Kalau bisa memilih, aku ingin seperti perempuan lain, jatuh cinta pada laki-laki yang tampan, pintar, baik, dan sebagainya. Kalau bisa memilihi, jelas jatuh cinta pada mereka terdengar jauh lebih normal daripada jatuh cinta padamu. Jika aku jatuh cinta pada mereka, tiap aku bercerita teman-temanku akan berkata "Iya, dia emang ganteng" dan bukannya "Kenapa harus dia?". Sungguh, aku nggak mau jatuh cinta denganmu. Kamu nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Kamu nggak ganteng, adik kelas kita aja yang agak buta bilang kamu ganteng. Iya sih kamu pintar, tapi sombongnya setinggi langit. Kamu baik kalau ada maunya atau kalaupun bantuin, pasti sambil ngedumel. Alim? kamu jauh dari alim. Kamu juga nggak populer atau menonjol. Pantas saja orang tertawa waktu aku bercerita tentangmu pada mereka.
Lalu kenapa akhirnya aku jatuh padamu? Aku sendiri juga nggak tahu sih. Mungkin nanti aku akan tahu kalau perasaanku berbalas dan kita bersama (Ha ha ha, berapa ribu tahun lagi untuk hal ini terjadi?). Kuberi tahu ya, cinta tidak butuh alasan. Jika memiliki alasan, ketika alasan itu hilang apakah cinta juga ikut hilang? Cinta itu aneh kan? Absurd tapi absolut. Nyata namun semu. Banyak hal dalam kehidupan kita yang tak perlu penjelasan, cinta salah satunya.
jadi, kalau di tanya mengapa aku jatuh cinta padamu, mengapa harus kamu, dan apa bagusnya kamu, aku jawab dengan "Karena dia adalah dia. And nobody can be 'him' better than himself."
jadi, kalau di tanya mengapa aku jatuh cinta padamu, mengapa harus kamu, dan apa bagusnya kamu, aku jawab dengan "Karena dia adalah dia. And nobody can be 'him' better than himself."
No comments:
Post a Comment