Sunday, October 13, 2013

Kembali

Suatu ketika di siang menjelang sore, aku mengunjungi rumahku tiga tahun lalu. Rumah bernama ruang seni rupa itu masih terasa sama, dan manusia di dalamnya masih terasa seperti keluarga. Dan aku bahagia bisa pulang pada mereka.

Suatu masa itu, aku menyusuri lorong rumahku tiga tahun lalu. Rumah bernama SMP itu masih terasa sama. Cahaya matahari yang menyusup di antara terali pagar masih terasa hangat di kulitku. Aku bahagia bisa pulang.

Suatu hari itu aku mengintip ke dalam rumahku satu tahun lalu. Rumah bernama ruang PKn itu tetap sama, walau tanpa jiwa-jiwa ceria yang mengisi bangkunya. Walau tanpa celoteh riang kita, rumah tetap rumah. Dan aku bahagia bisa pulang. 

Namun kepulanganku terasa kurang. Seakan ada satu detil yang hilang dari kunjunganku. Seakan ada yang berubah, namun aku tak tahu apa. Aku terus berpaling, namun tak kutemukan apa yang hilang. Hingga lelah ku menengok, aku sadar apa yang kurang. Aku sadar, rumah keempatku yang tidak bisa kukunjungi.

Rumah itu adalah jiwa. Jiwa angkatan kesepuluh. Jiwa rexasta pravoira. Rumah itu adalah tawa 212 anak, jeritan riang, teriakan ramai, dan rinai celoteh kita. Rumah itu adalah kebersamaan kita. Rumah itu, adalah kita. Dan jelas aku tidak bisa pulang ke rumah yang ini. Rumah ini hancur. Rusak. Terbengkalai. Sehingga tak terasa rumah lagi. Rumah terpenting, namun paling rapuh. Paling mudah hancur. Karena hanya butuh waktu dan melupakan untuk menghancurkannya. Seperti sekarang.