Tuesday, July 23, 2013

Perjalanan Kami di Nev9Erland

Why do I post this? Because I missed you guys too damn much. Because I hate growing apart from this class. Because I feel like everyone starts to forget about us. This is my writing, of a class who will never grow up.
-------

9E, kelas yang tersembunyi di balik pepohonan taman kecil. Kelas yang ceria, yang tawanya berdering hingga kejauhan walaupun selalu saja ada tawa yang terlambat. Kelas yang ramai, dengan segala celotehan 39 anak yang tiada ujungnya. Kelas ini, bernama Nev9Erland, yang diambil dari nama pulau terkenal tempat tinggal Peter Pan. Dalam kisah itu, siapapun yang menginjakkan kaki di Neverland tidak akan tumbuh dewasa. Namun, kelas ini memiliki kisah yang berbeda. Kisah yang akan kuceritakan padamu sekarang.

Kelas ini pertama bertemu, pada pagi hari menjelang siang di suatu masa yang tidak begitu kuingat. Masih kuingat jelas, bagaimana ramainya obrolan kita pada hari itu. Beberapa terlihat kaget, melihat teman sekelas mereka untuk satu tahun ke depan. Namun, ada juga yang bahagia. Mungkin ada yang sedih, namun itu jelas tidak tampak. Peristiwa yang terdengar begitu remeh seperti ini, mengawali perjalanan 39 anak di Nev9Erland.

Hari-hari setelahnya pun terasa bagaikan kisah yang indah. Belajar bersama setiap harinya, bersama 38 sahabat di sisi kita. Tiap hari kita bertukar tawa dan canda, walau kadang juga tangis pilu kala kita teringat, perpisahan besar itu begitu dekat. Namun, bukankah tidak ada yang akan tumbuh dewasa di neverland? Pikiran itu kutepis jauh-jauh, memberi ruang lebih banyak untuk kebahagiaan dan kebersamaan kita yang begitu hangat. Entah ketika jam sekolah, paket, atau apapun. Ketika kita bersama, rasanya tak ada yang lebih sempurna. Bayangkan, 39 orang. 39 kepribadian yang berbeda, suara yang berbeda, pendapat yang berbeda, melebur menyatu menjadi sebuah kelas yang penuh kenangan. Mulai dari tawa Abdur yang selalu terlambat, tawa Radhia yang lebih unik dibanding yang lain. Virza dan Dhio yang ceplas-ceplos, Seno dan Naufal yang pendiam. Aza yang bersuara lantang, maupun Abby (ebi) yang suaranya lembut. Kita semua berbeda, kita tak ada yang sama. Namun satu yang mengikat kita, kehangatan Nev9Erland setiap harinya ketika kita bersama.

Kenangan yang membekas di hati kami begitu banyak. Jika kucoba untuk menuliskan semua, tentu kertas ini tak akan cukup. Satu tahun bersama telah memberikan kami semua begitu banyak kenangan. Salah satunya tentu adalah ketika foto buku kenangan. 9E, ingat betapa hebohnya kita? Ingat kostum-kostum kita? Ada 2 Peter Pan, 2 Wendy yang cantik, Lost Boys, Fairies, dan masih banyak lagi. Kita beramai-ramai berfoto di Kebun Raya Bogor. Ingat betapa rusuhnya kita? Di siang yang terang itu kita bersama-sama menangkap kenangan yang akan selamanya tersimpan sebagai kenangan masa-masa bahagia bersama 9E. Di kali lain, seluruh siswi 9E memasak nasi goreng bersama-sama. Mereka bekerja bersama, berusaha membuat makanan yang enak. Betapa rusuhnya mereka kala itu, mengingat sedikitnya nasi namun perlu memberi jatah setiap anak di kelas. Akhirnya mereka berhasil membuat nasi goring yang enak, walau dengan jatah tiap orang yang begitu sedikit.

Satu hal lain yang membuat kelas ini berbeda, adalah figur misterius bernama Mimin. Orang ini bersembunyi di balik akun twitter kelas dan berhasil menyatukan kami untuk keputrian hari itu. Sejak itu, banyak yang mempertanyakan identitasnya. Tiga anak perempuan membuat program untuk menangkap wajah di balik topeng bernama 'Mimin'. Mereka bertekad akan menangkap Mimin sebelum refleksi. Walaupun gagal, namun mereka puas. Mimin membuka jati dirinya ketika refleksi, kerja keras mereka tidak sia-sia. Lagi pula, seluruh program aneh ini telah berhasil membawa kelas menjadi semakin dekat dengan cara yang menyenangkan.

Kelas ini memiliki figur ibu yang sangat hebat. Ia dengan cekatan mengurus kelas ini sendirian, mengingatkan belajar, mewarnai PA dan WS kita sehingga tak pernah muram. Selain itu, ia juga berperan sebagai teman, bahkan menyisakan waktu untuk berusaha mengenali kita secara personal. Terima kasih Ibu Ruslina, ibu kami yang baik, yang cantik dan selalu berpakaian warna-warni, secerah hari-hari kami yang diwarnai beliau. Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih. Karena sesungguhnya hanya itu yang dapat kami berikan, sebagai balasan jasa ibu yang begitu besar. Jangan lupakan kami, 39 anak ibu di tahun 2012-2013, karena kami tidak akan melupakan ibu. Sampai jumpa lagi, Bu Rusli, kami sayaaaang sekali sama ibu.

9E, kisah kita akan segera mencapai kalimat terakhirnya. Artinya kita, para karakternya harus segera pergi meninggalkan Nev9Erland. Tahu kah kamu, bahwa satu-satunya cara meninggalkan pulau ini adalah terbang? Maka terbanglah, teman-temanku. Raih cita-cita yang tergantung di antara bintang, pergilah lebih tinggi dari langit. Namun, walau betapa jauh kau sudah terbang, jangan pernah lupakan kelas kita. Jangan pernah lupakan satu tahun penuh keajaiban kita. Karena mungkin, benang-benang takdir 39 anak ini akan kembali terpintal menjadi satu. Ketika itu, kita kan kembali bertemu dan mengulang masa kejayaan kita sebagai satu kelas yang hebat.

Tapi jika boleh memilih, bisakah kita tetap bersama selamanya? Sebagaimana di cerita itu, dimana kita tak akan tumbuh dewasa dan tetap bersama-sama.

See you next time, Nev9Erland. Don't forget us, and never, ever grow up.

Wednesday, July 10, 2013

Seribu Kali

Kisah kita abadi selamanya, dalam sebuah buku bersampul merah.

***

Sayang sayang
Seribu kali sayang
Untuk kalian yang mewarnai
Halaman buku bersampul merah

Untuk kalian 
yang menemani tawaku
Sekaligus tangis pilu
Selama tiga tahun ini

Untuk wajah-wajah familiar
Pemilik-pemilik tanda tangan
Yang menghiasi buku ini
Aku hanya ingin berkata

Sayang, sayang, seribu kali kuucapkan sayangku untuk kalian

Terima kasih Terima kasih
Beribu terima kasihku
Untuk seluruh kisah dan memori
Yang telah kalian berikan padaku

Untuk dia yang menyusuri jalan
Yang sama denganku setiap hari
Terima kasih, sepuluh ribu terima kasih
Untuk kebahagian dan canda yang kau bagi denganku

Untuk dua manusia
Yang menggandengku selama satu tahun
Dan berusaha untuk tidak melepasnya
Satu tahun kemudian
Terima kasih, sepuluh ribu terima kasih
Untuk tidak melepaskan tanganku

Untuk satu orang paling absurd
Hanya ia yang bisa mencampur aduk hatiku
Terima kasih, sepuluh ribu terima kasih
Untuk telah memberiku kesempatan mengecap cinta

Pada 211 manusia
Yang takdirnya terpintal bersama
selama tiga tahun tak terpisah
Aku ingin berkata

Terima kasih, sepuluh juta terima kasihku untuk kalian, yang telah membuat kehidupanku lebih berharga

Maaf, maaf, berpuluh juta maaf
Kepada mereka yang kulukai
Yang tak sengaja kuingkari janjinya
Atau kulupakan perannya

Kepada hati-hati yang tetap sabar
Menghadapi kerasnya arus perubahan
Menatap perpisahan dengan berani
Walaupun dalam hati ketakutan

Takutkah kalian pada perpisahan ini?
Pada sesuatu yang mereka sebut 'akhir'?
Apa kalian pernah merasa ragu
untuk melepaskan pegangan tangan kita
yang telah terjalin tiga tahun?

Aku begitu takut. Sebab buku ini seperti gerbang yang mengunci kepergian kita. Buku kenangan. Pertanda bahwa para pemegangnya hanya bisa mengenang sekarang, karena takdir mencabik kebersamaan mereka dan waktu mencabut ingatan tentangnya, menjadikan 212 anak saling melupakan.

Sayang sayang seribu kali sayang
Terima kasih terima kasih sepuluh ribu terima kasih
Maaf maaf berpuluh ribu maaf
Karena kisah kita hanya sampai di sini
Dan aku tidak bisa mengucapkan puluhan ribu kata lagi
Karena waktuku hanya cukup
Untuk satu lagi kata untuk kalian

Sampai jumpa, sampai jumpa, walau hanya satu sampai jumpa, kuyakin kita akan kembali berjumpa.