Sunday, September 8, 2013

Surat lagi

Haloh

Tau nggak? Di sini ada seseorang yang begitu mirip denganmu. Dia berkacamata juga, suka tertawa juga, dan kalau panas wajahnya berubah merah. Persis kamu kan? Dia juga penuh inisiatif, ngotot, dan penuh canda. Dia membuatku selalu ingat kamu, walaupun kamu di sana dan aku di sini. Kamu tahu? Hari ini ia mengenakan jas, sebagaimana kamu dua tahun lalu. Kalian sama-sama terlihat bahagia. Namun sayangnya, dia bukan kamu. Dan hanya dengan kamu aku bisa bahagia sepenuhnya.

Kamu tahu? Aku setiap hari berusaha menepis figurmu dari hidupku. Aku berusaha kembali menjadi aku sebelum bertemu kamu. Ternyata sulit ya, untuk melupakan? Kamu tertanam begitu dalam, hingga sulit melepaskan. Menyayangimu seperti menggenggam sebuah kawat berduri. Semakin kugenggam, semakin banyak darah yang mengalir. Dan kala aku berusaha melepas, terasa amat perih, saat dan sesudahnya. Aku muak dengan kawat berduri. Aku ingin menggenggam kain sutera saja. Namun, Allah tidak menganugerahiku kemampuan untuk mencintai seorang 'kain sutera'. Ia hanya memberiku cinta yang begitu besar untuk seorang 'kawat berduri'.

Kadang aku berpikir, apakah kamu ingat padaku? Apakah pernah, kamu mengobrol tentang SMP tercinta ini dan ketikanya teringat padaku? Pernahkah kau menceritakan diriku pada orang lain? Karena aku begitu sering menyebut namamu, mendeskripsikan kamu, dan berusaha begitu keras terlihat membencimu. Because if you lie long enough, it'll become the truth. I hope if i pretend to hate you long enough, it'll come true.

Tapi, ternyata terlalu sulit untuk membencimu. Kamu terlalu berpengaruh, dan aku terlalu mencintaimu untuk bisa melepaskanmu. Kalimat tadi terdengar begitu gombal dan murah. Namun tak apa, sekali saja aku terdengar aneh untukmu. Mungkin, ini terakhir kalinya aku menulis untukmu. Mungkin, inilah saatnya untuk melupakan kamu. Mungkin, inilah waktuku untuk mencari cinta yang baru, yang seperti kain sutera. Karena aku muak dengan kawat berduri sepertimu