Anak panahmu indah seperti bintang. Bercahaya dan berkerlip di ujungnya. Anak panahmu yang jika ditembakkan meninggalkan jalur cahaya sangatlah indah. Sayang, tak semua bisa melihatnya. Mungkin, orang yang bisa melihatnya cuma aku. Mungkin, orang lain melihatnya cuma sebagai panah usang. Mungkin, cuma mungkin lho, panah bintangmu memang ditujukan untukku.
Memang sih tembakanmu meleset. Tapi hei, bukankah rencana hidup memang sering meleset? Daripada meratapi panahmu yang meleset, lebih baik cari tahu kemana jatuhnya, siapa tahu kau bertemu harta karun. Siapa tahu, yang kau temukan lebih bagus dari yang kau bidik. Siapa tahu, panahmu yang meleset menunjukkan takdirmu. Siapa tahu, panah yang kupungut ini adalah yang kau cari.
Dan siapa tahu, aku akan bertemu denganmu
Jika begitu, aku bersyukur memungut panahmu! Kita bisa tertawa seperti dulu. Kita bisa bermain-main lagi! Aku punya cat baru, yuk bermain cat di tembok rumahku! Warnai terbok rumahku dengan pelangi sebagaimana kau mewarnai hatiku. Kita bisa bersama terus. Kita bisa ngobrol sampai bintang bertaburan di atas kita. Dan aku akhirnya bisa bahagia lagi.
Dan mungkin kau akhirnya bisa berhenti meratapi 2 panah lainnya yang kau hilangkan. Mungkin kau bisa tertawa lagi seperti sedia kala. Mungkin akhirnya kau mau berdebat konyol denganku lagi. Mungkin akhirnya matamu kembali bercahaya. Mungkin kau bisa bahagia lagi, seperti sebelum 3 panah bintangmu meleset,
dan satunya dipatahkan sebelum kau gunakan.
Makanya, ayo cari aku. Ayo hampiri panah bintangmu. Aku akan mencoba membuatmu bahagia seperti dulu. Karena aku peduli padamu, dan aku kangen kamu yang dulu!
No comments:
Post a Comment