Ini mengerikan. Namamu tak terasa sama lagi di mulutku.
Nama yang begitu familiar, yang dulu kupanggil setiap hari, yang selalu kuhiasi dengan nada sebal karena pemiliknya yang menyebalkan, sekarang terasa aneh ketika ia bergulir dari lidahku. Apa-apaan ini? Aku tahu sudah 2 bulan sejak terakhir kupanggil namamu. So what? Ini tidak terjadi dengan nama Riana, Aca atau Eta. Ini cuma dengan nama kamu. Apa yang terjadi?
Nama yang dulu kuteriakkan karena pemiliknya mengambil bangau kertasku, sekarang terasa kosong. Dulu, aku menyebut namamu dengan nada sebal, nada tak mau kalah, nada sarkastik, bahkan dengan nada penuh simpati. Sekarang, aku sering menyebut namamu ketika sedang mengobrol namun tak ada nada apapun.
Seakan nama yang kusebutkan adalah nama seorang pejuang yang kubaca dari buku sejarah. Penting namun kubiarkan berlalu. Seakan nama itu adalah nama latin bakteri penyebab gonorhea yang selalu kuingat bukan karena perannya, namun karena sering kudengar dan kubaca. Seakan kamu hanya selembar kertas dari sebuah novel yang kubiarkan berlalu. Atau lirik lagu lama yang begitu mengena di hati namun mulai dilupakan.
Aku nggak mau. Aku nggak mau lupain kamu dan nama kamu. Kamu bukan lembaran masa laluku. Kamu rencana masa depan yang berusaha kucapai. Kamu dan namamu, dengan alasan apapun, tak akan rela kupindahkan ke dalam kotak bertuliskan 'Masa Lalu Yang Membuatku Terluka'
No comments:
Post a Comment