Saturday, February 16, 2013

Kita dan Semesta

Seandainya semesta mau hari ini kita bertemu, maka kita pasti bertemu.

Tapi sepertinya semesta masih sibuk dengan urusan lain. Ia masih belum memiliki waktu untuk mengurusi dua remaja bodoh semacam kita. Mungkin, semesta sedang mempertemukan seorang ayah dengan anaknya. Mungkin karena itu aku di rumah dan melukis sementara kamu di sana berjalan-jalan.

Bila semesta mau, saat ini juga kamu bisa mengetuk pintu rumahku.

Tapi sepertinya semesta punya hal lain untuk diatur, karena nyatanya aku tidak mendengar ketukan atau 'assalamualaikum' dari kamu. Mungkin hal itu sangat darurat, jadi semesta menahan dulu untuk mempertemukan kita. Bila memang benar begitu, tidak apa-apa kita tidak bertemu sekarang. Siapa tahu semesta sedang merencanakan senja yang indah dimana kita akan bersama di bawah siraman cahaya jingganya.

Aku tahu semesta akan menarik kita bersatu, tapi persisnya kapan hanya dia yang tahu.

Aku tidak keberatan menunggu kamu. Walaupun sudah cukup lama, tapi aku masih merasakan hangat yang sama ketika melihatmu. Aku masih menemukan senyum di bibirku ketika kita bertemu. Dan kupu-kupu masih setia bermain dalam perutku setiap kau berbicara padaku. Hei, dulu kau pernah mengatakan bahwa bertemu orang yang dicintai itu geli kan? Kamu benar ternyata, aku selalu merasa begitu ketika melihat kamu.

Aku tahu kita akan bertemu. Sungguh, aku yakin tentang itu. Tapi, sampai saat itu tiba, sampai ketika semesta memutuskan, maukah kamu membalas pesanku?

No comments:

Post a Comment