Di ujung senja aku berada
Menggengam segelas teh
dengan wajahmu terlukis di atasnya
Pelan, aku menyesapnya
Membiarkan memori tentangmu meresap
Wajahmu terlukis jelas di mataku
Saat kita pertama bertemu
Sebelumnya aku sudah mengenalmu
Tapi siang itu
Aku benar-benar jatuh untukmu
Kuhirup kembali teh di tanganku
Mengingat kekasihmu
Perempuan yang cantik dan cerdas
Sempurna
Kau tampak bahagia dengannya
Selalu tersenyum dengan tulus
Ah, kapan teh ini menjadi pahit?
Aku menghela nafas
Jika mengingatnya, aku jadi ingat
Saat kalian berpisah
Kau sedih, hancur, patah hati
Ia yang kau anggap milikmu
Lepas dari genggaman
Aku pun merasakan kesedihanmu
Hidup memang kejam ya?
No comments:
Post a Comment