Sudah waktunya aku melihat kamu dan akalku berkata padaku sendiri,
"Kamu bukan siapa-siapa buat dia.
Kamu tidak pernah spesial, seperti dia buat kamu.
Kamu cuma segores tinta di satu halaman buku kehidupannya, tidak seperti dia yang mengisi banyak halaman di buku kehidupanmu.
kamu tidak pernah lebih dari angin yang berlalu.
Myr, dia tidak menginginkan kamu. Makanya, lepaskan dia."
Hati kecilku yang keras kepala menjawab,
"Kata siapa?
Siapa yang bilang aku tidak spesial baginya?
Siapa yang berani jamin halaman yang aku isi di buku kehidupannya tidak sebanyak yang ia isi?
Siapa yang berkata padamu, angin lalu yang ini meninggalkan kesan di hati?
Siapa bilang dia tidak menginginkanmu? Jangan Myr, jangan pernah lepaskan dia!"
Aku pun berkata, "Sialan kau hati, perlukah kau berteriak?"
Tapi tidak ada yang mendengarkanku, seperti biasa. Menyayangimu adalah perang antara akal sehatku dan hati kecilku. Sejauh ini hati masih bisa menang, tapi siapa yang berani menjamin akhirnya aku memihak akal? Toh dari awal aku tidak adil dengan akal, mungkin akhirnya aku akan memihaknya.
Akal kembali berargumen,
"Kamu bukan apa-apa! kamu hanya menyakiti dirimu sendiri kalau terus berharap!
Sadarlah, semua skenario bodoh di kepalamu tak pernah menjadi kenyataan! Dia masih manusia bodoh yang sama, dia menyayangi orang lain dan bukan kamu! Bangunlah dan buka mata, sadari mimpi indahmu bersamanya tak akan terwujud. Dia sama seperti Joy, tidak akan pernah bisa kau capai. Lihat kenyataan, apakah dia masih menyapamu? Tidak Myr tidak! Dia membuangmu, mengapa kau tidak membuangnya?"
"Tahu apa kamu tentang dia?! Tahu apa kamu tentang hatinya? Itu hanya yang kita lihat, mungkin hatinya memilih kamu. Dia memang manusia bodoh, tapi siapa bilang kamu tidak sama bodohnya? kamu sendiri yang bilang jatuh padanya itu hal terbodoh yang pernah kau lakukan. Kamu tidak perlu melakukan satu lagi hal bodoh dengan membuangnya. Ini berbeda dengan saat Joy, jauh berbeda. Dia nyata, dia dekat, dia ada di depanmu. Kamu tidak perlu menghafal tangga mana yang akan dilewatinya untuk melihatnya karena Myr, for once dia nyata. Kamu begitu dekat dengan apa yang kamu inginkan. Kamu ingat senja 1 Maret? itu buktinya. Jangan buang dia, kamu tinggal perlu berjuang sedikit lagi."
"Masa bodoh dengan senja 1 Maret! Hampir satu tahun sejak itu dan tidak terjadi apa-apa! Kamu tau yang kalian punya waktu itu hanya momen. Satu fase. Setelah kamu pergi dan kembali, ia sadar bukan kamu, tapi orang itu."
"Bagaimana jika ia hanya butuh waktu?"
"Berapa banyak yang ia butuhkan? dua tahun? apa dia buta dengan sinyal-sinyal ini?!"
"Diam! diam! diam!!" Aku berteriak frustasi. "Lalu kenapa kalau dia tidak merasakan hal yang sama?! Kita sudah melewati hal seperti ini kan? Belum ada orang yang membalas perasaan-perasaan bodohku dan siapa tahu dia salah satu dari orang-orang itu? Dia itu fase! Secarik kertas dari memoriku! Dia tidak membalas perasaan ini-- dulu, sekarang, tapi kita tidak tahu untuk nanti! Aku tidak akan melepaskannya, tidak lagi. Syukur kalau ia membalas tapi kalau tidak? kita akan menangis bersama seperti dulu-dulu, merutuki satu lagi manusia bodoh yang menambah luka di hatiku. Kalau ia membalas? Heh, kujamin kita bertiga akan bahagia dan akhirnya, akal dan hati akan berhenti bertengkar" aku berhenti dan menghela napas, "Masa bodoh kalau dia butuh waktu 2 tahun, tapi aku tidak akan menunggu selama itu. Waktunya akan tiba, dan aku janji kita akan bahagia. Dengan mendapatkannya, atau melupakannya."
No comments:
Post a Comment