“Nerine,
mau makan kue nggak? Enak lho!” seorang gadis berumur 12 tahun berkata sambil
mengacungkan kue di tangannya. “Oh, udah punya? Yaudah, yang ini buat aku aja
ya!”lanjutnya sambil menggigit kue di tangannya. Mungkin pembicaraan tadi
terdengar normal bagi orang yang tidak melihat Alana secara langsung. Tetapi,
orang-orang yang melihat apa yang baru saja dilakukan Alana pasti akan
mengerutkan kening. Tentu mereka bingung, siapa yang diajak bicara Alana
padahal di depannya hanyalah sebuah kursi kosong. Tapi Alana tak pernah
mengindahkan tatapan-tatapan aneh yang ditujukan padanya. Dia terlalu sibuk
bercanda dengan Nerine.
Alana adalah anak yang istimewa. Selain manis,
ia juga sangat mahir memainkan kuas diatas kanvas. Kemampuan mereka ceritanya
juga sangat baik. Mama Alana pernah berkata padanya bahwa daya imajinasinya
sangat besar, karena itu Alana kecil sudah bisa membuat lukisan yang tidak
terpikirkan teman-temannya. Ketika teman-teman kelas satunya masih mencontoh
gambar mickey mouse atau tweety, Alana menggambarkan seorang anak perempuan
yang belum pernah dilihat siapapun. Anak perempuan itu berambut cokelat ikal
yang jatuh hingga ke pinggangnya. Ia memakai mahkota bunga dan sedang
tersenyum. Walau gambar itu masih sangat sederhana karena Alana masih kelas
satu, teman-temannya memuji Alana dan bertanya-tanya. “Gambar kamu bagus deh
Alana! Tapi itu siapa?” Alana hanya tersenyum dan menjawab “Ini Nerine.”
Tidak ada yang tahu, bahwa sejak kelas 3 SD
Alana memiliki seorang teman khayalan bernama
Nerine. Awalnya, Alana yang selalu sendirian menggambar dirinya sendir dan
seorang teman. Lama-lama ia membayangkan teman itu ada di sekitarnya hingga
suatu hari, Nerine Nampak benar-benar nyata. Alana sangat senang saat itu. Di tengah pelajaran IPS
yang membosankan, ia hanya perlu membayangkan Nerine dan muncullah dia,
menemani Alana hingga pelajaran usai.
Atau, selama yang Alana mau.
Lama-lama, Alana merasa ia membutuhkan teman
dekat yang selalu ada di sekitarnya. Maka, sejak kelas 6 SD ia tidak pernah
menghilangkan Nerine. Ia mulai berbicara secara terbuka pada Nerine seakan ia
nyata dan berhenti bersosialisasi dengan manusia nyata. Mama Alana bilang ia
butuh bantuan dan pikirannya terganggu. Tapi Alana tidak peduli. Yang penting,
sekarang ia tak akan pernah sendiri lagi. Ia akan selalu punya Nerine.
***
Raka tertawa riang di dalam mobil. Bocah 12
tahun itu terlihat seperti ia sedang bercanda dengan sesuatu yang tak kasat
mata. Mamanya hanya menggeleng maklum. Ini kedua kalinya Raka ke rumah sakit
untuk menyembuhkan penyakit mentalnya. Raka merasa Ia memiliki seorang teman
bernama Widi. Mama Raka tidak tahu persisnya kapan dan bagaimana Widi muncul.
Yang dia ingat waktu itu Raka pulang sambil menangis dan berkata “Aku jatuh
dari sepeda dan Widi tidak membantuku berdiri!” Mama yang bingung bertanya,
siapakah Widi? Raka bukan tipe anak yang mudah mendapat teman dan lagi, di
sekitar sini tak ada anak yang bernama Widi. Ketika mama bertanya, Raka hanya
nyengir dan berkata, “Ini ma, ini Widi.” Sambil menunjuk tempat di sebelahnya.
Mamanya kaget dan segera membawa Raka ke seorang psikiater. Kata psikiater,
Raka hanya sedang memiliki teman khayalan dan mamanya tak perlu khawatir.
Suara tawa Raka membuyarkan lamunan mamanya. Ia
menghela napas dan berpikir, “Tak perlu khawatir? Teman-teman Raka berhenti
memiliki teman khayalan 4 tahun yang lalu! Sementara Raka masih terus-terusan
‘berteman’ dengan Widi. Semoga saja dokter yang ini cukup bagus untuk
menghilangkan Widi. Tidak sehat bagi Raka untuk memiliki teman yang tidak
nyata.”
***
Lorong rumah sakit ternama itu sepi kecuali
dari suara langkah kaki seorang anak perempuan mungil. Ia memeluk sebuah boneka
beruang dan menangis sambil terus berjalan. Kepalanya menoleh ke kanan dan
kiri, seperti mencari sesuatu. Pundaknya naik turun sesuai dengan irama isak
tangisnya yang pilu. Bibir mungilnya terus menggumamkan hal yang sama
berkali-kali sejak ia meninggalkan kamar terapinya. “Nerine, sini Nerine.
Nerine, muncullah.” Isak Alana tak henti-henti. Ia tak mengerti apa yang
dilakukan dokter itu hingga ia tak bisa lagi memunculkan Nerine. Jam
menunjukkan pukul 9 malam, tapi Alana tidak berniat tidur sebelum bertemu
Nerine.
Langkah kakinya membawa Alana ke suatu lorong
yang belum pernah ia datangi. Beberapa suster menatapnya dengan raut wajah
kasihan. Melihat dari boneka-boneka yang bergelantungan di atas kepalanya,
mungkin ia berada di dekat bagian dokter anak. “Berarti aku sudah berputar untuk ketiga kalinya. Apa yang harus aku
lakukan untuk bertemu Nerine?” pikirnya. Bukannya Alana belum pernah
kehilangan Nerine sebelumnya. Waktu di kelas 4, ia pernah begitu tenggelam
dalam melukis hingga Nerine menghilang. Tapi, tidak sampai esoknya Alana sudah
bisa memunculkan Nerine lagi. “Dokter itu
jahat sekali. Mengapa ia menghilangkan temanku? Pasti ia tak pernah merasakan
kehilangan sesuatu yang begitu dekat dengannya. Yah, kehilangan Nerine terasa
sakit!” Akhirnya Alana menyerah dan kembali ke kamarnya. Mungkin esok
Nerine akan kembali muncul di hadapannya.
***
Nafas Raka tersenggal-senggal. Ia
sudah berlari cukup lama di sekitar rumah sakit ini. “Widi!” teriaknya lantang.
‘Widi!! Kamu kemana?!” Sejak ia bertemu dokter tadi pagi, Widi menghilang. Ia
tidak mengerti apa yang dilakukan dokter itu, tapi pokoknya dokter menghilangkan
Widi! Ini benar-benar tidak adil, Raka sudah bersama Widi selama yang dia
ingat, mengapa tiba-tiba seseorang mengambil Widi darinya? Raka terus berlari
dan berteriak. Tanpa ia sadari, di depannya ada seorang anak perempuan. Tidak sempat mengerem, Raka menabrakrnya dan
mereka berdua terjatuh.
Raka menatap heran ke arah
perempuan di depannya. Wajahnya mungil dan rambut hitamnya yang ikal diikat ke
belakang. Wajahnya sembab karena menangis. Untuk sesaat Raka mengira ia
menemukan Widi. Tapi yang di depannya bukan Widi, melainkan seorang anak
perempuan yang begitu mirip dengannya. Anak itu mengangkat salah satu alisnya
heran, persis seperti Widi! “Nama kamu siapa?” Raka memberanikan diri bertanya.
“Tolong bilang kalau kamu Widi. Widi yang
nyata.” Batin Raka sementara menunggu anak di depannya menjawab. “Aku
Alana.”
***
Alana menatap anak di depannya bingung, mengapa
ia tampak kecewa? Memangnya ada apa dengan nama Alana? Anak di depannya
langsung membeku ketika Alana menyebutkan namanya. “Kalo kamu, namamu siapa?”
kata Alana menyadarkan anak laki-laki di depannya. “Hah? Eh, aku Raka.” Kata
anak itu terkejut. “Alana, kamu lagi ngapain malem-malem jalan keliling rumah
sakit?” Tanya Raka, memecah hening yang mulai merasuk di antara mereka. “Aku
mencari temanku, namanya Nerine.” Alana menjawab. “Kalo kamu? Ngapain teriak-teriak
malem-malem?”.
“Aku lagi nyari Widi.”
“Widi itu temen kamu?”
“Iya, deket banget sama aku.”
“Widi hilang gara-gara ketemu dokter ya?”
“Kok kamu tau?” Raka terdengar agak kaget.
“Soalnya Nerine juga begitu.” Tandas Alana
sambil menunduk, menahan tangis. “Kalau begitu, yuk kita cari sama-sama!” kata
Raka riang. “Berdua lebih seru kan?” . Alana tertegun. Perlahan, bibirnya
membuat senyuman ragu. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh lengan Raka. “Nyata. Raka beneran manusia.” Pikirnya.
“Nerine, gimana nih? Aku udah lama nggak
temenan sama manusia. Aku takut. Nerine, bantuin dong.” Pikir Alana sambil
menatap Raka yang juga tertegun di depannya. AKhirnya anak laki-laki itu
berdiri dan mengulurkan tangan pada Alana.
***
“Aneh,
tangan Alana terasa berbeda dengan tangan Widi. Tangan Widi terasa seperti
angin sementara Alana.... Alana terasa seperti mama dan papa. Aneh, mengapa
bisa berbeda ya?” Pikiran Widi
berkecamuk di kepalanya. Akhirnya ia menggeleng dan mengenyahkan pikiran tadi
dan mengulurkan tangannya pada Alana. “Aku temenin kamu balik ke kamar. Besok
kita cari Nerine sama Widi lagi ya, sekarang udah malem.” Alana menyambut
tangan itu dan mereka bersama-sama menuju kamar masing-masing.
Hari-hari berikutnya dihabiskan Alana dan Raka
dengan bersama-sama menngelilingi rumah sakit mencari Widi dan Nerine. Kadang,
mereka juga bermain bersama di taman dekat rumah sakit. Raka merasa sangat
nyaman dengan Alana. Seakan, ia tak butuh Widi lagi. Ia punya teman baru yang
baik dan cantik. Ia punya teman yang bisa membuat hatinya berdesir aneh. Raka
tidak tahu nama perasaan ini, tapi Raka tidak mau kehilangan Alana. Ia tidak
mau mata bulat Alana berhenti menatapnya, tangannya yang hangat melepaskan
gandengannya, dan bibirnya berhenti berceloteh padanya. Ia tidak mau Alana
pergi. Maka, suatu hari ia memutuskan untuk mengatakannya,
“Alana, bagaimana kalau kita berhenti mencari?”
Tanya Raka di suatu hari yang cerah. Mereka sedang duduk di taman bersama. “Aku
lelah, dan,” Raka menelan ludah. “Mengapa
sulit sekali mengatakan hal ini?” Raka menghela napas dan melanjutkan, “dan
aku udah nggak butuh Widi. Aku mau sama Alana aja. Mau nggak, kamu sama aku
aja?” akhirnya Raka menyelesaikan kata-katanya. Ia bisa merasakan Alana
menegang dan menggeliat tidak nyaman di sebelahnya. Ia bisa mendengar Alana
berpikir, entah apa. “Raka,” Akhirnya telinga Raka menangkap suara lembut
Alana. “Tapi aku nggak mau sama kamu, aku mau sama Nerine. Maaf Raka, mending
kamu juga lanjutin cari Widi.” Alana menjawab sambil bangkit dari posisi duduk
dan berjalan ke arah rumah sakit lagi. Meninggalkan Raka sendirian di bangku
taman.
Angin berdesir menyentuh tangan Raka. “Dingin, nggak kayak Alana.” Pikirnya. “Sepi sekali tanpa Alana, tidak ada yang
berbicara, tidak ada rambut lembutnya yang tertiup angin dan mengelus pipiku.
Tidak ada senyuman manis, tidak ada tawa, tidak ada Alana. Aku sendirian.”
Raka menghela napas. Pipinya terasa basah dan matanya panas. Ia tertawa
mengejek dirinya sendiri. “Aku sendirian.”
Tiba-tiba raka berdiri dan berlari. “Sendirian! Ha, aku memang ditakdirkan
sendirian!” Ia terus berlari, tanpa disadarinya ia berlari ke arah rumah
sakit di seberang jalan. “Aku tidak
dibutuhkan. Aku tidak penting! Karena ini aku cuma punya Widi!” Tiba-tiba
terdengar suara decitan ban. Tubuh Raka terlempar karena hantaman benda keras
dan mendarat dengan kasar di atas aspal. “Sendirian.
Aku memang harus sendirian.” Pikirnya sebelum ia menutup mata dan
kehilangan kesadaran.
***
Sudah tiga hari Alana tidak melihat Raka. Ini
benar-benar membingungkan. Biasanya jam 8 pagi Raka sudah muncul di kamarnya.
Apa Raka marah padanya? Apa ia agak jahat padanya tiga hari yang lalu? Padahal hari
ini tanggal 13 Maret, hari ulangtahun Raka. Ketika Alana tiba di dekat
kamarnya, ia mendengar mamanya dan dokter berbicara.
“Bu, maaf sekali tapi terapi untuk Alana gagal.”
“Jadi, Nerine akan muncul lagi dan menjadi
teman khayalan Alana lagi?”
Nerine akan muncul? Baguslah, akhirnya ada
berita bagus di antara kesuraman hidup tanpa Raka.
“Mungkin, tapi kita belum tahu.”
Alana sudah tidak mendengarkan pembicaraan itu
lagi, ia berlari ke taman di dekat rumah sakit. Ia akan bertemu Nerine lagi! Ini
menyenangkan sekali. Ketika ia tiba di taman itu, Alana duduk di kursi
panjangnya dan berusaha membayangkan Nerine. Aneh, tapi sekarang rasanya sulit
sekali membayangkan Nerine. Padahal dulu rasanya begitu mudah. Ketika ia
membuka mata, ia melihat sosok yang familiar berdiri di depannya. “Raka?” Alana
tak percaya. “Halo Alana, udah ketemu Nerine?” Raka bertanya ramah sambil
tersenyum manis. “Belum, katanya aku akan ketemu dia lagi. Tapi kapan?”. Raka
tertawa kecil dan mengulurkan tangannya pada Alana. “Ya sudah ayo kita cari
bareng-bareng lagi yuk.”
***
Mama Alana masih berbicara dengan dokter di
kamar Alana.
“Jadi, teman khayalan Alana akan berbeda dari
Nerine?”
“Ya bu, kemungkinan beberapa hari ini Alana
sudah bisa menghilangkan Nerine, jadi mungkin dia sudah lupa detil-detil
Nerine. Maka teman khayalannya akan berubah. Apa ibu mau saya melanjutkan
terapi?
Mama Alana menghela napas dan tersenyum, “Tak
usah lah dok, asalkan Alana bahagia tidak apa-apa. Yang penting ia sehat.”
Tandas mama Alana, tak menyadari anaknya sedang berjalan di koridor bersama
teman khayalan barunya yang serupa dengan Raka.

No comments:
Post a Comment