Sunday, November 25, 2012

Imagination




 “Nerine, mau makan kue nggak? Enak lho!” seorang gadis berumur 12 tahun berkata sambil mengacungkan kue di tangannya. “Oh, udah punya? Yaudah, yang ini buat aku aja ya!”lanjutnya sambil menggigit kue di tangannya. Mungkin pembicaraan tadi terdengar normal bagi orang yang tidak melihat Alana secara langsung. Tetapi, orang-orang yang melihat apa yang baru saja dilakukan Alana pasti akan mengerutkan kening. Tentu mereka bingung, siapa yang diajak bicara Alana padahal di depannya hanyalah sebuah kursi kosong. Tapi Alana tak pernah mengindahkan tatapan-tatapan aneh yang ditujukan padanya. Dia terlalu sibuk bercanda dengan Nerine.
Alana adalah anak yang istimewa. Selain manis, ia juga sangat mahir memainkan kuas diatas kanvas. Kemampuan mereka ceritanya juga sangat baik. Mama Alana pernah berkata padanya bahwa daya imajinasinya sangat besar, karena itu Alana kecil sudah bisa membuat lukisan yang tidak terpikirkan teman-temannya. Ketika teman-teman kelas satunya masih mencontoh gambar mickey mouse atau tweety, Alana menggambarkan seorang anak perempuan yang belum pernah dilihat siapapun. Anak perempuan itu berambut cokelat ikal yang jatuh hingga ke pinggangnya. Ia memakai mahkota bunga dan sedang tersenyum. Walau gambar itu masih sangat sederhana karena Alana masih kelas satu, teman-temannya memuji Alana dan bertanya-tanya. “Gambar kamu bagus deh Alana! Tapi itu siapa?” Alana hanya tersenyum dan menjawab “Ini Nerine.”
Tidak ada yang tahu, bahwa sejak kelas 3 SD Alana memiliki seorang  teman khayalan bernama Nerine. Awalnya, Alana yang selalu sendirian menggambar dirinya sendir dan seorang teman. Lama-lama ia membayangkan teman itu ada di sekitarnya hingga suatu hari, Nerine Nampak benar-benar nyata. Alana  sangat senang saat itu. Di tengah pelajaran IPS yang membosankan, ia hanya perlu membayangkan Nerine dan muncullah dia, menemani Alana hingga pelajaran usai.
Atau, selama yang Alana mau.
Lama-lama, Alana merasa ia membutuhkan teman dekat yang selalu ada di sekitarnya. Maka, sejak kelas 6 SD ia tidak pernah menghilangkan Nerine. Ia mulai berbicara secara terbuka pada Nerine seakan ia nyata dan berhenti bersosialisasi dengan manusia nyata. Mama Alana bilang ia butuh bantuan dan pikirannya terganggu. Tapi Alana tidak peduli. Yang penting, sekarang ia tak akan pernah sendiri lagi. Ia akan selalu punya Nerine.
***

Raka tertawa riang di dalam mobil. Bocah 12 tahun itu terlihat seperti ia sedang bercanda dengan sesuatu yang tak kasat mata. Mamanya hanya menggeleng maklum. Ini kedua kalinya Raka ke rumah sakit untuk menyembuhkan penyakit mentalnya. Raka merasa Ia memiliki seorang teman bernama Widi. Mama Raka tidak tahu persisnya kapan dan bagaimana Widi muncul. Yang dia ingat waktu itu Raka pulang sambil menangis dan berkata “Aku jatuh dari sepeda dan Widi tidak membantuku berdiri!” Mama yang bingung bertanya, siapakah Widi? Raka bukan tipe anak yang mudah mendapat teman dan lagi, di sekitar sini tak ada anak yang bernama Widi. Ketika mama bertanya, Raka hanya nyengir dan berkata, “Ini ma, ini Widi.” Sambil menunjuk tempat di sebelahnya. Mamanya kaget dan segera membawa Raka ke seorang psikiater. Kata psikiater, Raka hanya sedang memiliki teman khayalan dan mamanya tak perlu khawatir.
Suara tawa Raka membuyarkan lamunan mamanya. Ia menghela napas dan berpikir, “Tak perlu khawatir? Teman-teman Raka berhenti memiliki teman khayalan 4 tahun yang lalu! Sementara Raka masih terus-terusan ‘berteman’ dengan Widi. Semoga saja dokter yang ini cukup bagus untuk menghilangkan Widi. Tidak sehat bagi Raka untuk memiliki teman yang tidak nyata.”

***
Lorong rumah sakit ternama itu sepi kecuali dari suara langkah kaki seorang anak perempuan mungil. Ia memeluk sebuah boneka beruang dan menangis sambil terus berjalan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari sesuatu. Pundaknya naik turun sesuai dengan irama isak tangisnya yang pilu. Bibir mungilnya terus menggumamkan hal yang sama berkali-kali sejak ia meninggalkan kamar terapinya. “Nerine, sini Nerine. Nerine, muncullah.” Isak Alana tak henti-henti. Ia tak mengerti apa yang dilakukan dokter itu hingga ia tak bisa lagi memunculkan Nerine. Jam menunjukkan pukul 9 malam, tapi Alana tidak berniat tidur sebelum bertemu Nerine.
Langkah kakinya membawa Alana ke suatu lorong yang belum pernah ia datangi. Beberapa suster menatapnya dengan raut wajah kasihan. Melihat dari boneka-boneka yang bergelantungan di atas kepalanya, mungkin ia berada di dekat bagian dokter anak. “Berarti aku sudah berputar untuk ketiga kalinya. Apa yang harus aku lakukan untuk bertemu Nerine?” pikirnya. Bukannya Alana belum pernah kehilangan Nerine sebelumnya. Waktu di kelas 4, ia pernah begitu tenggelam dalam melukis hingga Nerine menghilang. Tapi, tidak sampai esoknya Alana sudah bisa memunculkan Nerine lagi. “Dokter itu jahat sekali. Mengapa ia menghilangkan temanku? Pasti ia tak pernah merasakan kehilangan sesuatu yang begitu dekat dengannya. Yah, kehilangan Nerine terasa sakit!” Akhirnya Alana menyerah dan kembali ke kamarnya. Mungkin esok Nerine akan kembali muncul di hadapannya.
***
Nafas Raka tersenggal-senggal. Ia sudah berlari cukup lama di sekitar rumah sakit ini. “Widi!” teriaknya lantang. ‘Widi!! Kamu kemana?!” Sejak ia bertemu dokter tadi pagi, Widi menghilang. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan dokter itu, tapi pokoknya dokter menghilangkan Widi! Ini benar-benar tidak adil, Raka sudah bersama Widi selama yang dia ingat, mengapa tiba-tiba seseorang mengambil Widi darinya? Raka terus berlari dan berteriak. Tanpa ia sadari, di depannya ada seorang anak perempuan.  Tidak sempat mengerem, Raka menabrakrnya dan mereka berdua terjatuh.
Raka menatap heran ke arah perempuan di depannya. Wajahnya mungil dan rambut hitamnya yang ikal diikat ke belakang. Wajahnya sembab karena menangis. Untuk sesaat Raka mengira ia menemukan Widi. Tapi yang di depannya bukan Widi, melainkan seorang anak perempuan yang begitu mirip dengannya. Anak itu mengangkat salah satu alisnya heran, persis seperti Widi! “Nama kamu siapa?” Raka memberanikan diri bertanya. “Tolong bilang kalau kamu Widi. Widi yang nyata.” Batin Raka sementara menunggu anak di depannya menjawab. “Aku Alana.”
***
Alana menatap anak di depannya bingung, mengapa ia tampak kecewa? Memangnya ada apa dengan nama Alana? Anak di depannya langsung membeku ketika Alana menyebutkan namanya. “Kalo kamu, namamu siapa?” kata Alana menyadarkan anak laki-laki di depannya. “Hah? Eh, aku Raka.” Kata anak itu terkejut. “Alana, kamu lagi ngapain malem-malem jalan keliling rumah sakit?” Tanya Raka, memecah hening yang mulai merasuk di antara mereka. “Aku mencari temanku, namanya Nerine.” Alana menjawab. “Kalo kamu? Ngapain teriak-teriak malem-malem?”.
“Aku lagi nyari Widi.”
“Widi itu temen kamu?”
“Iya, deket banget sama aku.”
“Widi hilang gara-gara ketemu dokter ya?”
“Kok kamu tau?” Raka terdengar agak kaget.
“Soalnya Nerine juga begitu.” Tandas Alana sambil menunduk, menahan tangis. “Kalau begitu, yuk kita cari sama-sama!” kata Raka riang. “Berdua lebih seru kan?” . Alana tertegun. Perlahan, bibirnya membuat senyuman ragu. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh lengan Raka. “Nyata. Raka beneran manusia.” Pikirnya. “Nerine, gimana nih? Aku udah lama nggak temenan sama manusia. Aku takut. Nerine, bantuin dong.” Pikir Alana sambil menatap Raka yang juga tertegun di depannya. AKhirnya anak laki-laki itu berdiri dan mengulurkan tangan pada Alana.
***
“Aneh, tangan Alana terasa berbeda dengan tangan Widi. Tangan Widi terasa seperti angin sementara Alana.... Alana terasa seperti mama dan papa. Aneh, mengapa bisa berbeda ya?” Pikiran Widi berkecamuk di kepalanya. Akhirnya ia menggeleng dan mengenyahkan pikiran tadi dan mengulurkan tangannya pada Alana. “Aku temenin kamu balik ke kamar. Besok kita cari Nerine sama Widi lagi ya, sekarang udah malem.” Alana menyambut tangan itu dan mereka bersama-sama menuju kamar masing-masing.
Hari-hari berikutnya dihabiskan Alana dan Raka dengan bersama-sama menngelilingi rumah sakit mencari Widi dan Nerine. Kadang, mereka juga bermain bersama di taman dekat rumah sakit. Raka merasa sangat nyaman dengan Alana. Seakan, ia tak butuh Widi lagi. Ia punya teman baru yang baik dan cantik. Ia punya teman yang bisa membuat hatinya berdesir aneh. Raka tidak tahu nama perasaan ini, tapi Raka tidak mau kehilangan Alana. Ia tidak mau mata bulat Alana berhenti menatapnya, tangannya yang hangat melepaskan gandengannya, dan bibirnya berhenti berceloteh padanya. Ia tidak mau Alana pergi. Maka, suatu hari ia memutuskan untuk mengatakannya,
“Alana, bagaimana kalau kita berhenti mencari?” Tanya Raka di suatu hari yang cerah. Mereka sedang duduk di taman bersama. “Aku lelah, dan,” Raka menelan ludah. “Mengapa sulit sekali mengatakan hal ini?” Raka menghela napas dan melanjutkan, “dan aku udah nggak butuh Widi. Aku mau sama Alana aja. Mau nggak, kamu sama aku aja?” akhirnya Raka menyelesaikan kata-katanya. Ia bisa merasakan Alana menegang dan menggeliat tidak nyaman di sebelahnya. Ia bisa mendengar Alana berpikir, entah apa. “Raka,” Akhirnya telinga Raka menangkap suara lembut Alana. “Tapi aku nggak mau sama kamu, aku mau sama Nerine. Maaf Raka, mending kamu juga lanjutin cari Widi.” Alana menjawab sambil bangkit dari posisi duduk dan berjalan ke arah rumah sakit lagi. Meninggalkan Raka sendirian di bangku taman.
Angin berdesir menyentuh tangan Raka. “Dingin, nggak kayak Alana.” Pikirnya. “Sepi sekali tanpa Alana, tidak ada yang berbicara, tidak ada rambut lembutnya yang tertiup angin dan mengelus pipiku. Tidak ada senyuman manis, tidak ada tawa, tidak ada Alana. Aku sendirian.” Raka menghela napas. Pipinya terasa basah dan matanya panas. Ia tertawa mengejek dirinya sendiri. “Aku sendirian.”  Tiba-tiba raka berdiri dan berlari. “Sendirian! Ha, aku memang ditakdirkan sendirian!” Ia terus berlari, tanpa disadarinya ia berlari ke arah rumah sakit di seberang jalan. “Aku tidak dibutuhkan. Aku tidak penting! Karena ini aku cuma punya Widi!” Tiba-tiba terdengar suara decitan ban. Tubuh Raka terlempar karena hantaman benda keras dan mendarat dengan kasar di atas aspal. “Sendirian. Aku memang harus sendirian.” Pikirnya sebelum ia menutup mata dan kehilangan kesadaran.
***
Sudah tiga hari Alana tidak melihat Raka. Ini benar-benar membingungkan. Biasanya jam 8 pagi Raka sudah muncul di kamarnya. Apa Raka marah padanya? Apa ia agak jahat padanya tiga hari yang lalu? Padahal hari ini tanggal 13 Maret, hari ulangtahun Raka. Ketika Alana tiba di dekat kamarnya, ia mendengar mamanya dan dokter berbicara.
“Bu, maaf sekali tapi terapi untuk Alana gagal.”
“Jadi, Nerine akan muncul lagi dan menjadi teman khayalan Alana lagi?”
Nerine akan muncul? Baguslah, akhirnya ada berita bagus di antara kesuraman hidup tanpa Raka.
“Mungkin, tapi kita belum tahu.”
Alana sudah tidak mendengarkan pembicaraan itu lagi, ia berlari ke taman di dekat rumah sakit. Ia akan bertemu Nerine lagi! Ini menyenangkan sekali. Ketika ia tiba di taman itu, Alana duduk di kursi panjangnya dan berusaha membayangkan Nerine. Aneh, tapi sekarang rasanya sulit sekali membayangkan Nerine. Padahal dulu rasanya begitu mudah. Ketika ia membuka mata, ia melihat sosok yang familiar berdiri di depannya. “Raka?” Alana tak percaya. “Halo Alana, udah ketemu Nerine?” Raka bertanya ramah sambil tersenyum manis. “Belum, katanya aku akan ketemu dia lagi. Tapi kapan?”. Raka tertawa kecil dan mengulurkan tangannya pada Alana. “Ya sudah ayo kita cari bareng-bareng lagi yuk.”
***
Mama Alana masih berbicara dengan dokter di kamar Alana.
“Jadi, teman khayalan Alana akan berbeda dari Nerine?”
“Ya bu, kemungkinan beberapa hari ini Alana sudah bisa menghilangkan Nerine, jadi mungkin dia sudah lupa detil-detil Nerine. Maka teman khayalannya akan berubah. Apa ibu mau saya melanjutkan terapi?
Mama Alana menghela napas dan tersenyum, “Tak usah lah dok, asalkan Alana bahagia tidak apa-apa. Yang penting ia sehat.” Tandas mama Alana, tak menyadari anaknya sedang berjalan di koridor bersama teman khayalan barunya yang serupa dengan Raka.

Sunday, November 18, 2012

pilihan

Kalau bisa memilih, aku nggak ingin memilih jatuh cinta padamu.

Kalau bisa memilih, aku ingin seperti perempuan lain, jatuh cinta pada laki-laki yang tampan, pintar, baik, dan sebagainya. Kalau bisa memilihi, jelas jatuh cinta pada mereka terdengar jauh lebih normal daripada jatuh cinta padamu. Jika aku jatuh cinta pada mereka, tiap aku bercerita teman-temanku akan berkata "Iya, dia emang ganteng" dan bukannya "Kenapa harus dia?". Sungguh, aku nggak mau jatuh cinta denganmu. Kamu nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Kamu nggak ganteng, adik kelas kita aja yang agak buta bilang kamu ganteng. Iya sih kamu pintar, tapi sombongnya setinggi langit. Kamu baik kalau ada maunya atau kalaupun bantuin, pasti sambil ngedumel. Alim? kamu jauh dari alim. Kamu juga nggak populer atau menonjol. Pantas saja orang tertawa waktu aku bercerita tentangmu pada mereka.

Lalu kenapa akhirnya aku jatuh padamu? Aku sendiri juga nggak tahu sih. Mungkin nanti aku akan tahu kalau perasaanku berbalas dan kita bersama (Ha ha ha, berapa ribu tahun lagi untuk hal ini terjadi?). Kuberi tahu ya, cinta tidak butuh alasan. Jika memiliki alasan, ketika alasan itu hilang apakah cinta juga ikut hilang? Cinta itu aneh kan? Absurd tapi absolut. Nyata namun semu. Banyak hal dalam kehidupan kita yang tak perlu penjelasan, cinta salah satunya.

jadi, kalau di tanya mengapa aku jatuh cinta padamu, mengapa harus kamu, dan apa bagusnya kamu, aku jawab dengan "Karena dia adalah dia. And nobody can be 'him' better than himself." 

Friday, November 16, 2012

Stupid Souls

These stupid souls is familiar yet strange. So real yet surreal. As if we touch them they feel true but all they are is a beautiful lie. They say sweet words as sweet as honey but all it is are sakharine. It is sweet but there's no good comes from it. Some of these stupid souls have a doofus grin while the other with a graceful smile. Their eyes are either deep or glitter with happiness. Some has light skin, some has dark ones. Half smiles a lot half stays quiet and misterious. Either way, there is always someone who find them attractive. These stupid souls do stupid stuff they claim by the name of love. They are also oblivious and well, stupid. They chase what they want and only stops when they hit concrete wall or suceeds. The stupid souls are damn stupid yet we still fall for them. The stupid souls are annoying but we can't bring ourselves to hate them. These stupid souls have a name we all know well. We call them as boys.