gue bisa naikin nyancat
  72. seandainya blog ini ada yg baca
  73. seandainya kalian baca semua yg gue tulis disini
  74. seandainya gue gak mager nulis surat burung bangau buat joy
  75. seandainya bisa ngulang acex 2012
  76. seandainya desain gue menang
  77. seandainya gue nyadar udah 77
  78. seandainya nyokap gue gak lupa masukin garam ke telor dadar
  79. seandainya gue gak kecanduan 9gag
  80. seandainya cepetan 100
  81. seandainya ini udah ke 99
  82. seandainya ini bukan nomer 82
  83. seandainya gue bisa ke padang lagi
  84. seandainya gitra gak kita bully jadi citra
  85. seandainya ayesha gak dibully jadi anto
  86. seandainya nomer 84 & 85 terjadi, gue nangis
  87. seandainya gue sanggup nyelesein dear you
  88. seandainya gue masuk 9C (AMIIIIN)
  89. seandainya joy masuk tarnus
  90. seandainya semua bisa bahagia
  91. seandainya gue gak writer block
  92. seandainya gue nemu blognya mirta
  93. seandainya masih ujan
  94. seandainya semuanya simpel
  95. seandainya lo bener-bener peduli
  96. seandainya lo bukan cuma ramah
  97. seandainya gue tau arti kata-kata lo
  98. seandainya lo mau bilang kata-kata itu lagi
  99. seandainya lo liat gue pas gue gak keliatan lagi
  100. seandainya gue milik lo